• Latest

Bangga Menjadi Santri Di Penjara Suci

September 20, 2018
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Bangga Menjadi Santri Di Penjara Suci

Redaksi by Redaksi
September 20, 2018
in Edukasi, Mondok, Pesantren, Pidie Jaya, Santri
Reading Time: 5 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Ilustrasi : Tribunenews.com

          Oleh:Rama Triana
                            Siswi kelas VIII SMP Swasta Darussa’adah Putri, Pidie Jaya
Pengalaman menjadi seorang santri memiliki kesan  tersendiri yang tidak akan pernah terlupakan. Hiruk pikuk perjalanan menjadi santri memberikan warna berbeda, karena banyak ragam pengalaman cerita yang tidak akan pernah saya dapatkan  ketika mengenyam pendidikan di luar pesantren.
Hari pertama ke dua, hingga sebulan  hidup di pesantren, saya merasakan layaknya hidup di penjara karena kebebasan yang pernah  saya rasakan  di luar tidak saya rasakan  di kehidupan pesantren. Maka tidak heran jika sebagian orang menempelkan kalimat’’penjara suci’’ untuk sebutan lembaga pendidikan yang didesain berkamar-kamar hampir mirip sel tahanan ini. Lebih-lebih bagi  santri baru seperti saya yang sebelumnya belum pernah jauh dari orang tua.
Seiring berjalannya waktu, hampir dua tahun di penjara suci, saya mulai merasakan dan menikmati hidup di pesantren. Pengalaman serta kesan apapun yang saya alami  di pesantren memberi pelajaran berarti. Suka duka menjadi santri yang bersarung, berhijab ke mana-mana,  hanya bisa dialami di lingkungan pesantren.
Selama  masuk ke pesantren, saya tidak lagi bisa bermain-main sebebas waktu di rumah dulu. Semua aktifitas  mesti dibatasi  dengan jadwal-jadwal yang telah ditetapkan oleh pengurus pesantren. Jika dulu setiap hari saya bisa menghabiskan  waktu berjam-jam di depan televisi, saat di pondok jangankan nonton  televise, mendengar radio saja sudah merupakan pelanggaran yang tidak termaafkan. Kemudian, yang paling membuatku tidak nyaman ketika saya terbangun di tengah malam dan harus terjaga sendiri sedangkan teman yang lain terlelap tidur,rasanya  semua memori selama di rumah  mendadak berputar kembali.  Kehangatan bersama orang-orang yang saya cintai di rumah, terlihat jelas dalam ingatan. Jika sudah begitu butiran-butiran air mata mengalir menjadi anak sungai dan tanpa sengaja  membasahi buntalan sarung yang menjadi bantal tidur.
Berbicara tentang kebersamaan di pesantren  antara santri yang satu  dengan yang lainnya  sangat kuat, seakan-akan sudah menjadi keluarga yang selalu bersama. Saya ingat ketika   salah satu orang tua santri yang datang berkunjung membawa  makanan untuk anaknya, dari makanan itulah kebersamaan santri terlihat jelas, walaupun makaman yang dibawa tidak terlalu banyak, tetapi  rasa berbagi  sudah tertanam dalam diri setiap santri.
Menjadi seoarang santri  banyak hal yang harus di pertimbangkan di antaranya mesti benar-benar di pertimbangkan  adalah kesiapan tiga H; Heart,Head,Hand.Yakni kesiapan hati untuk ikhlas menerima ilmu yang disampaikan tampa pamrih, kesiapan kepala(otak) untuk berfikir dab mengkaji ilmu tersebut,dan kesiapan tangan untuk selalu mengamalkan ilmu  yang didapatkan kira-kira begitulah pesan-pesan yang di sampaikan  ustad kepada kami yang sampai saat ini masih saya ingat.pesan itulah yang mengantarkan ku untuk bertahan menghadapi hari-hari sulit saat pertama kali mondok hingga sekarang.
Banyak orang tua yang tidak tega melepaskan anaknya  untuk mondok di usia dini, karena  saat ini kebanyakan orang tua kalaupun punya niat untuk memondokkan anaknya, pasti menunggu setelah anaknya  menyelesaikan sekolah tingkat pertama. Padahal bisa dibilang  sangat jarang anak-anak yang mau memilih mondok setelah lulus SMP. Maka, dari ini saya bisa menangkap mengapa orang tua saya memondokkan ku setelah lulus SD.
Saya sendiri sempat berfikir,bagaimana jadinya kalau dulu saya tidak langsung mondok setelah lulus sekolah dasar. Bisa jadi saya tidak bakal mau dan memberontak karena sudah sangat nyaman menikmati asyiknya pergaulan remaja  dengan segala kenakalannya seperti sekarang.
 Sekarang saya bangga menjadi santri, karena dengan menjadi santri saya sedikit tahu tentang ilmu agama. Saya bangga menjadi santri karena dengan menjadi santri, saya bisa merasakan kebersamaan dan kemandirian yang tidak bisa saya dapatkan di luar penjara suci. Saya bangga menjadi santri  karena saat menjadi santri saya dididik untuk menjadi insan yang islami. Saya bangga menjadi santri, karena dari santri saya tahu bahwasanya ilmu dunia dan  akhirat harus seimbang agar tidak salah dalam melangkah. 
Terima kasih  kepada orang tua saya yang telah memasukkan saya ke pesantren untuk mengeyam ilmu di penjara suci. Sekarang saya sadar bahwasanya mondok itu penting, walaupun mengekang diri.
  Ayo mondok,jadi santri itu keren. Ukirlah cerita manis mu di penjara suci
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Anak Merpati Belajar Terbang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com