• Latest
Kenapa Saya Harus Menulis? - IMG 20250226 WA0016 | Literasi | Potret Online

Kenapa Saya Harus Menulis?

Februari 26, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Kenapa Saya Harus Menulis? - 1001348646_11zon | Literasi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Kenapa Saya Harus Menulis? - 1001353319_11zon | Literasi | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Kenapa Saya Harus Menulis? - 1001361361_11zon | Literasi | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Kenapa Saya Harus Menulis?

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Februari 26, 2025
in Literasi, Menulis
Reading Time: 2 mins read
0
Kenapa Saya Harus Menulis? - IMG 20250226 WA0016 | Literasi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Dulu saya youtuber. Sekarang masih sih, cuma tak seinten dulu tiap hari nenteng handycam. Sekarang kembali ke habitat lama saya, menulis. Kenapa harus menulis? Sambil menikmati Bubur Ayam Abah Azis khas Sukabumi di Jalan Pancasila Pontianak, ikuti narasi ini sampai tuntas ya, wak.

Senjata penulis itu hanya kata-kata yang disusun jadi kalimat. Ingat, kata-kata adalah jenderal tanpa pasukan. Tapi anehnya, ia bisa menaklukkan dunia. Sebaris kalimat bisa menggetarkan hati. Sepatah kata bisa memporak-porandakan keyakinan. Seperti Muhammad Qahtani pernah berkata, “Kata-kata yang disusun dengan apik bisa menciptakan keyakinan, mesti tanpa kebenaran.”

Baca Juga
  • Buku, Perjalanan dan Dongeng
  • Gizi Pangan dan Gizi Keuangan Ibu Rumah Tangga

Pikirkan. Seorang orator ulung bisa berdiri di podium, menyemburkan seribu janji, dan puluhan juta orang percaya. Meski ia tak berniat menepati. Seorang pemuka agama bisa berkhotbah berapi-api, menggugah iman, padahal yang ia sampaikan hanya remah-remah dongeng dari masa lalu. Seorang politisi bisa meyakinkan rakyat bahwa penderitaan adalah bagian dari rencana besar. Kata-kata lebih berbahaya dari pedang. Sebab pedang hanya bisa membunuh tubuh, sementara kata-kata bisa membunuh akal sehat.

Mari kita tengok sebuah dunia di mana kebohongan diulang-ulang hingga dianggap sebagai kebenaran. Joseph Goebbels, sang Menteri Propaganda Nazi, meyakini bahwa kebohongan yang terus dikumandangkan akan menjadi fakta dalam benak publik. Sekali bohong, tetap bohong. Tapi jika bohong seribu kali, itu jadi realitas baru.

Baca Juga
  • Aku Rindu Sosok Ayah
  • Sepucuk Surat untuk Mas Menteri

Fakta sosial? Lihatlah sekitar. Berapa banyak orang yang percaya pada sesuatu hanya karena mereka sering mendengarnya? Seorang penulis buku self-help bisa meyakinkan jutaan orang bahwa kesuksesan hanya soal mindset, seolah-olah modal, privilese, dan nasib bisa dikecilkan menjadi sekadar “percaya pada diri sendiri.” Seorang influencer bisa membuat produk murahan laku keras hanya dengan satu kata: “Wajib beli!”

Di dunia ini, bukan kebenaran yang berkuasa. Tapi siapa yang bisa menyampaikan cerita lebih baik. Cerita itu biasanya dikarang seorang penulis.

Baca Juga
  • Budaya Menulis dan Membaca Yang Loyo Sementara Mimpi Hadiah Nobel Sudah Digantungkan di Langit
  • Budayakan Literasi, SLB YBSM Banda Aceh Kunjungi Perpustakaan Wilayah Aceh

Maka, jangan heran. Para penulis adalah dalang di balik peradaban. Mereka merangkai kata setiap hari, menciptakan dunia dari lembaran kosong. Mereka bisa menciptakan Tuhan. Mereka bisa membunuh Tuhan. Kitab suci adalah rangkaian kata. Biografi nabi adalah catatan yang disusun oleh tangan-tangan manusia. Sejarah ditulis oleh pemenang. Pemenang adalah mereka yang menguasai pena.

Kalau ente masih percaya dunia ini dipimpin oleh orang yang memegang pedang atau uang, kau keliru. Dunia ini dikuasai oleh mereka yang tahu cara menyusun kata-kata. Sebab kata-kata adalah sihir tertua di dunia.

Sihir itu, sayangnya, bisa digunakan untuk menipu atau menyadarkan. Tergantung siapa yang memegang pena. Nah, pena yang saya pegang, untungnya di tangan tukang ngopi macam saya ini. Bayangkan wak, Mega, Bukilic, Nohran, Dabin yang di Korea bisa saya bawa ke Pontianak. Suatu saat si kuning itu bisa klepek-klepek pada tukang ngopi di warkop reot.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Kenapa Saya Harus Menulis? - IMG 20250226 WA0033 | Literasi | Potret Online

Koperasi Sebagai Pilihan Badan Hukum Usaha Tambang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com