Mandapan di Sirapan: Antara Mitos dan Petuah Leluhur

Oleh Fileski Walidha Tanjung
Ada sebuah ironi yang terus tumbuh di tengah peradaban modern. Kita mampu memetakan hampir seluruh permukaan bumi melalui satelit, tetapi semakin sulit menemukan jalan pulang menuju diri sendiri. Kita dapat menyimpan jutaan foto di dalam gawai, namun perlahan kehilangan kemampuan menyimpan makna di dalam ingatan.
Di tengah percepatan zaman itulah saya menghadiri Mandapan Akad Legen bertajuk “Merawat Tradisi, Menjaga Warisan” di Pendopo Tedjo Kusuman, Punden Lancursari, Desa Sirapan, Kabupaten Madiun, pada Minggu Legi, 28 Juni 2026.
Malam itu saya membawakan monolog Jerami dalam Cermin: Jalan Menuju Pulang, sebuah naskah yang saya tulis sebagai ikhtiar kecil untuk mengajukan kembali pertanyaan yang telah lama dihindari: benarkah yang sedang kita tinggalkan hanyalah tradisi?
Selama ini punden sering dipahami sebagai peninggalan masa lalu yang harus dijelaskan melalui dua kutub yang saling bertentangan. Sebagian memandangnya sebagai benda keramat yang tak boleh disentuh. Sebagian lain menganggapnya sekadar tumpukan batu yang tidak lagi memiliki arti.
Padahal, mungkin keduanya sedang melewatkan sesuatu yang lebih penting. Yang diwariskan leluhur bukanlah batu, melainkan cara berpikir. Punden adalah perpustakaan tanpa huruf. Sebuah ruang tempat manusia belajar menempatkan dirinya di hadapan alam.
Saya semakin memahami gagasan itu ketika monolog tersebut berkolaborasi dengan pelukis Dwi Kartika Rahayu. Di atas kanvas yang terus bertumbuh seiring alur pertunjukan, ia melahirkan lukisan berjudul Doa untuk Hutan dan Mata Air.
Tidak ada ilustrasi yang sekadar mengikuti cerita. Yang lahir justru dialog. Kata-kata dan sapuan kuas saling mengoreksi, saling melengkapi, seolah suara dan warna sedang mencari bahasa yang sama. Monolog berbicara tentang akar, mata air, pohon, dan mitos. Lukisan menjawabnya dengan hutan yang memeluk kehidupan. Keduanya bertemu pada satu kesadaran bahwa peradaban hanya dapat bertahan apabila manusia masih bersedia mendengar bahasa alam.
Di sinilah saya mulai melihat mitos dari sudut yang berbeda. Mungkin leluhur kita tidak menciptakan kisah-kisah tentang penunggu pohon besar, mata air keramat, atau Asu Mbaung untuk menakut-nakuti anak cucunya. Barangkali mereka sedang menyusun teknologi konservasi yang paling efektif pada zamannya.
Ketika hukum belum mengenal istilah kawasan lindung, mitos telah lebih dahulu menjaga hutan. Ketika belum ada undang-undang tentang perlindungan mata air, cerita telah menghalangi tangan-tangan serakah menebang pohon di sekitarnya. Dengan kata lain, mitos bukanlah lawan pengetahuan. Ia adalah bahasa ekologis yang lahir sebelum ilmu pengetahuan menemukan istilahnya.
Ironisnya, masyarakat modern sering merasa lebih rasional daripada leluhurnya, tetapi justru menghasilkan kerusakan ekologis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kita menghapus mitos atas nama kemajuan, lalu menggantinya dengan izin tambang, pembukaan kawasan hutan, dan eksploitasi yang diberi nama pembangunan. Kita menganggap pohon tidak memiliki roh, lalu memperlakukannya lebih buruk daripada benda mati.
Kita percaya teknologi mampu menyelamatkan bumi, sementara pada saat yang sama teknologi dipakai untuk mempercepat penghancurannya. Barangkali yang hilang bukanlah mitos, melainkan rasa hormat.
Monolog Jerami dalam Cermin sesungguhnya tidak sedang mengajak orang kembali hidup pada masa lampau. Jalan menuju pulang bukanlah perjalanan mundur, melainkan perjalanan ke dalam. Pulang kepada cerita, karena sebuah bangsa kehilangan masa depannya ketika melupakan narasi yang membentuknya.
Pulang kepada ingatan, sebab kemajuan tanpa memori hanya akan melahirkan pengulangan kesalahan yang lebih canggih. Dan akhirnya, pulang kepada diri sendiri, tempat manusia kembali menyadari bahwa ia bukan penguasa alam, melainkan bagian yang rapuh di dalamnya.
Sirapan pada malam itu mungkin hanyalah sebuah desa kecil di kaki sejarah. Namun dari sanalah saya melihat kemungkinan yang lebih besar. Jika sebuah punden mampu mengajarkan penghormatan kepada mata air, jika sebuah mitos mampu menyelamatkan hutan, jika sebuah monolog dan sebuah lukisan mampu mempertemukan sastra dengan ekologi, maka harapan selalu mempunyai tempat untuk tumbuh.
Dari Sirapan menuju Nusantara yang lestari, loh jinawi, menjaga hutan berarti menjaga air; menjaga air berarti menjaga kehidupan; menjaga kehidupan berarti menjaga peradaban.
Barangkali sudah saatnya kita berhenti bertanya apakah mitos itu benar atau salah. Pertanyaan yang jauh lebih mendesak adalah: ketika semua mitos telah kita tinggalkan, semua pohon telah kita tumbangkan, semua mata air telah kita keringkan, dan semua cerita telah kita lupakan, masih adakah jalan yang dapat kita sebut sebagai jalan pulang.











