Lagu yang Menemuiku dan Malam Itu Aku Tidak Tidur

Oleh Safirah Salsa Bilah
Berdomisili di Tegal, Jawa Tengah
Malam itu lampu kamar sudah mati pukul 10. Tapi aku masih ngumpet di bawah selimut, nyorot HP pakai senter kecil. Halaman 82. Aku tak bisa berhenti.
Awalnya aku tak punya niat membaca _Terbitlah Fajar_. Buku itu sudah nongkrong di rak kamar 3 bulan, hadiah dari kakak kelas. Sampulnya kusam, sinopsisnya biasa saja. Aku lebih memilih scroll TikTok daripada buka buku tebal 300 halaman.
Tapi sore itu tak ada kuota. Bosan. Aku buka halaman pertama cuma buat “menghabiskan waktu 5 menit”. Salah besar.
Kalimat pertama saja sudah menarik. Rasanya kayak ngobrol langsung dengan penulisnya.Aku ketawa sendiri pas baca tingkah Rudi yang polos, tapi keras kepala. Baru 20 halaman, aku lupa waktu.
Yang bikin aku ketagihan itu pas adegan Pak Hasan bilang, “Ilmu itu buat diamalkan, bukan disimpan.” Aku diam lama. Kayak ditampar pelan.
Selama ini aku punya hobi menyanyi dari kecil. Sekarang sudah dewasa, aku ingi ubah hobi itu jadi karier. Tapi jalannya tak kelihatan. Aku sering mikir, buat apa lanjut kalau ujungnya tak jelas? Baca bagian itu, Aku ingat Pak Hasan. Dia mengajar mengaji tiap hari, meski muridnya cuma segelintir dan tempatnya sederhana sekali . Kalau dia tak menyerah, kenapa aku harus menyerah?
Pukul 1 pagi orangtuaku mengetik pintu. “Sudah tidur! Besok sekolah!” Aku pura-pura sudah matikan lampu. Padahal di bawah selimut, aku masih lanjut baca. Pagi harinya mataku merah, tapi senyum-senyum sendiri. Tidak rugi.
Setelah tamat, rasanya kosong. Kayak habis pisah sama temen baru akrab. Tapi ada yang berubah. Aku mengerti sekarang: harus usaha dulu. Jangan menyerah pada keadaan. Sekecil apapun, pasti ada jalannya. Sebelumnya aku pikir buku cuma buat tugas sekolah. Ternyata buku bisa jadi tempat kita menemukan diri kita sendiri.
Sekarang _Terbitlah Fajar_ sudah balik ke rak. Tapi rasanya masih ada. Tiap kali aku mimpi buat nyanyi di panggung, aki ingat adegan itu lagi. Dan akun tahu, aku bakal mencari perasaan itu lagi. Di buku selanjutnya.
Soalnya sekali kita merasa ketagihan baca yang benar , susah buat balik jadi orang yang cuma scroll saja.












