Menilik Jejak Ustad Junaidi Merawat Sejarah dan Literasi Pidie

Oleh: Ikram Maulanat
Siswa Kelas XI SMA Sukma Bangsa Pidie
Di tengah arus modernisasi yang kian menggerus ingatan generasi muda terhadap sejarah daerah, tidak banyak yang memilih untuk bertahan, apalagi melawan arus. Namun, Ustad Junaidi Ahmad justru menempuh jalan sunyi itu.
Lewat tulisan, ia merawat ingatan kolektif tentang Pidie, menjaga agar identitas budaya daerahnya tidak perlahan hilang ditelan zaman. Bagi Ustadz Jun—sapaan akrabnya—pena bukan sekadar alat ekspresi, melainkan cara mempertahankan jati diri.
Upaya itulah yang kemudian mengantarkan saya untuk menggali lebih dalam tentang jejak Ustadz Jun dalam merawat sejarah dan literasi. Setelah bersepakat untuk membuat pertemuan di Madrasah Ulumul Quran, Pidie. Siang itu, Kamis, 23 April, saya bersama teman saya, Fayyadh Ulayya yang biasa dipanggil “Fayad”, menuju ke Madrasah Ulumul Quran untuk mewawancarai Ustadz Jun.
Kami juga ditemani oleh guru pembimbing saya, Pak Syawal, guru pengampu mata pelajaran Sosiologi di sekolah kami, Sukma Bangsa Pidie. Setibanya di tempat, kami langsung disambut hangat oleh Ustadz Jun dengan senyuman ramah.
Kami kemudian menuju ruangan bimbingan konseling yang ada di pesantren tersebut, yang menjadi tempat wawancara berlangsung. Setelah memasuki ruangan, kami duduk di kursi yang telah disediakan. Di ruangan tersebut juga telah tersedia air minum, menandakan bahwa beliau sudah mempersiapkan kedatangan kami.
Siang itu, perjalanan menuju lokasi terasa tenang, seolah menjadi jeda sebelum memasuki ruang percakapan yang lebih dalam. Bagi saya, kunjungan tersebut bukan sekadar temu biasa, melainkan upaya menelusuri langsung gagasan dan kegelisahan seorang penulis yang menjadikan sejarah sebagai bagian dari perjuangannya.
Setibanya di lokasi, Ustadz Jun menyambut dengan hangat. Kesan formal yang sempat terasa perlahan mencair, berganti suasana yang lebih akrab. Dari pertemuan sederhana itu, percakapan berkembang menjadi kisah tentang perjalanan hidup, pemikiran, serta kecintaannya yang tak surut terhadap sejarah dan budaya Pidie.
Saya menyimak ada banyak kisah yang beliau ceritakan, bukan hanya tentang dirinya, tetapi tentang Pidie, tentang sejarah, budaya, dan identitas yang masih terus hidup hingga kini.
Beliau menuturkan, bahwa bagi masyarakat Pidie, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi yang tetap dijaga, serta kisah perjuangan yang pernah terjadi, menjadikan daerah ini memiliki identitas yang kuat sebagai wilayah yang kaya akan nilai budaya dan sejarah.
Tapi sayangnya, di zaman modern, banyak kalangan muda mulai melupakan sejarah dan budaya asalnya. Hal tersebut kini lebih banyak dikenal oleh kalangan tua. Kondisi ini menjadi kekhawatiran karena nilai-nilai budaya dan sejarah dapat perlahan terlupakan jika tidak dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda.
Sejatinya, saat wawancara dimulai dan berlangsung, saya sempat merasa gugup. Namun, beliau berkata, “Jangan terlalu kaku, tidak perlu gugup, santai saja, anggap obrolan ini seperti obrolan biasa.” Ucapan itu membuat suasana menjadi lebih tenang. Saya pun memulai percakapan dengan memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan wawancara.
Di awal perbincangan, saya menanyakan tentang masa kecilnya. Ia mengatakan tumbuh seperti anak pada umumnya. Sejak kecil, minat baca sudah muncul dalam dirinya, meskipun saat itu ia hanya membaca kitab-kitab pengajian di kampungnya.
Ustad Junaidi Ahmad, memiliki profesi sebagai dosen Fakultas Hukum Universitas Jabal Ghafur Sigli, serta menjabat sebagai ketua yayasan Madrasah Ulumul Quran (MUQ). Ia berupaya mengenalkan sejarah dan budaya Pidie agar lebih dikenal oleh khalayak luas.
Saat berkuliah di Perguruan Tinggi Islam Al-Hilal Sigli, ketertarikannya terhadap buku semakin berkembang, terutama pada bidang keislaman, sejarah, dan politik. Pada masa itu, akses terhadap buku masih terbatas dan tidak semudah sekarang. Meski demikian, hal tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk terus membaca.
Saya kemudian menanyakan bagaimana awal mula ketertarikannya dalam menulis. Ia mengatakan bahwa minat tersebut mulai berkembang pada tahun 2014. Pada tahun itu, ia menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Demokrasi Islam Indonesia: Kawan atau Lawan. “Buku ini membahas bagaimana dampak demokrasi Islam di Indonesia. Tentu ada banyak pro dan kontra, dan itulah yang membuatnya menarik untuk dibaca,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Pada tahun 2019, ia kembali menerbitkan buku berjudul Pidie yang Kalian Tidak Ketahui. Buku tersebut bertujuan untuk memperkenalkan budaya Pidie yang belum banyak diketahui, sekaligus menarik minat masyarakat terhadap sejarah dan kekayaan daerah tersebut. “Ada banyak hal menarik di Pidie. Daerah ini sangat kaya akan budaya dan sejarah. Sangat disayangkan jika hanya dianggap sebagai daerah biasa,” ujarnya.
Ia juga menulis buku berjudul Perang Cumbok. Buku ini menceritakan revolusi sosial yang terjadi di Aceh pada masa lampau, yang dipicu oleh kebijakan para Ulee Balang yang tidak adil. Ulee Balang merupakan penguasa lokal yang memimpin suatu wilayah. Pada masa penjajahan Belanda, sebagian dari mereka dianggap bekerja sama dengan penjajah, sehingga sering berkonflik dengan kelompok ulama dan pejuang yang menentang penjajahan.
Dalam buku tersebut juga digambarkan sistem feodalisme yang menekan masyarakat non-Ulee Balang. Kehidupan rakyat sangat terbatas, bahkan dalam hal berpakaian. “Sangat pedih menjadi rakyat biasa di zaman itu. Untuk pakaian saja diatur. Rakyat hanya boleh mengenakan warna hitam dan putih, sementara Ulee Balang bebas berpakaian. Itu sangat menyedihkan,” ujarnya.
Setelah membahas karya-karyanya, saya menanyakan pandangannya tentang hubungan antara budaya, seni, dan agama Islam. Ia menjawab, “Agama tidak sekaku itu. Kita boleh menikmati budaya dan seni selama digunakan dalam hal yang baik.” Menurutnya, Islam tidak melarang budaya dan seni, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Ia juga menilai bahwa umat Islam saat ini tertinggal karena rendahnya literasi. Ia mengaitkan hal tersebut dengan Surah Al-Alaq ayat 1–5 yang menekankan pentingnya membaca, memahami, dan meneliti. “Ayat ini menjadi dasar penting dalam membangun keimanan. Namun, umat Islam saat ini masih jauh dari semangat itu,” ujarnya.
Pada bagian akhir, saya menanyakan pandangannya tentang generasi muda agar lebih tertarik pada sejarah dan budaya daerahnya. Ia menegaskan bahwa sejarah tidak cukup hanya dibaca, tetapi perlu dianalisis. “Jangan hanya membaca sejarah. Analisislah, dan jadikan sebagai pelajaran agar kesalahan di masa lalu tidak terulang,” katanya.
Ia juga mendorong generasi muda untuk membiasakan diri membaca dan menulis. Menurutnya, dari kebiasaan tersebut akan lahir gagasan dan pemikiran yang dapat menjaga budaya dan sejarah.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, menjaga sejarah dan budaya bukanlah hal yang mudah. Namun, melalui pena dan ketekunan, Ustad Junaidi menunjukkan bahwa tulisan dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Sebuah pengingat bahwa budaya bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dijaga, dipahami, dan diwariskan.













