• Latest
Kadis Kesehatan Itu Gugur di Meja Kerja - d9afd9ba 2722 40a2 9662 0880763c7056 | Cerpen | Potret Online

Kadis Kesehatan Itu Gugur di Meja Kerja

Februari 20, 2026
87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00

Duel Jenderal Hormuz dan Panglima Khalid bin Walid di Padang Kazimah

April 4, 2026
IMG_0613

Ayo Bangun (Kembali) Perpustakaan Desa

April 4, 2026
IMG_0609

Potret Pasar Beureunuen Milik Pedagang Lokal, dari Emping Melinjo, Janeng, dan Harapan Masa Depan

April 4, 2026
IMG_0607

Jejak Kepemimpinan yang Tak Pernah Hilang

April 4, 2026
7f7fbc5d-9b97-4f14-8bef-58a31e1ca929

MBG Bisa Saja Menjadi Bumerang atau Superhero Bagi Prabowo

April 4, 2026
416b45de-9028-4737-a1d5-13db60be4b6a

Nakesya Azkia Sakhi’s Experience As A National Fencing Athlete from Aceh

April 4, 2026
IMG_0602

Dunning-Kruger dan Kisah Perampok Tak Kasat Mata 

April 3, 2026
IMG_0601

Ketika Pecinan Menjadi Panggung Akulturasi Nusantara

April 3, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 4, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Kadis Kesehatan Itu Gugur di Meja Kerja - d9afd9ba 2722 40a2 9662 0880763c7056 | Cerpen | Potret Online

Kadis Kesehatan Itu Gugur di Meja Kerja

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Februari 20, 2026
in Cerpen
Reading Time: 3 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Berdasarkan kisah nyata. Di saat libur pun tidak tetap kerja. Malang, saat di ruang kerjanya, kisah hidupnya berakhir. Simak cerpennya sambil seruput Koptagul, wak!

Selasa itu, 17 Februari 2026, pukul 15.30 WITA, waktu seperti patah di sebuah ruangan sederhana di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah. Di luar, dunia berjalan biasa saja. Orang-orang menikmati libur Imlek. Anak-anak tertawa. Toko-toko sebagian tutup. Langit Praya biru, tak memberi tanda apa-apa.

Baca Juga:
  • Di Ujung Magrib
  • Jalan yang Kita Pilih
  • Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Di dalam ruangan itu, seorang lelaki masih bekerja. Namanya Dr H Suardi SKM MPH. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah. Gelarnya panjang, jabatannya tinggi, tapi hidupnya sederhana. Meja kayu penuh berkas, cangkir kopi yang mulai dingin, dan mata yang tak pernah benar-benar lepas dari tanggung jawab.

Hari itu seharusnya ia di rumah. Bersama keluarga. Beristirahat. Tetapi ia memilih masuk kantor. Ada program penguatan puskesmas yang harus ia cek ulang. Ada laporan pelayanan kesehatan masyarakat yang perlu ditandatangani. Ada evaluasi pengendalian penyakit yang tak boleh tertunda. Baginya, sakit dan sehat warga Lombok Tengah tidak mengenal tanggal merah.

Ia datang pagi itu dengan langkah seperti biasa. Menyapa satpam. Tersenyum pada staf yang heran melihatnya hadir di hari libur nasional.

“Sebentar saja,” katanya pelan. “Biar cepat selesai.”

Ia memang begitu. Dikenal sebagai sosok pekerja keras. Disiplin. Tak segan turun langsung ke lapangan. Pernah ia berdiri di halaman puskesmas desa yang becek oleh hujan, hanya untuk memastikan alat kesehatan sampai tepat waktu. Pernah ia duduk bersama warga, mendengar keluhan tentang antrean panjang dan kekurangan tenaga medis. Ia bukan tipe pejabat yang nyaman di balik meja. Ia turun. Ia mendengar. Ia bergerak.

Siang menjelang sore. Jam mendekati 15.30 WITA. Ia masih menatap layar komputer. Tangannya memegang pena. Ada satu dokumen lagi yang perlu ia paraf. Satu saja lagi.

Lalu dunia tiba-tiba berguncang tanpa suara.

Tubuhnya mendadak lemas. Pandangannya mengabur. Pena terlepas dari genggaman. Kursi berderit pelan, seolah menjerit. Dalam detik yang terasa panjang seperti musim kemarau, ia jatuh dari kursinya.

“Pak! Pak!”

Suara panik memecah ruangan. Rekan-rekan berlari. Mereka mengangkat tubuhnya yang tadi masih tegak, kini terkulai. Mereka memanggil namanya berulang-ulang, seakan nama itu bisa menariknya kembali. Upaya pertolongan dilakukan secepat mungkin. Nafasnya dicari. Denyutnya diraba.

Ia segera dibawa ke RS Adikarsa Praya. Ambulans melaju menembus sore yang tak tahu sedang mengantar sebuah perpisahan. Di dalamnya, harapan dan ketakutan berkelahi dalam diam.

Namun takdir telah lebih dulu mengetuk. Nyawanya tidak tertolong. Dugaan sementara, serangan jantung. Begitu singkat kalimat itu. Begitu berat maknanya.

Seorang kepala dinas kesehatan, yang sepanjang hidupnya mengoordinasikan pelayanan kesehatan daerah, menggerakkan kampanye kesehatan masyarakat, memperkuat fasilitas kesehatan, justru tak sempat menyelamatkan jantungnya sendiri. Ia menjaga ribuan nyawa, tapi tak pernah mengeluh tentang lelahnya. Ia memastikan puskesmas siap melayani, tapi tubuhnya diam-diam menyimpan kelelahan yang tak pernah ia bagi.

Kabar itu menyebar cepat ke seluruh Lombok Tengah. Pemerintah daerah menyampaikan duka mendalam. Di kantor-kantor, kepala-kepala tertunduk. Di puskesmas, tenaga kesehatan menahan tangis di balik masker mereka. Beberapa mungkin teringat wajahnya yang tersenyum saat sidak. Beberapa mungkin teringat nasihatnya yang tegas tapi hangat.

Masyarakat kehilangan bukan hanya seorang pejabat, tetapi seorang pelayan. Seorang figur yang berdedikasi tinggi hingga akhir hayat. Seorang yang ramah, dekat dengan pegawai dan warga, yang tak segan turun langsung melihat kondisi lapangan.

Di rumahnya, kesunyian lebih menyayat darip berita apa pun. Hari libur yang semestinya penuh canda berubah menjadi ruang duka. Ada kursi makan yang kosong. Ada ponsel yang tak lagi berdering dengan suaranya. Ada keluarga yang menunggu langkah kaki yang tak pernah kembali.

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

Barangkali pagi itu ia sempat berpamitan singkat. Barangkali ia berkata, “Sebentar saja ke kantor.” Siapa yang menyangka, “sebentar” itu adalah selamanya?

Semoga Tuhan membalas setiap lembur yang ia sembunyikan. Semoga setiap keringatnya menjadi saksi di hadapan langit. Semoga air mata yang jatuh hari ini menjadi doa paling jujur untuknya.

ADVERTISEMENT

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

SummarizeShare234Tweet147
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Related Posts

87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00
Artikel

Duel Jenderal Hormuz dan Panglima Khalid bin Walid di Padang Kazimah

April 4, 2026
IMG_0613
perpustakaan

Ayo Bangun (Kembali) Perpustakaan Desa

April 4, 2026
IMG_0609
Artikel

Potret Pasar Beureunuen Milik Pedagang Lokal, dari Emping Melinjo, Janeng, dan Harapan Masa Depan

April 4, 2026
IMG_0607
Artikel

Jejak Kepemimpinan yang Tak Pernah Hilang

April 4, 2026
Next Post
Kadis Kesehatan Itu Gugur di Meja Kerja - 1001288287_11zon | Cerpen | Potret Online

Bedah Buku - Of Grammatology

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com