Ilustrasi : Tribunenews.com
Oleh:Rama Triana
Siswi kelas VIII SMP Swasta Darussa’adah Putri, Pidie Jaya
Pengalaman menjadi seorang santri memiliki kesan tersendiri yang tidak akan pernah terlupakan. Hiruk pikuk perjalanan menjadi santri memberikan warna berbeda, karena banyak ragam pengalaman cerita yang tidak akan pernah saya dapatkan ketika mengenyam pendidikan di luar pesantren.
Hari pertama ke dua, hingga sebulan hidup di pesantren, saya merasakan layaknya hidup di penjara karena kebebasan yang pernah saya rasakan di luar tidak saya rasakan di kehidupan pesantren. Maka tidak heran jika sebagian orang menempelkan kalimat’’penjara suci’’ untuk sebutan lembaga pendidikan yang didesain berkamar-kamar hampir mirip sel tahanan ini. Lebih-lebih bagi santri baru seperti saya yang sebelumnya belum pernah jauh dari orang tua.
Seiring berjalannya waktu, hampir dua tahun di penjara suci, saya mulai merasakan dan menikmati hidup di pesantren. Pengalaman serta kesan apapun yang saya alami di pesantren memberi pelajaran berarti. Suka duka menjadi santri yang bersarung, berhijab ke mana-mana, hanya bisa dialami di lingkungan pesantren.
Selama masuk ke pesantren, saya tidak lagi bisa bermain-main sebebas waktu di rumah dulu. Semua aktifitas mesti dibatasi dengan jadwal-jadwal yang telah ditetapkan oleh pengurus pesantren. Jika dulu setiap hari saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi, saat di pondok jangankan nonton televise, mendengar radio saja sudah merupakan pelanggaran yang tidak termaafkan. Kemudian, yang paling membuatku tidak nyaman ketika saya terbangun di tengah malam dan harus terjaga sendiri sedangkan teman yang lain terlelap tidur,rasanya semua memori selama di rumah mendadak berputar kembali. Kehangatan bersama orang-orang yang saya cintai di rumah, terlihat jelas dalam ingatan. Jika sudah begitu butiran-butiran air mata mengalir menjadi anak sungai dan tanpa sengaja membasahi buntalan sarung yang menjadi bantal tidur.
Berbicara tentang kebersamaan di pesantren antara santri yang satu dengan yang lainnya sangat kuat, seakan-akan sudah menjadi keluarga yang selalu bersama. Saya ingat ketika salah satu orang tua santri yang datang berkunjung membawa makanan untuk anaknya, dari makanan itulah kebersamaan santri terlihat jelas, walaupun makaman yang dibawa tidak terlalu banyak, tetapi rasa berbagi sudah tertanam dalam diri setiap santri.
Menjadi seoarang santri banyak hal yang harus di pertimbangkan di antaranya mesti benar-benar di pertimbangkan adalah kesiapan tiga H; Heart,Head,Hand.Yakni kesiapan hati untuk ikhlas menerima ilmu yang disampaikan tampa pamrih, kesiapan kepala(otak) untuk berfikir dab mengkaji ilmu tersebut,dan kesiapan tangan untuk selalu mengamalkan ilmu yang didapatkan kira-kira begitulah pesan-pesan yang di sampaikan ustad kepada kami yang sampai saat ini masih saya ingat.pesan itulah yang mengantarkan ku untuk bertahan menghadapi hari-hari sulit saat pertama kali mondok hingga sekarang.
Banyak orang tua yang tidak tega melepaskan anaknya untuk mondok di usia dini, karena saat ini kebanyakan orang tua kalaupun punya niat untuk memondokkan anaknya, pasti menunggu setelah anaknya menyelesaikan sekolah tingkat pertama. Padahal bisa dibilang sangat jarang anak-anak yang mau memilih mondok setelah lulus SMP. Maka, dari ini saya bisa menangkap mengapa orang tua saya memondokkan ku setelah lulus SD.
Saya sendiri sempat berfikir,bagaimana jadinya kalau dulu saya tidak langsung mondok setelah lulus sekolah dasar. Bisa jadi saya tidak bakal mau dan memberontak karena sudah sangat nyaman menikmati asyiknya pergaulan remaja dengan segala kenakalannya seperti sekarang.
Sekarang saya bangga menjadi santri, karena dengan menjadi santri saya sedikit tahu tentang ilmu agama. Saya bangga menjadi santri karena dengan menjadi santri, saya bisa merasakan kebersamaan dan kemandirian yang tidak bisa saya dapatkan di luar penjara suci. Saya bangga menjadi santri karena saat menjadi santri saya dididik untuk menjadi insan yang islami. Saya bangga menjadi santri, karena dari santri saya tahu bahwasanya ilmu dunia dan akhirat harus seimbang agar tidak salah dalam melangkah.
Terima kasih kepada orang tua saya yang telah memasukkan saya ke pesantren untuk mengeyam ilmu di penjara suci. Sekarang saya sadar bahwasanya mondok itu penting, walaupun mengekang diri.
Ayo mondok,jadi santri itu keren. Ukirlah cerita manis mu di penjara suci