Artikel · Potret Online

Kyai Fiktif yang Predator

Penulis Mursyidah
Mei 7, 2026
5 menit baca 12
Seorang santri duduk tertunduk dalam suasana muram di lorong pesantren, menggambarkan kesedihan dan tekanan batin akibat kasus yang mengguncang lembaga pendidikan agama.
Foto / IlustrasiKetika tempat pendidikan dan pembinaan moral tercoreng oleh tindakan oknum, luka yang tersisa bukan hanya pada korban, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat terhadap nilai dan martabat lembaga itu sendiri.
Disunting Oleh

Oleh Mursyidah

Sangat miris,  tapi ini sesuatu hal yang sangat mengusik relung jiwa. Memang mungkin terasa tak layak untuk mengulik berita kasus ini, karena ini satu kasus yang masih sangat hangat dan trending di seluruh platform media. Ditambah lagi penulis bukanlah saeorang tokoh yang punya hak untuk memberi penghakiman atas tindakan seorang oknum yang berlebel kiyai.  

Tentu sangat menyakitkan ketika kasus ini terjadi di tempat atau lembaga yang dirasa sebagai instansi terbaik untuk membentuk atau menciptakan generasi penerus. Tempat yang diyakini berkualitas dan prestasi berilmu dan bertaqwa tinggi serta berintegritas dan punya nilai moralitas tinggi yang akan mampu diadaptasi dalam menjalani kehidupan sehari hari. 

Namun, di tempat ini daerah Pati,salah satu instansi itu menjadi tempat pemusnahan karakter, jati diri kehormatan, bahkan integritas iman para santriwan/ wati yang notabanenya akan menjadi orang-orang terbaik negeri ini di suatu masa nanti. 

Inilah yang menyedihkan kita, di mana tempat ini seharusnya menjadi pondok pesantren yang berada di garda terdepan yang melindungi dan memperjuangkan esensi nilai emansipasi bagi kaum perempuan.

Lembaga yang menjadi pelindung yang memberi teduh serta rasa aman untuk mempertebal dan menguatkan keimanan dan kenyamanan dalam menjalani hidup dengan fitrah sebagai seorang perempuan sejati yang tangguh dan punya daya juang tinggi.

 Lalu apa yang terjadi saat ini membuat harapan itu sirna. Walau kita tidak dapat memukul rata  semua para Kiay seperti oknum sesat tersebut. Tentu tidak jawabannya. 

Nah, yang perlu digaris bawahi seperti apa seseorang itu dapat diberi gelar dan dipanggil Kiay atau  ulama tak cukup hanya dari satu manifestasi tenggang waktu lama ia berkiprah dan berkecimpung di bidang keagamaan, tapi lebih dari itu,jika gelaran itu hanya berpatokan dari hal hal yang penulis sebutkan tadi, maka sangat murah dan mudah gelar itu didapat. 

Ya, hanya tinggal memoles akhlak seolah alim, mondok yang lama ,berjubah lah dan bersorban,kuasai beberapa ayat dengan sering menghafal,  tanpa perlu memahami ,rajin  sampaikan dalam khotbah dakwah secara instan itu sudah jadi Kiyai dinegri ini.

Padahal menjadi seorang Kiay,  tak hanya dari itu, selain terus mengaji dan mengkaji serta mampu menguasai berbagai sanad keilmuan  dan juga mampu merealisasikan dalam pola perilaku yang menjadi teladan. Dengan demikian, mampu membentuk peradaban bagi generasi generasi ke depan nanti .

Tapi ada yang jauh lebih dari itu penyebab oknum Kiay fiktif dengan tingkah nafsu primitif berlagak seperti itu ,adalah hal penyebab utamanya. Tujuan awal keilmuan tak lagi sesuai anjuran dan tatanan Tuhan. Ia cenderung pandai, tapi tak lihai dalam mengolah konsistensi qanaah.  Ilmu yang dikuasai hanya untuk mencari eksistensi publik dengan citra alim dan baik berharap terus dihormati, memantik  simpatik dari kaum kaum ekonomi lemah dengan hadir seolah pembawa surga.

Maka tak salah jika Ashari tegamenodai lima puluh santriwatinya,bahkan menghancurkan jati diri dan seluruh mimpi mereka. Mungkin ia lebih bedebah dari Jefry Epstein karena memberi label dirinya ahli surga.

Namun,  terlepas dari itu kita bukan tuhan yang berhak menghakimi secara totalitas.

Ini menjadi tugas bersama,  baik rakyat sipil ,satuan pemerintahan ataupun jajaran yang punya kewenangan di bidang penegakan syari’at Islam seperti MUI (majelis ulama Indonesia) untuk punya barometer tertentu terhadap sosok sosok yang memimpin pondok pesantren.

Tidak semua orang bebas menjadi pemimpin pesantren, harus ada seleksi dengan grade tertentu,tak cukup hanya sorban dan peci serta pandai beralibi lewat beberapa ayat suci, harus diuji integritas keilmuan dan perilaku mereka.

Penulis sendiri yang alumni pondok pesantren tak perlu untuk menutup mata  terkait hal ini.  Selama ini , setiap hal dipondok sering menjual sistem  keberkahan guru ,sehingga di sana suara para santri terbungkam, meski tak seluruhnya, tapi mari hari ini berani bersuara.

 Ini perlu, sebab guru yang  pantas tak akan takut dikritisi. Dari sana ia akan instrospeksi, jangan sampai pola mengabdi dan berbakti akan melahirkan sosok sosok Ashari berikutnya  yang menghancurkan putri putri negri.

Haus dipertegas batas antara berbakti dan mengabdi dengan menzalimi,belum lagi kasus syeikh yang kabur ke Mesir dengan kasus yang lebih gila lagi.

ia bahkan mensodomi santri sendiri.

Oleh sebab itu pula,  harus ada beberapa hal yang perlu diperbaharui tentang sistem dan tatanan di instansi atau lembaga pendidikan Islami.

Pertegas dengan lebih bijak lagi aturan aturan yg dijalankan, bahkan termasuk izin mendirikan pondok pesantren,izin untuk memimpin pesantren serta pengujian dan seleksi bagi yang memimpin pesantren. 

Beri kekuatan hukum bagi pelajarnya,sebab pondok pesantren selayaknya rumah yang teduh tempat bernaung untuk bertumbuh merawat iman dan merajut asa masa depan, baik untuk dunia bahkan sampai ke hari yang kekal demi mencapai dan meraih Ridha Tuhannya. Pesantren bukan justru sebaliknya menjadi ruang yang rusuh meruntuhkan jiwa,  membunuh iman karena kedhaliman sang pimpinan atau pemilik kewenangan .

Namun, di balik buruknya kasus Kyai Ashari, tentu tidak dapat kita generalisasikan semua pesantren yang dipimpin ole Kyai  gadungan. Masih banyak pondok pesantren yang punya grade terbaik bahkan mampu melahirkan tokoh tokoh besar penyumbang aksi dan pemikiran untuk negri ini seperti Lirboyo yang melahirkan Gus dur,Cak Imin. Bahkan Gontor yang salah satu jebolannya adalah mantan menteri agama era Jokowi Lukmanul Hakim. 

Kini yang harus kita sadari adalah bagaimana kita  lebih aware untuk memilih pondok bagi putra putri negeri ini untuk belajar. Cerdas dan selalu waspada bahwa tidak ada tempat yang dijamin aman. Oleh sebab itu tetaplah waspada.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mursyidah
Berdomisili di Trumon, Aceh Selatan
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...