Peran Sastra dalam Kemajuan Bangsa

(Indonesia di Ambang Kemajuan atau Krisis?)
Oleh: Nuyang Jaimee
Indonesia sedang berdiri di sebuah ambang. Dari kejauhan, negeri ini tampak bergerak dengan langkah yang meyakinkan: jalan-jalan tol membelah pulau, gedung-gedung menjulang menantang langit, teknologi merambah hingga desa. Kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dan berbagai capaian ekonomi dipamerkan sebagai bukti kemajuan.
Namun, di balik gemerlap statistik dan optimisme pembangunan, ada pertanyaan yang jauh lebih sunyi sekaligus lebih penting: benarkah kita sedang maju, atau justru sedang berjalan menuju sebuah krisis yang tidak segera kita sadari?
Barangkali, sebuah bangsa tidak pernah benar-benar berada di persimpangan jalan. Ia lebih menyerupai seorang pejalan yang terus melangkah di atas jembatan berkabut: satu kaki masih berpijak pada kenangan, sementara kaki lainnya mencari masa depan yang belum sepenuhnya tampak.
Di sanalah Indonesia berada hari ini—di antara harapan yang menyala dan kegelisahan yang diam-diam tumbuh seperti lumut di dinding sejarah.
Kemajuan sering kali diukur dengan angka. Pertumbuhan ekonomi, investasi, indeks pembangunan, dan berbagai indikator lain menjadi bahasa resmi sebuah bangsa. Padahal sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan angka, melainkan karena kehilangan jiwa.
Bangsa-bangsa besar dalam sejarah dunia tidak hanya dikenang karena kekuatan ekonominya, tetapi juga karena kemampuannya menjaga nilai, kebudayaan, kemanusiaan, dan akal sehat.
Sebab angka hanyalah denyut nadi, bukan keseluruhan kehidupan. Grafik dapat menjelaskan pertumbuhan, tetapi tidak pernah mampu mengukur seberapa jauh nurani masih dipelihara. Neraca dapat menghitung keuntungan, tetapi tak sanggup mencatat berapa banyak kejujuran yang hilang dalam perjalanan menuju kemakmuran.
Indonesia hari ini menghadapi paradoks yang tidak sederhana. Di satu sisi, akses informasi semakin terbuka. Setiap orang dapat berbicara kepada dunia hanya melalui sebuah telepon genggam. Akan tetapi, semakin deras informasi mengalir, semakin sulit pula membedakan antara pengetahuan dan kebisingan.
Media sosial telah menjadi ruang tempat kebenaran sering kalah cepat dibanding sensasi. Opini lebih mudah dipercaya daripada fakta. Kemarahan menjadi komoditas yang paling laris diperjualbelikan.
Kita hidup pada zaman ketika suara berlimpah, tetapi percakapan semakin langka. Semua orang ingin didengar, sedikit yang bersedia memahami. Kata-kata beterbangan seperti debu di musim kemarau; memenuhi udara, tetapi tidak selalu menumbuhkan kehidupan. Krisis terbesar bukanlah ketika masyarakat tidak memiliki suara, melainkan ketika semua orang berbicara tanpa lagi mau mendengar.
Di sinilah peran sastra sesungguhnya memperoleh relevansinya. Sastra tidak pernah sekadar merangkai kata-kata indah. Ia adalah latihan menjadi manusia. Melalui puisi, novel, cerita rakyat, maupun drama, manusia belajar memahami penderitaan orang lain, belajar meragukan kesombongan dirinya sendiri, dan belajar melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Ketika sastra semakin dipinggirkan, sesungguhnya kita sedang kehilangan ruang untuk memelihara empati.
Sastra adalah ingatan panjang sebuah bangsa. Ia menyimpan air mata yang tidak pernah masuk arsip negara, menyimpan suara-suara kecil yang tak terdengar oleh mikrofon kekuasaan, dan menjaga kemanusiaan agar tidak hanyut dalam derasnya arus zaman. Bangsa yang kehilangan sastra sesungguhnya sedang kehilangan cermin untuk melihat wajahnya sendiri.
Kemajuan teknologi memang tidak dapat dihindari. Bahkan kecerdasan buatan telah mulai menggantikan berbagai pekerjaan yang dahulu dianggap hanya dapat dilakukan manusia. Akan tetapi, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah perjalanan tetaplah manusia. Sebuah bangsa yang berhasil mengembangkan teknologi tetapi gagal membangun karakter akan menghasilkan mesin yang semakin canggih. namun hati yang semakin kosong.
Teknologi mampu mempercepat langkah manusia, tetapi tidak selalu memperdalam kebijaksanaannya. Kita dapat menjangkau dunia hanya dalam hitungan detik, namun tetap gagal menjangkau sesama yang duduk di samping kita. Ironi terbesar abad ini bukanlah mesin yang semakin pintar, melainkan manusia yang perlahan lupa merawat jiwa.
Hari ini kita menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan. Bahasa semakin kasar, perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan, budaya membaca menurun, sementara budaya bereaksi tumbuh tanpa kendali. Banyak orang merasa mengetahui segalanya hanya karena membaca beberapa potong informasi. Padahal pengetahuan sejati selalu lahir dari kerendahan hati untuk terus belajar.
Indonesia juga sedang menghadapi tantangan kebudayaan yang tidak kalah besar. Modernisasi sering disalahartikan sebagai meninggalkan akar tradisi. Padahal kebudayaan bukanlah penghambat kemajuan, melainkan fondasi yang membuat kemajuan memiliki arah. Pohon yang tinggi hanya dapat tumbuh apabila akarnya kuat. Bangsa yang melupakan akar budayanya akan mudah terombang-ambing oleh setiap angin perubahan global.
Peradaban bukan dibangun dari beton semata, melainkan dari ingatan kolektif yang diwariskan lintas generasi. Ketika bahasa ibu mulai dianggap usang, ketika kesenian hanya diperlakukan sebagai hiburan, dan ketika tradisi kehilangan martabatnya, sesungguhnya yang sedang retak bukan masa lalu, melainkan masa depan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika keberhasilan hanya diukur dari kemampuan menguasai pasar, sementara kemampuan menjaga nurani dianggap tidak lagi penting. Pendidikan berlomba menghasilkan tenaga kerja, tetapi belum tentu menghasilkan manusia yang bijaksana. Sekolah mengajarkan cara bersaing, namun sering lupa mengajarkan cara hidup bersama.
Sesungguhnya sebuah bangsa tidak sedang mengalami krisis ketika ekonominya melemah. Bangsa mengalami krisis ketika kejujuran menjadi barang langka, ketika korupsi dianggap biasa, ketika kebencian diwariskan lebih cepat daripada kasih sayang, ketika budaya malu menghilang, dan ketika kekuasaan lebih dihormati daripada kebenaran.
Krisis yang paling sunyi bukanlah suara gedung yang runtuh, melainkan runtuhnya kepercayaan antar manusia. Sebab ketika kepercayaan lenyap, hukum kehilangan wibawa, demokrasi kehilangan makna, dan kebangsaan tinggal menjadi slogan yang diulang tanpa penghayatan.
Namun, harapan Indonesia belum pernah benar-benar padam. Harapan itu hidup di ruang-ruang kecil yang sering luput dari pemberitaan: di tangan guru yang tetap mengajar dengan penuh pengabdian; di perpustakaan desa yang terus membuka pintu bagi anak-anak; di komunitas sastra yang merawat bahasa ibu; di seniman yang tetap berkarya tanpa sorotan; di petani yang menjaga tanahnya; di pemuda yang memilih membangun daripada mencaci. Mereka mungkin tidak memenuhi layar televisi, tetapi merekalah denyut kehidupan bangsa.
Mereka adalah akar yang bekerja dalam diam. Tidak selalu tampak, tetapi merekalah yang menahan pohon Indonesia agar tidak tumbang diterpa badai zaman.
Bangsa ini sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar: keberagaman. Dari ribuan pulau, ratusan bahasa daerah, dan beragam tradisi lahirlah kekayaan yang tidak dimiliki banyak negara. Tantangannya bukan sekadar mempertahankan keberagaman itu sebagai slogan, melainkan menjadikannya sumber kebijaksanaan bersama. Indonesia tidak dibangun agar semua orang menjadi sama, melainkan agar perbedaan dapat hidup berdampingan dalam rasa saling menghormati.
Pertanyaan “Indonesia di ambang kemajuan atau krisis?” pada akhirnya bukanlah pertanyaan tentang negara semata. Pertanyaan itu adalah cermin yang diarahkan kepada setiap warga negaranya. Sebab negara bukanlah gedung pemerintahan, bukan pula sekadar wilayah di peta. Negara adalah kumpulan nilai yang hidup dalam perilaku rakyatnya setiap hari.
Apabila kita masih mampu menjaga kejujuran di tengah godaan, merawat kebudayaan di tengah globalisasi, memelihara nalar di tengah banjir informasi, serta mempertahankan kemanusiaan di tengah derasnya perkembangan teknologi, maka ambang yang sedang kita pijak adalah gerbang menuju kemajuan.
Namun apabila kita membiarkan kebencian mengalahkan persaudaraan, membiarkan keserakahan menggantikan keadilan, serta membiarkan kebudayaan dan akal sehat terkikis oleh euforia sesaat, maka tanpa kita sadari ambang itu akan berubah menjadi tepi jurang.
Indonesia belum ditentukan oleh masa lalunya. Ia juga belum dijamin oleh masa depannya. Nasib bangsa ini sedang ditulis setiap hari—oleh pilihan-pilihan kecil yang kita anggap biasa, oleh keberanian mempertahankan kebenaran ketika lebih mudah berdiam diri, dan oleh kesediaan menempatkan kemanusiaan di atas segala kepentingan.
Pada akhirnya, kemajuan bukanlah perlombaan mencapai langit, melainkan kesanggupan untuk tetap membumi. Sebab langit yang tinggi tidak akan berarti apabila tanah tempat berpijak kehilangan kesuburannya; dan masa depan yang cemerlang tak akan pernah lahir dari bangsa yang melupakan akar, bahasa, serta nuraninya sendiri.
Kemajuan yang sejati bukanlah ketika langit dipenuhi gedung-gedung tinggi, melainkan ketika hati manusia tetap memiliki tempat bagi sesamanya. Sebab sebuah bangsa tidak menjadi besar hanya karena mampu membangun kota-kota megah, tetapi karena mampu menjaga martabat manusia yang hidup di dalamnya.
Mungkin Indonesia memang sedang berdiri di ambang. Namun ambang itu bukanlah takdir, melainkan pilihan. Dan sejarah, sebagaimana selalu ia lakukan, kelak akan mencatat bukan seberapa tinggi kita membangun negeri ini, melainkan seberapa dalam kita memelihara kemanusiaannya.
BIONARASI
NUYANG JAIMEE
Mengawali karir berkesenian melalui proses teater sekitar tahun 2000an. Lalu menulis cerpen dan puisi, cerpen-cerpennya masuk di beberapa media massa besar di Jakarta, daerah dan majalah sastra, antologi cerpen bersama dalam dan luar negeri. Begitu juga puisi-puisinya yang tersebar di berbagai antologi bersama lokal dan luar negeri. Bergabung di komunitas sastra Wanita Penulis Indonesia (WPI) dan Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ). Pendiri dan Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI), pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Sampai saat ini aktif di berbagai pertemuan dan event kesenian, sebagai entertainer, pemain teater, monolog, sutradara, pemerhati dan aktifis teater dan sastra. Sebagai penulis esai, cerpen, puisi, naskah drama, skenario dan sebagai guru (pengajar/pelatih) seni di sekolah, performer dan pembaca puisi, narasumber, moderator sekaligus Master of Ceremony. Juara satu lomba baca puisi se-Asia Tenggara di Malaysia dalam acara ZKMUA. Juara dua lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa (lukisan) oleh Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya” terbit tahun 2023.












