Di Antara Absensi dan Adzan: Catatan dari Masjid Kampus UNIKI Bireuen di Era Digital
Oleh: Yusri Abdullah
Siang itu, lonceng waktu nyaris tak terdengar—yang terdengar justru notifikasi. Di sudut kampus, beberapa mahasiswa masih menunduk pada layar, menuntaskan chat terakhir, menggulir kabar yang tak pernah selesai. Lalu adzan berkumandang. Ada yang bergegas, ada yang menunda, ada pula yang diam—seolah panggilan itu bukan untuknya. Di momen sesederhana ini, kita melihat satu kenyataan yang sering luput: manusia modern tidak kekurangan informasi, tapi kerap kehilangan arah.
Di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, salat berjamaah telah dihidupkan sebagai denyut rutin kampus. Saf tersusun, imam berdiri, gerakan serempak. Dari luar, semuanya tampak tertib. Namun di balik kerapian itu, tersimpan pertanyaan yang lebih halus: apakah yang hadir hanya tubuh, atau juga kesadaran? Seperti cermin yang dipoles setiap hari, ritual bisa berkilau, tapi tidak selalu memantulkan wajah terdalam.
Absensi dan adzan—dua kata yang tampak berseberangan, padahal bisa saling menguatkan. Absensi adalah struktur; adzan adalah makna. Tanpa struktur, manusia mudah lalai. Tanpa makna, manusia mudah hampa. Kampus sering berhasil pada yang pertama, namun ragu pada yang kedua. Akibatnya, mahasiswa belajar hadir tepat waktu, tetapi belum tentu belajar hadir sepenuh jiwa.
Ibadah, jika dipahami dengan bijak, adalah teknologi paling tua untuk menata diri. Ia tidak membutuhkan listrik, tetapi mampu menyalakan kesadaran. Ia tidak bergantung pada jaringan, tetapi menyambungkan manusia pada tujuan. Salat berjamaah, khususnya, adalah algoritma disiplin yang sederhana: waktu yang pasti, gerakan yang serempak, kepemimpinan yang diikuti. Di dalamnya ada pelajaran yang tidak tertulis di buku teks—tentang ritme, tentang ketundukan, tentang kebersamaan.
Namun, seperti halnya algoritma, ia hanya bekerja jika dijalankan dengan benar. Ketika salat direduksi menjadi kewajiban administratif, ia kehilangan daya transformasinya. Mahasiswa hadir, tetapi tidak bertumbuh. Mereka berdiri, tetapi tidak bergerak ke dalam. Ini bukan kegagalan ibadah, melainkan kegagalan kita memaknainya.
Di Aceh, tradisi berjamaah bukan barang baru. Dari meunasah hingga masjid, masyarakat tumbuh dalam ritme kolektif yang religius. Tetapi kampus adalah ruang transisi—tempat di mana tradisi bertemu kebebasan. Mahasiswa datang dengan bekal nilai, lalu berhadapan dengan pilihan. Di sinilah peran kampus menjadi krusial: apakah ia sekadar melanjutkan kebiasaan, atau membantu melahirkan kesadaran baru?
Sering kali, program keagamaan di kampus terjebak dalam formalisasi. Kehadiran dicatat, tetapi pemahaman tidak ditumbuhkan. Partisipasi diukur, tetapi refleksi diabaikan. Ini seperti menanam pohon tanpa menyiram akar—daunnya mungkin hijau sesaat, tetapi tidak akan bertahan lama. Dalam jangka panjang, kita berisiko melahirkan generasi yang terbiasa menjalankan ritual, namun asing dengan maknanya.
Padahal, masjid kampus memiliki potensi yang jauh lebih besar. Ia bisa menjadi ruang temu antara iman dan ilmu, antara spiritualitas dan intelektualitas. Bayangkan jika setelah salat, ada jeda beberapa menit untuk refleksi: tentang kejujuran dalam menulis, tentang disiplin dalam menyelesaikan tugas, tentang makna belajar sebagai ibadah. Tidak perlu panjang, cukup tajam dan relevan. Seperti tetes air yang jatuh terus-menerus, ia akan mengikis batu kesadaran yang keras.
Di era digital, tantangan mahasiswa bukan lagi kekurangan akses, melainkan kelebihan distraksi. Informasi datang tanpa henti, tetapi tidak semua membawa makna. Dalam kondisi ini, salat berjamaah bisa menjadi ruang hening yang menyelamatkan—tempat di mana mahasiswa belajar berhenti sejenak, menata ulang niat, dan mengingat tujuan. Ia adalah jeda yang justru menggerakkan.
Ada analogi sederhana: hidup seperti menulis skripsi panjang. Banyak bab, banyak revisi, banyak godaan untuk menyerah. Tanpa disiplin, ia tidak akan selesai. Tanpa makna, ia tidak akan bernilai. Salat berjamaah mengajarkan keduanya sekaligus. Ia melatih konsistensi, sekaligus mengingatkan arah. Jika mahasiswa mampu memindahkan pelajaran ini ke ruang akademik, maka belajar tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari perjalanan.
Namun perubahan tidak lahir dari aturan semata. Ia tumbuh dari keterlibatan. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk menjadi subjek, bukan objek. Biarkan mereka berbagi pengalaman, menyampaikan refleksi, bahkan memimpin diskusi kecil. Ketika mereka merasa memiliki ruang itu, hubungan dengan masjid kampus akan berubah—dari keterpaksaan menjadi kebutuhan.
Dosen dan pengelola kampus juga memiliki peran penting. Mereka bukan hanya penjaga sistem, tetapi penafsir makna. Cara mereka memandang salat berjamaah akan menentukan bagaimana mahasiswa memaknainya. Jika ia dilihat sebagai tambahan, mahasiswa akan menganggapnya beban. Jika ia diposisikan sebagai inti pembentukan karakter, mahasiswa akan mulai melihat nilainya.
Dalam perspektif yang lebih luas, ini bukan sekadar soal ibadah di kampus, tetapi tentang membangun manusia utuh. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang cerdas, tetapi juga yang berkarakter. Kecerdasan tanpa nilai bisa melahirkan kecerdikan yang menyesatkan. Sebaliknya, nilai tanpa kecerdasan bisa membuat seseorang kehilangan arah dalam kompleksitas zaman. Keseimbangan keduanya adalah kunci.
Di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, langkah awal sudah diambil. Salat berjamaah telah menjadi bagian dari denyut kampus. Tantangannya sekarang adalah menaikkan levelnya—dari rutinitas menjadi budaya, dari kewajiban menjadi kesadaran, dari simbol menjadi substansi. Ini bukan pekerjaan sehari dua hari, tetapi proses panjang yang membutuhkan konsistensi.
Barangkali, perubahan besar memang tidak selalu datang dari hal yang besar. Ia sering lahir dari kebiasaan kecil yang dijalankan dengan makna. Dari langkah-langkah sederhana yang diulang dengan kesadaran. Dari saf-saf yang tampak biasa, tetapi menyimpan potensi luar biasa.
Di antara absensi dan adzan, kita tidak perlu memilih salah satu. Kita hanya perlu menyatukannya. Absensi menjaga keteraturan, adzan menghidupkan makna. Ketika keduanya berjalan seiring, salat berjamaah tidak lagi menjadi beban administratif, tetapi menjadi energi yang menggerakkan kehidupan akademik.
Dan mungkin, di tengah riuhnya dunia digital yang tak pernah diam, justru dari ruang hening itulah lahir generasi yang mampu berpikir jernih, bertindak lurus, dan hidup dengan tujuan. Sebab pada akhirnya, ilmu yang tinggi membutuhkan hati yang tertata. Dan hati yang tertata, selalu punya jalan untuk sampai.













