Esai · Potret Online

Peradaban Bunyi di Tugu Pendekar: Xtrim Percussion Menghidupkan Malam Kota Madiun

Juni 6, 2026
4 menit baca 2
86cb153f-ca23-4761-99e9-793142ae774c
Foto / IlustrasiPeradaban Bunyi di Tugu Pendekar: Xtrim Percussion Menghidupkan Malam Kota Madiun
Disunting Oleh

Oleh Fileski Walidha Tanjung

Di tengah zaman ketika ruang publik semakin sering dipenuhi hiruk-pikuk konsumsi dan hiburan instan, muncul sebuah pertanyaan yang jarang diajukan: bisakah sebuah latihan musik rutin menjadi peristiwa kebudayaan?

Pertanyaan itu hadir setiap Rabu malam di pelataran DEKRANASDA, samping Tugu Pendekar, Kota Madiun. Tempat yang pada siang hari dikenal sebagai ruang pamer produk kerajinan khas daerah, namun pada malam hari kerap kehilangan denyut aktivitasnya. Di ruang yang sunyi itulah sekelompok musisi lintas latar belakang berkumpul dalam sebuah komunitas bernama Xtrim Percussion. Mereka datang bukan sekadar untuk memainkan nada, melainkan untuk menghidupkan kembali makna ruang publik melalui bahasa yang paling tua dalam sejarah manusia: musik.

Xtrim Percussion menghadirkan formasi yang tidak lazim. Bass berdialog dengan perkusi. Gitar bertemu kecapi. Piano bernegosiasi dengan marawis, darbuka, terbangan, kendang Sunda, dan jimbe. Saxophone menari bersama biola. Dari perjumpaan instrumen-instrumen yang berasal dari tradisi berbeda itu lahirlah satu warna musikal yang sulit dikotakkan: jazz ethnic world music.

Sebagai pemain biola yang terlibat di dalamnya, saya menyaksikan bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar latihan musik. Yang sedang dibangun adalah sebuah laboratorium kebudayaan.

Dunia modern sering mengajarkan bahwa kemajuan identik dengan menyeragamkan segala sesuatu. Musik populer global menjadi contoh paling nyata. Ribuan lagu terdengar berbeda, tetapi sering kali dibangun dengan formula yang sama. Dalam situasi seperti itu, kehadiran kelompok seperti Xtrim Percussion menawarkan jalan lain. Mereka membuktikan bahwa masa depan justru dapat ditemukan melalui keberanian mempertemukan berbagai akar tradisi.

Filsuf Prancis, Edgar Morin, pernah mengatakan, “Kekayaan masa depan lahir dari kemampuan merangkul keberagaman, bukan menghapusnya.” Dalam konteks ini, setiap denting kecapi yang berdampingan dengan harmoni jazz bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan eksperimen masa depan. Musik tradisional tidak diposisikan sebagai benda museum yang hanya layak dikenang. Ia diajak berdialog secara setara dengan bahasa musikal dunia.

Hal yang menarik, proses ini berlangsung tepat di depan Tugu Pendekar, ikon Kota Madiun yang selama ini identik dengan keberanian. Namun keberanian yang ditampilkan Xtrim Percussion bukan keberanian fisik sebagaimana lazim digambarkan dalam sejarah para pendekar. Ini adalah keberanian kultural: keberanian merawat identitas lokal tanpa menutup diri terhadap pengaruh global.

Dalam bukunya The Creative City, Charles Landry menjelaskan bahwa kota-kota masa depan tidak lagi bersaing melalui sumber daya alam semata, melainkan melalui kreativitas dan kemampuan menciptakan ruang perjumpaan. Sebuah kota menjadi hidup ketika warganya memiliki tempat untuk bertukar gagasan, pengalaman, dan ekspresi seni.

Dari perspektif itu, pelataran DEKRANASDA berpotensi menjadi lebih dari sekadar area pameran produk kerajinan. Ia dapat tumbuh menjadi ruang sosial yang mempertemukan seniman, pelaku UMKM, penikmat musik, wisatawan, hingga masyarakat umum. Sebuah ekosistem yang saling menghidupi.

Di sinilah aspek lain yang patut diapresiasi. Musik tidak berjalan sendiri. Di sekitar area latihan, hadir pula berbagai produk UMKM lokal. Salah satunya adalah Wedang Rempah Bekti Bumi, minuman herbal khas Madiun yang menjadi teman akrab para musisi selepas latihan. Dalam pengalaman sederhana itu tersimpan pelajaran besar: kebudayaan dan ekonomi rakyat sesungguhnya tidak perlu dipertentangkan.

Sering kali pembangunan dipahami sebagai urusan beton, gedung, dan infrastruktur. Padahal peradaban juga dibangun melalui percakapan, kesenian, aroma rempah, dan perjumpaan antarmanusia. Sebagaimana dikatakan antropolog Margaret Mead, “Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil warga yang berpikir dan berkomitmen dapat mengubah dunia. Faktanya, hanya itulah yang pernah berhasil mengubah dunia.”

Kalimat itu terasa relevan untuk menggambarkan apa yang sedang dilakukan Xtrim Percussion. Mereka mungkin hanya sekelompok musisi yang berkumpul setiap Rabu malam. Namun sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar justru lahir dari komunitas-komunitas kecil yang bekerja dengan konsisten.

Mungkin suatu hari nanti orang tidak hanya mengenang Tugu Pendekar sebagai ikon visual Kota Madiun. Mereka juga akan mengenang kawasan ini sebagai titik lahirnya sebuah gerakan kebudayaan yang mempertemukan jazz dengan etnisitas, seni dengan ekonomi rakyat, tradisi dengan masa depan.

Pada akhirnya, yang sedang dicari oleh Xtrim Percussion bukanlah kesempurnaan pertunjukan. Yang sedang diperjuangkan adalah terciptanya ruang hidup yang lebih manusiawi. Sebuah ruang di mana musik menjadi jembatan, bukan sekadar hiburan. Sebuah ruang di mana keberagaman bunyi mengajarkan keberagaman cara pandang. Sebuah ruang di mana masyarakat belajar bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan mendengarkan perbedaan.

Dan ketika malam kembali turun di pelataran DEKRANASDA, sementara nada-nada biola, perkusi, saxophone, kecapi, dan bass berbaur di udara Madiun, kita mungkin perlu bertanya kepada diri sendiri: jika berbagai instrumen yang berbeda asal-usulnya saja mampu menciptakan harmoni, mengapa manusia sering gagal melakukan hal yang sama? Jika sebuah latihan musik mampu menghidupkan ruang kota, mungkinkah masa depan peradaban justru dimulai dari komunitas-komunitas kecil yang memilih untuk terus berkarya, terus bertemu, dan terus menjaga bunyi agar tidak pernah kehilangan makna. (*) 

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...