Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia
# Nature

Bencana dalam Perspektif Islam

Oleh Redaksi
December 15, 2025
0

: Oleh : Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag. Mahasiswa Program Doktor Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh....

Baca SelengkapnyaDetails
Artikel

Karnaval Sarendo-Rendo 2025 : Kota yang Berjalan Bersama Budayanya

Oleh Redaksi
December 15, 2025
0

Oleh: Emi Suy Pagi Jakarta pada Minggu, 14 Desember 2025, tidak hanya dibuka oleh langkah kaki warga yang memadati kawasan...

Baca SelengkapnyaDetails
Predatory States and Silenced Voices: Reflections on the UN Forum on Minority Issues in Geneva
Puisi Bencana

Teguran dariĀ Langit

Oleh Hanif Arsyad
December 15, 2025
0

Oleh : Hanif Arsyad Sudah hampir tiga minggu,air kembali bening, tanah kembali tenang—tapi adakah hatimu ikut jernih,atau luka ini hanya kau biarkan berlaluseperti angin yang singgah lalu hilang? Wahai manusia yang sering alpa,bencana ini bukan sekadar berita,ia adalah bisikan lembut dari Rabbmu,teguran yang turun melalui deras sungai,melalui lumpur yang mengikat langkahmu,melalui sunyi malam yang merenggut tidurmu. Bukan Aku yang zalim kepadamu,akulah yang menjaga setiap helaan napasmu.Tapi ketika dunia kau biarkan...

Baca SelengkapnyaDetails
Artikel

Upgrade Gawai, Downgrade Hutan

Oleh Don Zakiyamani
December 15, 2025
0

Oleh Don Zakiyamani Ketika membahas deforestasi, kita sering bahas yang besar.Ā  Pembukaan lahan tambang oleh korporasi yang membabat habis hutan....

Baca SelengkapnyaDetails
  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    165 shares
    Share 66 Tweet 41
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    155 shares
    Share 62 Tweet 39
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    145 shares
    Share 58 Tweet 36
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

“Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah” Bagaimana yang Tidak Punya Ayah?

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
July 14, 2025
“Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah” Bagaimana yang Tidak Punya Ayah?
šŸ”Š

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Esok pagi (14/7/2025), seluruh sekolah memulai tahun ajaran baru. Orang tua akan mengantar anaknya ke sekolah. Pemerintah menyarankan, ayah yang biasa bekerja untuk mengantarkan sendiri anaknya. Tak sekadar saran, malah dibuat surat ederan segala. Lantas, bagaimana bila si anak tak punya ayah? Inilah yang mau saya kupas, wak! Simak narasinya dengan seruput kopi tanpa gula.

Pagi itu, Indonesia terbangun bukan karena ayam berkokok, tapi karena sebuah surat edaran yang menghunjam dada lebih tajam dari tagihan listrik di akhir bulan. Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2025 dari BKKBN, tentang ā€œHari Pertama Sekolah Bersama Ayah.ā€ Sebuah program nasional yang konon katanya bertujuan mulia, mendekatkan ayah dan anak, mengukir momen sakral, dan menabur bunga-bunga kasih sayang di gerbang sekolah. Sayangnya, tidak semua anak punya ayah. Tidak semua bunga bisa tumbuh di tanah luka.

Seorang ibu curhat ke saya. Ibu itu membaca surat edaran itu sambil menggenggam dua tangan mungil anaknya. Yang satu baru masuk TK, yang satu baru akan duduk di bangku SD. Matanya bergetar. Bukan karena bahagia, tapi karena hatinya remuk, dihantam kenyataan bahwa ia harus memilih, membiarkan anaknya berangkat sekolah menyaksikan parade kebapakan nasional, atau melindungi mereka dari luka batin yang lebih tajam dari sembilu.

Bayangkan, wak! Nuan berdiri di gerbang sekolah. Di sekelilingmu, anak-anak lain melompat riang digandeng ayah mereka. Ada yang naik motor matic, ada yang datang dengan mobil dinas, bahkan ada yang diantar ayahnya yang mengenakan jas dan dasi, seperti sedang siap rapat akbar dengan Presiden. Lalu sampeyan? Berdiri sendiri. Menatap kosong. Mencari-cari sosok yang tak akan pernah datang. Sebab ayahmu… sudah lebih dulu pulang ke langit. Semenara negara tidak menyediakan pengganti.

Betapa kerasnya dunia ini, ketika cinta harus dibuktikan dengan kehadiran orang yang sudah tiada. Betapa ajaibnya negeri ini, bisa membuat cinta terasa menyakitkan hanya dengan satu edaran. Yang lebih ajaib lagi, tak ada opsi ā€œtidak punya ayahā€ dalam formulir kebijakan. Semua anak diasumsikan lengkap. Seperti nasi kotak program dinas, wajib ada lauk, sayur, dan buah. Kalau cuma nasi dan kuah air mata, tidak sah.

šŸ“š Artikel Terkait

Tradisi Mengaji Shalat Magrib di Aceh Memudar: Alarm Sosial dari Serambi Mekkah

KETURUNAN RATU ULAR

Kanjuruhan Berdarah

Sudah 5 Abad Peranan Kesultanan Mataram Islam Di Nusantara-Indonesia Sampai Sekarang

Ini bukan sekadar program. Ini pertunjukan nasional. Sebuah festival kasih sayang versi eksklusif, hanya untuk mereka yang beruntung terlahir dari keluarga utuh. Anak-anak yatim? Piatu? Broken home? Maaf, kalian tidak masuk daftar tamu undangan. Silakan berdiri di pinggir lapangan, dan tontonlah dari jauh. Jangan menangis, karena itu bisa mencoreng citra kebijakan negara.

Mari kita rayakan absurditas ini dengan meriah. Ajak semua ayah turun ke sekolah! Biarkan anak-anak yang tidak punya ayah tahu bahwa mereka berbeda! Ayo, jadikan hari pertama sekolah sebagai ajang seleksi sosial! Siapa punya ayah dan siapa tidak! Siapa berhak bahagia dan siapa harus menunduk dalam sunyi!

Tapi tenang, kita masih punya harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, kebijakan tak lagi lahir dari meja-meja dingin, tapi dari hati-hati yang pernah patah. Dari pelukan ibu yang menggantikan seribu peran. Dari air mata anak-anak yang dipaksa dewasa oleh sistem yang lupa, tidak semua kasih sayang harus punya jenggot dan pakai kemeja batik.

Menjadi ayah bukan sekadar status biologis, tapi kehadiran emosional yang penuh kasih. Sayangnya, tidak semua anak mendapatkannya. Maka biarlah sekolah menjadi ruang aman, bukan etalase ketimpangan kasih sayang. Karena di hari pertama sekolah, yang paling dibutuhkan bukanlah ayah. Tapi pelukan, dari siapa pun yang ada dan mau memeluk.

Buat ente, para ibu hebat, para nenek kuat, para janda tangguh, para anak yang kehilangan tapi masih berjalan dengan kepala tegak, kalian luar biasa. Dunia tak layak menilai kalian hanya karena tidak membawa ayah ke sekolah.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

šŸ”„ 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 82x dibaca (7 hari)
Bencana Alam atau Pembiaraan Negara?
Bencana Alam atau Pembiaraan Negara?
11 Dec 2025 • 78x dibaca (7 hari)
Keriuhan Media Sosial atas Kasus Keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Keriuhan Media Sosial atas Kasus Keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
2 Oct 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Hancurnya Sebuah Kemewahan
Hancurnya Sebuah Kemewahan
28 Feb 2025 • 64x dibaca (7 hari)
Harmony with Nature: A Global and Islamic Perspective
Harmony with Nature: A Global and Islamic Perspective
29 Nov 2025 • 58x dibaca (7 hari)
šŸ“
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025
#Sumatera Utara

SengketaĀ Terpelihara

Oleh Tabrani YunisJune 5, 2025
Puisi

Eleği Negeriku  Yang Gelap Gulita

Oleh Tabrani YunisJune 3, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    165 shares
    Share 66 Tweet 41
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    155 shares
    Share 62 Tweet 39
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    145 shares
    Share 58 Tweet 36
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oleh Redaksi
October 7, 2025
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

Ā© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Facebook
Sign Up with Google
OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ā© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00