Takdir yang Salah Alamat

Oleh Redaksi
29 Mei 2026
9 menit baca
7a197f57-d8dc-401f-b6e3-0c8a8b9ba15d
Takdir yang Salah Alamat

Oleh Muhammad Maskur 

Bagian paling capek dari jadi mahasiswa semester dua adalah waktu harus pura-pura gak lihat orang yang sebenarnya pas ada di depan mata.

Siang itu, koridor kampus lagi ramai-ramainya. Aku jalan cepat-cepat sambil merangkul tas yang berisi tugas kuliah. Tepat di dekat tangga, langkahku mendadak kaku. Dari arah depan, dia lagi jalan bareng gengnya. 

Karin. Cewek yang dua bulan lalu masih jadi alasan utamaku buat langsung ngecek HP tiap baru bangun pagi.

Kami berpapasan dekat banget, gak sampai semeter. Tapi boro-boro menyapa, menoleh aja gak. 

Karin menatap lurus ke depan seolah aku ini cuma angin lalu, dan aku terpaksa buang muka, melihat lantai koridor seolah-olah ada yang menarik di bawah sana.

Kami asing sekarang. Kembali kayak orang gak kenal setelah dua bulan pacaran diam-diam, sebelum akhirnya semua hancur total gara-gara satu sore yang sial. Sore itu pas ibunya Karin memergoki kami lagi nongkrong di kafe dekat kampus.

Aku masih ingat jelas kata-kata ibunya waktu itu. Suaranya tenang, tapi rasanya nusuk banget. “Karin, Ibu gak pernah melarang kamu temenan sama siapa saja. Tapi kalau untuk pacaran, carilah yang jelas masa depannya. Ibu gak mau kamu susah nantinya.”

Kata “susah” itu jelas-jelas ditujukan ke aku. Anak seorang buruh harian yang kuliah pakai beasiswa dan harus kerja paruh waktu di kedai kopi. Karin yang dasarnya anak penurut cuma bisa menangis, malam itu lewat telepon ia minta maaf kepadaku. Kami akhirnya putus. Bukan karena sudah gak sayang, tapi karena ditampar kenyataan.

Sejak hari itu, aku pulang ke kosan dengan perasaan kosong. Di depan cermin, aku janji pada diri sendiri. Cukup, Han. Gak usah pacaran lagi. Sadar diri saja. Orang miskin kayak kamu gak punya tempat buat gaya-gayaan cinta di kampus ini. Fokus kuliah, cari duit, terus sukses. Cinta itu cuma buat orang yang isi dompetnya aman.

Aku menutup diri rapat-rapat. Membuang semua harapan dan milih jadi orang yang gak peduli lagi soal perasaan.

Dua bulan lewat begitu saja dengan rutinitas yang membosankan. Kuliah, ke perpus, kerja paruh waktu, terus balik ke kosan. Pikiran dan hatiku datar banget, kayak gak ada gairahnya sama sekali.

Sampai akhirnya, pas hari Selasa malam, HP-ku yang aku geletakkan di atas kasur tiba-tiba getar. Ada notifikasi WhatsApp masuk dari nomor asing.

0813-xxxx-xxxx: Dito, ini bahan buat presentasi besok pagi ya. Maaf banget baru dikirim, tadi laptopku sempat eror. Makasih banyak Dito!

Aku mengerutkan dahi. Dito? Siapa Dito? Di kelasku gak ada yang namanya Dito, dan aku juga lagi gak ada tugas kelompok minggu ini. Jelas banget orang ini salah kirim.

Biasanya kalau ada nomor gak dikenal salah kirim pesan, paling cuma aku diemin atau cuma aku baca lewat bar notifikasi. Tapi malam itu, entah kenapa tangan gatal ingin balas. Mungkin karena aku lagi capek banget setelah seharian mencuci piring di kedai kopi.

Hanafi: Maaf, salah nomor ya. Saya bukan Dito.

Gak sampai semenit, balasannya langsung masuk. Cepet banget.

0813-xxxx-xxxx: Eh?? Demi apa salah nomor? Ya ampun maaf banget! Aku panik banget dari tadi makanya gak merhatiin angka belakangnya. Maaf ya udah ganggu malam-malam.

Aku cuma baca pesan itu tanpa niat membalas lagi. Pikirku urusan sudah selesai. Tapi lima menit kemudian, nomor itu nge-chat lagi.

0813-xxxx-xxxx: Kak, maaf nanya lagi… tapi ini beneran bukan nomornya Dito angkatan 2025 anak Farmasi ya? Soalnya di kontak aku namanya mirip.

Aku menghela napas, terus membalas sambil sandaran di tembok kosan.

Hanafi: Bukan. Saya Hanafi, anak Fkip 2025.

0813-xxxx-xxxx: Oh, anak Fkip! Salam kenal ya Hanafi, aku Alya, anak Farmasi semester dua. Duh, sekali lagi maaf banget ya. Berarti dari tadi aku panik sendirian ke orang yang salah hfftt.

Malam itu, obrolan yang harusnya selesai dalam dua baris kalimat malah berlanjut. Alya ternyata tipe orang yang heboh dan banyak omong, bahkan lewat ketikan. Dia cerita betapa paniknya dia malam itu gara-gara takut salah kirim tugas penting. 

Harusnya aku sudah menyudahi obrolan itu, tapi anehnya, membaca ketikan Alya yang apa adanya itu malah bikin aku sedikit tersenyum.

Malam itu, setelah dua bulan lamanya, rasanya ada sesuatu yang sedikit berubah di dalam hatiku.

Sejak malam salah kirim itu, HP-ku gak pernah sepi lagi. Alya sering tiba-tiba nge-chat. Kadang nanya soal dosen Fkip yang kebetulan ngajar di kelasnya, kadang cuma pamer foto kucing liar yang dia temui di parkiran kampus, atau sekadar mengeluh soal tugas kuliahnya yang numpuk.

Awalnya aku membalas seadanya. Singkat dan agak dingin, khas orang yang malas diganggu. Aku masih memegang janji yang kubuat dua bulan lalu karena gak mau sakit hati lagi.

Tapi Alya punya cara sendiri buat mencairkan suasana. Dia gak pernah mundur meskipun balasanku irit banget.

Suatu hari, habis kelas sore yang bikin capek, aku jalan kaki ke parkiran motor. Tiba-tiba ada yang memanggil namaku dari belakang.

“Hanafi!”

Aku menoleh. Seorang cewek dengan hijab pashmina dan tas ransel yang kelihatan penuh banget lagi lari kecil ke arahku. Napasnya agak ngos-ngosan, tapi senyumnya lebar banget.

“Bener kan Hanafi? Aku Alya!” katanya ceria, langsung mengenalkan diri.

Aku agak bengong. Di dunia nyata, Alya ternyata kelihatan lebih mungil dari yang kubayangkan di chat, tapi energinya sama besarnya. “Eh, iya. Alya ya?”

“Iya! Akhirnya kita ketemu langsung,” katanya sambil menyodorkan susu kotak rasa cokelat ke tanganku. “Nih, buat kamu. Anggap saja sogokan karena selama beberapa minggu ini aku sering nyampah di WhatsApp kamu.”

Aku melihat susu kotak di tanganku, terus melihat wajahnya yang polos tanpa riasan berlebih. “Makasih ya. Tapi sebenarnya gak usah repot-repot, santai saja.”

“Gak repot kok. Ya sudah, aku duluan ya, sudah ditungguin temen di depan gerbang. Bye Han!” Alya melambaikan tangan terus lari pergi secepat dia datang.

Aku berdiri sendirian di parkiran, memegangi susu kotak yang masih terasa dingin. Ada perasaan hangat yang mendadak muncul di dadaku. Perasaan yang sudah lama banget gak kurasakan.

Hubungan kami mengalir begitu saja setelah pertemuan di parkiran itu. Kami jadi sering makan siang bareng di kantin belakang kampus, tempat makan yang murah meriah dan pas buat kantong mahasiswa pas-pasan sepertiku.

Satu hal yang paling bikin aku nyaman sama Alya adalah dia gak pernah membuatku merasa minder.

Pernah suatu kali, aku jujur bilang kalau aku gak bisa menemaninya makan di kafe hits depan kampus karena belum gajian dari kedai kopi. Aku sudah siap-siap kalau dia bakal kecewa atau berubah sikap, kayak kebanyakan cewek yang pernah kutemui.

Tapi tanggapan Alya malah bikin aku kaget. Dia cuma tertawa, terus menarik lengan jaketku. “Ih, siapa juga yang mau ke kafe mahal? Di kantin Farmasi ada soto ayam harganya sepuluh ribu sudah kenyang banget, Han. Ayo ke sana saja, aku yang traktir deh hari ini!”

Alya menerima keadaanku apa adanya. Dia tahu aku ke kampus naik motor tua yang mesinnya hanya dua tak, dia tahu jaket yang kupakai itu-itu saja, dan dia tahu aku harus membagi waktu antara kuliah dan kerja keras sampai malam. Dia gak peduli sama latar belakangku. Dia menghargai usahaku, bukan isi dompetku.

Perlahan, janji yang kubuat dulu gak akan pernah jatuh cinta lagi mulai hilang gak berbekas. Aku kalah sama ketulusannya.

Satu bulan kemudian, di suatu sore setelah hujan reda, kami lagi duduk di bangku taman kampus. Suasana agak sepi, cuma ada suara sisa air yang menetes dari daun-daun pohon.

Aku merhatiin Alya yang lagi sibuk mengelap kacamata bulatnya yang berembun. Jantungku tiba-tiba deg-degan parah. Aku tahu aku gak bisa memendam perasaan ini lebih lama lagi. Tapi di saat yang sama, bayangan masa lalu dengan Karin sempat lewat di pikiranku. Aku takut kecewa lagi.

“Al,” panggilku pelan.

Alya memakai kacamatanya lagi, terus menoleh ke arahku. “Kenapa, Han?”

“Kamu… gak malu apa jalan sama aku?” tanyaku jujur, menyuarakan ketakutan terbesar yang ada di kepalaku. “Aku gak kayak cowok-cowok lain yang bisa bawa kamu jalan-jalan ke tempat bagus. Aku cuma anak kedai kopi yang serba pas-pasan.”

Alya terdiam sebentar. Dia menatapku lurus, gak ada keraguan sedikit pun di matanya. Terus, dia tersenyum lembut, senyuman paling tulus yang pernah kulihat.

“Han, aku itu suka sama kamu karena kamu orangnya pekerja keras, bertanggung jawab, dan selalu baik sama aku. Aku gak butuh cowok yang pamer harta orang tuanya. Kita kan masih kuliah, semuanya bisa dicari bareng-bareng dari nol, kan?” Alya memiringkan kepalanya sedikit. “Lagian, emangnya aku kelihatan kayak cewek yang cuma lihat cowok dari materinya ya?”

Mendengar kata-katanya, beban berat yang selama ini mengganjal di dadaku rasanya hancur seketika. Pikiran burukku langsung hilang semua.

“Al, aku emang gak punya apa-apa sekarang,” kataku, suaraku agak bergetar karena menahan emosi. “Tapi kalau kamu mau, aku mau berjuang demi kamu. Aku… aku sayang sama kamu, Al.”

Muka Alya mendadak merah banget. Dia menunduk sambil memainkan ujung lengan bajunya, tapi dia gak bisa menyembunyikan senyumnya. “Aku juga sayang sama kamu Han. Dari lama, tahu.”

Kami berdua saling melihat terus tertawa bersama. Rasanya lega luar biasa.

Malamnya, pas lagi rebahan di kasur kosan, aku mengambil HP. Aku membuka ruang obrolan dengan Alya, terus menggulir layarnya jauh ke atas, melihat lagi pesan pertama yang dia kirim beberapa bulan lalu. Pesan nyasar yang awalnya ditujukan buat “Dito”.

Aku tersenyum sendirian menatap layar HP.

Kalau diingat-ingat lagi, kejadian malam itu lucu banget. Sebuah pesan yang salah kirim, mendarat di nomor yang salah, di waktu yang sebenarnya lagi kacau-kacaunya.

Dulu aku sempat berpikir kalau hidupku soal cinta sudah selesai setelah diputusin karena miskin. Tapi ternyata, Tuhan punya cara unik untuk menyembuhkan luka orang. Dia mengirimkan Alya lewat sebuah ketidaksengajaan.

Pesan malam itu memang salah alamat, tapi orang yang menerimanya ternyata sangat tepat. Alya bukan sekadar hadir, tapi dia membuktikan kalau gak semua orang menilai ketulusan dari materi.

Aku meletakkan HP di samping bantal setelah membalas pesan selamat tidur dari Alya. Di kamar kosan yang sempit ini, aku akhirnya paham satu hal: takdir gak pernah salah menempatkan orang, dia cuma suka datang dengan cara-cara yang gak pernah kita duga sebelumnya.

Jadi dari kisah Ini bisa kita simpulkan :

Hubungan yang selesai karena urusan materi emang menyakitkan, tapi itu bukan alasan buat kita terus-terusan minder. Dari kisah Hanafi dan Alya, kita belajar kalau takdir gak pernah salah alamat. 

Tuhan pasti bakal mempertemukan kita dengan orang yang tepat, yang bisa menerima keadaan kita dan siap diajak berjuang bareng dari bawah.

Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W