Dari Saf ke Sistem: Menyatukan Mimbar dan Meja Kerja dalam Ikhtiar Bireuen

Oleh: Khairul Badriah
Warek II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia
Di siang yang hangat di Bireuen, adzan Zuhur memecah rutinitas. Bukan hanya mahasiswa yang beranjak, tetapi juga dosen, staf, karyawan, bahkan tamu yang kebetulan berada di lingkungan kampus. Di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, pemandangan ini mulai menjadi kebiasaan: orang-orang dari beragam peran berdiri dalam satu saf, menanggalkan sekat jabatan, menyamakan arah, dan menata niat.
Sekilas, ini tampak sederhana—bahkan biasa bagi masyarakat Aceh. Namun jika dibaca lebih dalam, ada pesan yang sedang dirajut: ibadah tidak berhenti di mimbar, tetapi diturunkan ke sistem kerja. Inilah titik berangkat sebuah gagasan yang lebih besar—mengintegrasikan nilai agama ke dalam kultural kerja kepemerintahan yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri.
Kita selama ini akrab dengan dua dunia yang seolah terpisah. Di satu sisi, mimbar sibuk menyuarakan nilai: kejujuran, amanah, disiplin. Di sisi lain, sistem kerja sering sunyi dari nilai-nilai itu—berjalan dengan logika administrasi semata. Seperti dua sungai yang mengalir berdekatan, tetapi tidak pernah benar-benar bertemu. Padahal, keduanya berasal dari sumber yang sama: keinginan membangun kehidupan yang baik.
Apa yang mulai dirintis di Bireuen adalah upaya mempertemukan dua arus itu. Dari kampus, bersama ulama, lahir inisiatif kecil namun bermakna: menjadikan salat berjamaah sebagai poros pembentukan karakter kolektif—bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi juga untuk aparatur, staf, dan siapa pun yang berada dalam ekosistem kerja.
Analoginya sederhana: jika organisasi adalah sebuah alat musik, maka nilai-nilai agama adalah senar yang menentukan nada. Tanpa senar yang terpasang dengan baik, alat itu mungkin tetap berbunyi, tetapi tidak akan menghasilkan harmoni. Sebaliknya, dengan senar yang tepat, setiap petikan akan selaras. Inilah yang bisa kita sebut sebagai “senar gitar kinerja”—irama kerja yang lahir dari keselarasan antara iman dan tanggung jawab.
Namun, seperti halnya menyetem gitar, proses ini tidak instan. Ia membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan konsistensi. Tidak cukup hanya dengan seruan moral, tetapi perlu dihidupkan dalam kebiasaan sehari-hari. Salat berjamaah menjadi pintu masuk yang paling konkret. Ia menghadirkan ritme: berhenti sejenak dari kesibukan, berkumpul, menyamakan barisan, lalu kembali bekerja dengan kesadaran yang diperbarui.
Pepatah Aceh mengingatkan: “Lam ate peuget, lam buet ta peugah”—di hati dirancang, dalam kerja diwujudkan. Nilai tidak cukup disimpan di hati atau disampaikan di mimbar; ia harus tampak dalam tindakan. Ketika dosen, staf, dan karyawan bersama-sama menjaga salat berjamaah, sesungguhnya mereka sedang membangun bahasa bersama—bahasa disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab.
Di sinilah peran kampus menjadi strategis. Universitas Islam Kebangsaan Indonesia tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang eksperimen sosial. Ia menjadi laboratorium kecil untuk melihat bagaimana nilai bisa diintegrasikan ke dalam sistem. Ketika mahasiswa melihat dosen dan staf ikut berjamaah, mereka belajar bahwa nilai tidak berhenti pada teori, tetapi hidup dalam praktik.
Lebih jauh, ini bukan hanya urusan internal kampus. Bireuen sebagai wilayah memiliki karakter sosial yang kuat, dengan hubungan erat antara ulama dan umara. Inisiatif ini berpotensi menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya dalam konteks kekinian. Ulama tidak hanya berbicara di mimbar, tetapi hadir dalam membentuk budaya kerja. Sementara aparatur tidak hanya menjalankan aturan, tetapi juga menyerap nilai.
Sering kali kita mendengar keluhan tentang birokrasi: lambat, kurang responsif, atau kehilangan sentuhan kemanusiaan. Sebagian dari masalah ini bukan semata soal sistem teknis, tetapi juga soal nilai. Sistem tanpa nilai ibarat tubuh tanpa ruh—bergerak, tetapi tidak hidup. Integrasi nilai agama ke dalam kultural kerja adalah upaya menghidupkan kembali ruh itu.
Namun, penting untuk dicatat bahwa fondasi integrasi ini tidak hanya berhenti pada salat berjamaah. Di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, telah dipahami bersama satu prinsip penting: mahasiswa tidak cukup hanya berpendidikan tinggi, tetapi juga harus memiliki kemampuan dasar membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Bagi mereka yang belum mampu, pembinaan terus dilakukan hingga mencapai standar yang layak.
Kebijakan ini bukan sekadar tambahan, tetapi bagian inti dari visi besar. Sebab dalam tradisi Islam, Al-Qur’an bukan hanya teks, melainkan pedoman hidup. Seorang pemuda yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik sejatinya sedang membangun kedekatan dengan sumber nilai itu sendiri.
Analoginya seperti seseorang yang ingin menjadi penulis hebat, tetapi tidak pernah benar-benar membaca buku. Bagaimana mungkin ia menghasilkan karya yang bermakna? Begitu pula dengan generasi muda: tanpa kedekatan dengan Al-Qur’an, nilai-nilai yang diharapkan hidup dalam diri mereka akan sulit berakar.
Pepatah ulama mengingatkan: “Al-Qur’an itu bukan untuk dibaca saja, tetapi untuk membentuk cara hidup.” Maka pembinaan ini bukan sekadar mengejar kemampuan teknis membaca, tetapi membangun hubungan batin yang kelak akan memandu tindakan.
Ketika mahasiswa dibina hingga mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, sesungguhnya mereka sedang dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja dengan bekal yang berbeda. Baik di pemerintahan maupun di sektor swasta, mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa nilai.
Di era digital, di mana informasi begitu mudah diakses tetapi kebenaran sering kabur, kemampuan ini menjadi semakin penting. Ia menjadi kompas moral yang membantu seseorang tetap lurus di tengah kompleksitas. Seperti pelaut yang membutuhkan bintang untuk menentukan arah, manusia modern membutuhkan nilai untuk menjaga integritas.
Di sinilah kita melihat keterhubungan yang utuh:
salat berjamaah membentuk disiplin kolektif
pembinaan Al-Qur’an membangun kedalaman nilai
keduanya menyatu dalam kinerja nyata di dunia kerja
Inilah bentuk integrasi yang sesungguhnya—bukan sekadar simbol, tetapi sistem yang hidup.
Tentu, perjalanan ini tidak tanpa tantangan. Akan ada yang melihatnya sebagai beban tambahan, ada yang belum merasakan manfaatnya, atau bahkan ada yang meragukannya. Namun setiap perubahan memang membutuhkan waktu. Seperti menanam pohon, hasilnya tidak langsung terlihat, tetapi akan terasa dalam jangka panjang.
Yang penting adalah menjaga arah. Bahwa tujuan dari semua ini bukan sekadar menjalankan ibadah di tempat kerja, tetapi membentuk budaya kerja yang berakar pada nilai. Budaya di mana disiplin bukan karena diawasi, tetapi karena kesadaran. Di mana pelayanan bukan sekadar tugas, tetapi amanah. Di mana kerja bukan hanya untuk target, tetapi juga untuk makna.
Pada akhirnya, apa yang dirintis di Bireuen adalah upaya menyatukan kembali apa yang selama ini terpisah: mimbar dan meja kerja, ulama dan umara, iman dan sistem. Ini bukan pekerjaan mudah, tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil. Sejarah Aceh sendiri menunjukkan bahwa kekuatan daerah ini selalu lahir dari pertemuan keduanya.
Mungkin benar bahwa kita tidak bisa mengubah sistem besar dalam sekejap. Tetapi kita bisa mulai dari ruang-ruang kecil yang kita miliki. Dari kampus, dari kantor, dari kebiasaan harian. Dari kesediaan untuk berhenti sejenak ketika adzan memanggil, lalu kembali bekerja dengan hati yang lebih tertata.
Dan jika “senar gitar kinerja” itu benar-benar terpasang—jika nilai dan sistem telah selaras—maka bukan hanya suara yang indah yang akan kita dengar, tetapi juga perubahan yang nyata yang akan kita rasakan. Sebab kerja yang lahir dari kesadaran tidak hanya menghasilkan output, tetapi juga membawa berkah.
Di antara saf dan sistem, di antara mimbar dan meja kerja, ada jalan sunyi yang sedang dibangun. Jalan yang mungkin tidak ramai dibicarakan, tetapi pelan-pelan mengubah cara kita bekerja dan hidup. Dan dari jalan itulah, semoga lahir generasi aparat dan intelektual yang tidak hanya cakap, tetapi juga berakar—kuat dalam nilai, jernih dalam pikir, dan lurus dalam tindakan.













