Manusia WiFi dan Manusia Tuhan
Oleh : Kaipal Wahyudi.
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Beberapa waktu lalu, Aceh mengalami banjir di sejumlah wilayah yang disertai pemadaman listrik bergilir. Dalam hitungan jam, suasana berubah. Warga berbondong-bondong mencari tempat yang masih memiliki aliran listrik. Warung kopi yang memiliki generator dipenuhi orang. Colokan listrik menjadi rebutan. Ketika baterai telepon genggam hampir habis, banyak orang rela berpindah tempat hanya untuk mengisi daya. Di lokasi lain, masyarakat berburu titik yang masih memiliki sinyal internet atau jaringan WiFi agar tetap dapat menghubungi keluarga, memperoleh informasi, atau sekadar memastikan bahwa mereka masih terhubung dengan dunia.
Reaksi itu tentu sangat wajar. Dalam situasi bencana, listrik dan internet bukan lagi sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan penting. Melalui jaringan komunikasi, masyarakat dapat meminta pertolongan, memperoleh informasi resmi, mengetahui perkembangan cuaca, atau memastikan keselamatan anggota keluarga. Teknologi telah menjadi bagian dari sistem penyelamatan hidup manusia modern.
Namun, di balik peristiwa itu muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama. Mengapa kita begitu panik ketika kehilangan sinyal internet, tetapi sering kali tetap tenang ketika hubungan kita dengan Allah mulai melemah? Mengapa baterai telepon genggam yang hampir habis membuat kita segera mencari colokan listrik, sedangkan hati yang mulai kosong dari zikir, doa, dan salat sering kali tidak menghadirkan kegelisahan yang sama?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Teknologi bukan musuh. Internet, listrik, telepon pintar, bahkan kecerdasan buatan merupakan nikmat Allah yang dapat digunakan untuk kemaslahatan. Persoalannya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada orientasi hidup manusia modern yang perlahan berubah. Kita begitu disiplin menjaga koneksi digital, tetapi sering kali kurang disiplin menjaga koneksi spiritual.
Fenomena itu menggambarkan apa yang dapat disebut sebagai “Manusia WiFi”. Ini bukan istilah ilmiah, melainkan metafora untuk menggambarkan manusia yang kehidupannya sangat bergantung pada konektivitas digital. Hari dimulai dengan memeriksa notifikasi. Ketenangan diukur dari kuat atau lemahnya sinyal internet. Kebahagiaan sering kali ditentukan oleh jumlah tanda suka, komentar, dan pengikut di media sosial. Kehidupan perlahan bergerak mengikuti ritme algoritma.
Sebaliknya, “Manusia Tuhan” adalah manusia yang menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidupnya. Ia menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi. Ia memanfaatkan internet sebagai sarana mencari ilmu, berdakwah, bekerja, dan membantu sesama, tetapi ketenangan hidupnya tidak bergantung pada jaringan WiFi. Ketika hati terasa kosong, yang pertama kali ia cari bukan colokan listrik, melainkan sajadah. Ketika hidup terasa sempit, yang ia perbaiki bukan hanya koneksi internetnya, tetapi juga hubungan dengan Tuhannya.
Perbedaan keduanya sesungguhnya bukan soal teknologi, melainkan soal arah ketergantungan.
Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia hidup secara sangat mendasar. Internet tidak lagi sekadar alat komunikasi. Ia telah menjadi ruang tempat manusia bekerja, belajar, berbelanja, membangun relasi, bahkan membentuk identitas sosialnya. Sosiolog Manuel Castells menyebut masyarakat hari ini sebagai network society, yaitu masyarakat yang dibangun di atas jaringan informasi. Kehadiran seseorang tidak hanya ditentukan oleh keberadaan fisiknya, tetapi juga oleh eksistensinya di ruang digital.
Perubahan ini menghadirkan manfaat luar biasa. Akses ilmu pengetahuan menjadi semakin terbuka. Dakwah dapat menjangkau jutaan orang hanya melalui satu siaran langsung. Pendidikan berkembang melampaui batas geografis. Pelayanan kesehatan memanfaatkan teknologi digital. Bahkan kecerdasan buatan kini membantu penelitian, analisis data, hingga pengembangan ilmu pengetahuan.
Namun, setiap kemajuan selalu membawa konsekuensi.
Di balik kemudahan itu, manusia juga menghadapi tantangan baru berupa ketergantungan digital, kecanduan media sosial, penyebaran informasi palsu, hilangnya privasi, serta semakin berkurangnya ruang untuk merenung. Banyak penelitian psikologi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, kesepian, depresi, dan menurunnya kualitas interaksi sosial, terutama apabila media sosial hanya digunakan secara pasif tanpa interaksi yang bermakna.
Ironinya, semakin mudah manusia terhubung dengan seluruh dunia, belum tentu semakin dekat dengan orang-orang yang berada di sampingnya.
Pemandangan seperti ini kini menjadi hal biasa. Satu keluarga duduk di meja makan, tetapi masing-masing sibuk menatap layar telepon genggam. Mereka berada dalam ruangan yang sama, tetapi sebenarnya hidup di dunia yang berbeda. Percakapan digantikan notifikasi. Tatapan mata digantikan layar. Kehadiran fisik tidak lagi menjamin kedekatan emosional.
Teknologi yang semula diciptakan untuk mendekatkan manusia justru kadang menghadirkan jarak yang tidak terlihat.
Yang lebih mengkhawatirkan, manusia perlahan mulai menggantungkan rasa aman pada algoritma. Apa yang dibaca, ditonton, dipercaya, bahkan diinginkan, semakin banyak dipengaruhi oleh sistem digital yang terus mempelajari perilaku pengguna. Dalam ekonomi digital modern, perhatian manusia telah menjadi komoditas paling berharga. Platform digital berlomba mempertahankan pengguna selama mungkin karena semakin lama seseorang berada di depan layar, semakin besar keuntungan ekonomi yang diperoleh.
Di sinilah pertanyaan besar muncul. Apakah manusia masih mengendalikan teknologi, atau justru teknologi mulai mengendalikan manusia?
Islam sejak awal tidak pernah memusuhi ilmu pengetahuan maupun teknologi. Justru ayat pertama yang turun adalah perintah membaca. Peradaban Islam pernah mencapai masa keemasan karena umatnya mengembangkan ilmu pengetahuan, astronomi, kedokteran, matematika, dan filsafat. Namun, seluruh perkembangan ilmu itu selalu ditempatkan dalam kerangka tauhid. Ilmu adalah sarana, bukan tujuan. Teknologi adalah wasilah, bukan ghayah.
Karena itu, persoalan utama bukanlah seberapa canggih teknologi yang dimiliki manusia, melainkan apakah teknologi itu semakin mendekatkan manusia kepada kemaslahatan atau justru menjauhkannya dari Tuhan.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat sederhana tetapi mendalam. Ketenangan sejati tidak lahir dari kuatnya sinyal internet, penuh tidaknya baterai telepon genggam, atau cepatnya jaringan WiFi. Semua itu hanya memberikan kemudahan teknis. Adapun ketenteraman batin hanya lahir ketika hati tetap terhubung dengan Allah.
Internet mampu menghubungkan manusia dengan manusia lain, tetapi tidak mampu menghubungkan manusia dengan makna hidupnya.
Teknologi dapat menjawab pertanyaan “bagaimana”, tetapi tidak selalu mampu menjawab pertanyaan “mengapa”. Mesin dapat menyajikan miliaran informasi dalam hitungan detik, tetapi tidak mampu menjelaskan arti pengorbanan, keikhlasan, cinta, penderitaan, ataupun kehidupan setelah kematian. Semua itu berada di wilayah yang hanya dapat dijangkau oleh hati, akal yang jernih, dan petunjuk wahyu.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara Manusia WiFi dan Manusia Tuhan.
Manusia WiFi selalu memastikan perangkatnya terhubung dengan jaringan.
Manusia Tuhan selalu memastikan hatinya terhubung dengan Allah.
Manusia WiFi gelisah ketika kehilangan sinyal.
Manusia Tuhan gelisah ketika kehilangan kekhusyukan.
Manusia WiFi takut tertinggal informasi dunia.
Manusia Tuhan takut tertinggal petunjuk dari Tuhannya.
Manusia WiFi mengejar validasi manusia.
Manusia Tuhan mengejar keridaan Allah.
Perbedaan ini bukan ajakan menolak teknologi. Justru sebaliknya. Teknologi harus dimanfaatkan secara maksimal untuk sarana dakwah, pendidikan, penelitian, ekonomi, pelayanan publik, dan kemaslahatan umat. Internet dapat menjadi jalan menyebarkan ilmu. Kecerdasan buatan dapat membantu penelitian. Media sosial dapat memperluas silaturahmi. Semua itu adalah peluang besar apabila digunakan secara benar.
Yang harus dijaga adalah jangan sampai alat berubah menjadi tujuan.
Sejarah menunjukkan bahwa peradaban runtuh bukan karena kekurangan teknologi, tetapi karena kehilangan nilai. Bangsa yang memiliki teknologi tinggi tetapi miskin moral akan menghadapi krisis kepercayaan. Sebaliknya, masyarakat yang mampu memadukan ilmu pengetahuan dengan akhlak akan memiliki fondasi yang lebih kokoh menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, tantangan pendidikan abad ke-21 tidak cukup hanya meningkatkan literasi digital. Yang jauh lebih penting adalah memperkuat literasi etika dan literasi spiritual. Anak-anak perlu diajarkan cara menggunakan internet secara bijaksana, memverifikasi informasi, menjaga privasi, menghormati orang lain di ruang digital, sekaligus memahami bahwa harga diri mereka tidak ditentukan oleh jumlah pengikut atau tanda suka, melainkan oleh karakter dan akhlaknya.
Bagi umat Islam, keseimbangan itu dimulai dari hal-hal yang sederhana. Menjadikan salat sebagai prioritas, bukan aktivitas yang dikerjakan ketika sempat. Membaca Al-Qur’an setiap hari, bukan hanya ketika ada musibah. Membiasakan zikir sebagai penenang hati, bukan sekadar amalan setelah selesai salat. Memanfaatkan teknologi untuk memperluas manfaat, bukan sekadar menghabiskan waktu tanpa arah.
Bayangkan jika semangat kita menjaga hubungan dengan Allah sama besarnya dengan semangat menjaga koneksi internet. Ketika hati mulai jauh dari Allah, kita segera memperbaikinya sebagaimana kita segera mencari sinyal ketika jaringan telepon hilang. Ketika ibadah mulai berkurang, kita merasa gelisah sebagaimana ketika baterai telepon genggam hampir habis. Ketika sehari berlalu tanpa membaca Al-Qur’an, kita merasa kehilangan sebagaimana ketika sehari tidak membuka telepon genggam.
Itulah keseimbangan yang dibutuhkan manusia modern.
Pada akhirnya, manusia tidak akan dihisab berdasarkan seberapa cepat internet yang pernah digunakannya, seberapa mahal telepon genggam yang dimilikinya, atau seberapa banyak pengikut di media sosial. Yang akan dipertanggungjawabkan adalah iman, amal saleh, kejujuran, akhlak, dan bagaimana seluruh nikmat, termasuk teknologi, digunakan selama hidup di dunia ini.
Suatu hari nanti, listrik akan padam. Perangkat akan rusak. Jaringan internet akan kehilangan arti. Tidak ada WiFi yang menemani manusia di alam kubur. Tidak ada algoritma yang menjawab pertanyaan malaikat. Tidak ada kecerdasan buatan yang menggantikan amal saleh.
Yang tetap menyertai manusia hanyalah iman, ilmu yang bermanfaat, amal kebajikan, dan hubungan yang terus dijaga dengan Allah SWT.
Karena itu, di tengah derasnya arus digitalisasi, marilah menjadi manusia yang menguasai teknologi tanpa dikuasai teknologi; manusia yang cerdas secara intelektual tanpa kehilangan kejernihan moral; manusia yang aktif di ruang digital tanpa kehilangan kedalaman spiritual. WiFi memang menghubungkan kita dengan dunia. Namun hanya iman yang menghubungkan kita dengan tujuan hidup yang sesungguhnya. Pada akhirnya, kualitas manusia tidak ditentukan oleh seberapa kuat sinyal WiFi yang dimilikinya, melainkan oleh seberapa kuat ia menjaga hubungan dengan Allah. Sebab, jika WiFi menghubungkan manusia dengan dunia yang sementara, maka iman menghubungkan manusia dengan kehidupan yang abadi.












