Artikel · Potret Online

Rethinking dan Reculture, bagi Aceh Pasca-Bencana

Penulis M. Azril ihksan
Juni 13, 2026
3 menit baca 29
Disunting Oleh

Oleh M. Azril ihksan

Mahasiswa UIN Ar-Raniry

IMG_1557

*(Foto bulan Januari/2026: Saya tengah berada di kampung Sukajadi yang telah hancur.)

Rethinking, di Januari

Pada bulan Januari lalu, Saya menaruh pemikiran konsep ‘Rethinking’ pada masyarakat Pasca-Bencana di Aceh Tamiang di media lain. Judulnya “Rethinking, Pasca Bencana bagi Masyarakat Aceh Tamiang.”

IMG_1555

Tulisan sebelumnya hasil diskusi kami, para tetangga tepatnya di teras rumah saya. Kondisi saat itu belum stabil. Bantuan pangan, sandang, dan papan masih banyak dibutuhkan. Akses jalan penuh lumpur, abu tanah berterbangan di mana-mana dan orang-orang lemas (lemah semangat dan pikiran). 

*(foto:bulan Januari/2026: Saya tengah terlibat pembicaraan di posko tepatnya, di dusun kebun tengah

Kami menawarkan konsep rethinking dari Arkoun, sebagai upaya peninjauan kembali terhadap apa yang terjadi dalam konteks kebencanaan. Lebih jelasnya dan singkatnya, terkait dengan tata pikir dan tata sikap yang mesti dibangun untuk menghadapi kesulitan saat itu. 

Reculture, di bulan Juni

Pemikiran saya untuk mematau kebencanaan di Tanah Muda sedia tak terlupakan. Mendengar narasi dari teman-teman dan membaca berita-berita update terus menerus untuk mengabarkan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. 

Saya menawarkan Reculture” untuk  masyarakat Aceh, khususnya Aceh Tamiang. Reculturebermaksud menata ulang kebiasaan (budaya) masyarakat untuk menghadapi bencana. 

Budaye/Kebiasaan yang ditata ulang yakni:

1) Kebiasaan mempersiapkan logistik, seperti makanan, minuman dan lainnya ketika masa turun hujan lebat lebih dari 3 hari tanpa henti.  

2) kebiasaan menuju tempat yang selamat dari area banjir. jika masa hujan 5 hari tanpa henti. 

3) Kebiasaan berbagi makanan, minuman dan lainnya saat bencana datang dan menutup segala akses penting.

Kebiasaan ini dapat berkembang lagi poin-poinya. Saya juga terbatas dalam memadang budaya-budaya yang wajib terwujud. Penulis sangat berharap masyarakat dapat menenun lagi culture lainnnya. 

Embrio Konsep Reculture 

Konsep Reculture yang saya bangun merupakan hasil dari peleburan pemikiran dari Fauzan Santa. Fauzan Santa merupakan dosen saya sendiri, Budayawan, sekaligus teman diskusi kadang kala. 

Dalam wawancara “Rehab dan Rekon Pasca bencana” di Kompas Aceh, Fauzan Santa mengatakan:

“Ada namanya, konsep Daulat Alam. Bermakna, Kekuasaan Alam terhadap kita. Namun, manusia punya kuasa sikap juga terhadap alam, ternamalah budaya.”

Beliau melihat dari budaya di simelue yang menyelamatkan mereka saat tsunami melanda. Budaya Simeulue salah satunya berupa hikayat yang berisi ajaran-ajaran untuk menghadapi bencana itu. 

Jauh sedikit beliau melihat di negeri Jepang. Masyarakatnya sudah tertanam sikap untuk menghadapi bencana gempa yang rawan terjadi. Jadi mereka, “slow-slow saja dan gak bingung mau kemana,” ujar Fauzan Santa. 

Saya berharap dengan konsep Reculture ini melahirkan kebudayaan yang rasional dan adaptif dalam menghadapi bencana. Masyarakat Aceh tidak menjadi bingung dan jelas arah pikiran dan tindakannya saat menghadapi peristiwa bencana banjir besar.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
M. Azril ihksan
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...