Oleh Aksa Zabarnusy Azhar,
Mahasiswa Semester 4 Prodi Psikologi, UIN Ar Raniry, Banda Aceh
Provinsi Aceh diketahui sebagai provinsi dengan indeks kebahagiaan keluarga tertinggi di Indonesia. Menurut data yang dipaparkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional(BKKBN) pada tahun 2024, provinsiAceh menduduki peringkat pertama sebagai provinsi dengan keluarga paling bahagia di Indonesia.
Tentunya hal ini bukan hanya kebetulan belaka, di mana Aceh sebagai provinsi paling barat Indonesia bisa memiliki indeks kebahagiaan yang tinggi.
Jika kita lihat lebih dalam, Aceh sendiri sebenarnya memiliki latar belakang keluarga yang menekankan pada kebersamaan dan kerekatan antar anggota keluarga.
Saya sendiri melihat khususnya pada keluarga yang masih berpegang pada konsep tradisional, kebersamaan merupakan suatu ciri khas yang mengakar. Di zaman modern ini, kita menyebut keluarga dengan tingkat keakraban dan kehangatan yang tinggi ini dengan istilah “cemara”.
Konsep cemara ini sebenarnya adalah bentuk ideal dari suatu keluarga yang memiliki dan menjalankan nilai – nilai kekeluargaan itu sendiri. Keluarga dapat diartikan sebagai rumah, sandaran, ataupun tempat bergantung.
Sebagai “tempat aman”, keluarga harusnya memiliki aspek kehangatan yang menimbulkan kenyamanan antar anggotanya. Ini tentunya sejalan dengan konsep cemara. Akan tetapi, makna keluarga cemara itu lebih dari sekadar bentuk keharmonisan di permukaan.
Konsep cemara berarti keluarga akan terus hadir Ketika anggotanya menghadapi tantangan ataupun masalah. Di sini, keluarga harus bisa berperan dengan fleksibel di mana selain menjadi tempat berlindung, juga harus mampu berperan sebagai supporter yang solutif dalam mendukung tiap anggotanya.
Contohnya, orang tua yang terus mendukung anaknya atau seorang kakak yang tetap merangkul adiknya. Dalam konsep cemara, kehadiran keluarga yang diharapkan bukan hanya fisiknya, tapi juga kenyamanan kondisi emosional anak di mana anak merasa diperhatikan dan juga didengar.
Dalam jurnal social scince and medicine disebutkan bahwa Kesehatan mental anak dapat terpengaruh dengan buruk terhadap konflik dalam keluarga yang berkelanjutan. Hal ini tentunya akan berdampak buruk terhadap kebahagiaan dan tingkat kesejahteraan mental anak.
Konsep keluarga cemara yang menekankan pada aspek kehangatan tentunya akan menjadi solusi yang baik. Dengan kondisi dimana keluarga menjadi sarana suportif dan pemberi rasa aman. Konflik dalam keluarga dapat ditekan dan disalurkan dengan cara yang tidak mengganggu kesejahteraan mental dan kebahagiaan anggotanya.
Anak yang terlahir dari keluarga cemara cenderung akan memiliki kondisi emosional yang lebih stabil. Hal ini didasari dampak yang diberikan konsep cemara yang mencakup Kesehatan mental yang baik, kemampuan bersosial lebih baik, dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Aspek – aspek ini akan membentuk lingkungan bahagia di mana anak akan tumbuh dengan sehat dan harmonis. Dalam jurnal dakwah dan komunikasi disebutkan bahwa ciri manusia yang sehat dapat dilihat dari 4 kriteria, yakni fisiologis, psikologis, sosiologis, dan ruhani.
Jadi, kondisi seseorang memiliki fisik yang sehat, Kesehatan mental yang baik, kemampuan sosial yamg mumpuni, dan kondisi spiritual atau ruhani yang stabil, menandakan bahwa seorang individu merupakan manusia yang sehat. Individu sehat adalah pondasi besar dalam membangun keluarga yang baik. Individu yang sehat tentu saja akan memiliki pikiran yang sehat.
Dengan pikiran yang sehat ini lah konsep cemara dapat diaplikasikan dalam membentuk keluarga harmonis. Hambatan yang mungkin dialami dalam melaksanakan konsep cemara adalah adanya bias terkait metode lama yang berorientasi kekerasan untuk menetapkan keharmonisan.
Sebagaimana kita ketahui, metode keluarga tradisional menekankan kepatuhan mutlak dibalik kekerasan sebagai sarana penertiban. Lingkungan initentu saja tidak dapat sepenuhnya dikatakan buruk. Banyak saya temui pada generasi orang tua kita yang sukses bahkan dari metode tradisional tersebut.
Tapi, mengikuti perkembangan zaman, kebutuhan akan rasa aman dalam keluarga semakin meningkat karena melonjaknya tekanan dariluar. Dari tekanan belajar hingga tekanan kerja, tentunya keluarga harus dapat merespon hal ini dengan baik.
Keluarga harus mulai memainkan peran sebagai “tempat aman” dengan lebih baik. Dari mulai memberi rasa aman hingga pemberi solusi yang suportif. Konsep keluarga cemara mencakup dengan baik hal yang diperlukan dalam membentuk keluargayang sehat. Di zaman ini, konsep keluarga dengan kehangatan dan saling rangkul seperti ini menjadi sangat dibutuhkan karena semakin meningkatnya tekanan baik dari dalam maupun luar keluarga itu sendiri.
Menurut direktur Kesehatan jiwa Kementerian Kesehatan(Kemenkes), terjadinya peningkatan angka bunuh diri di Indonesia dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat ada sebanyak1.450 kasus di 2024.
Melonjaknya angka ini bukan hanya karena kurangnya literasi Kesehatan jiwa, tapi adanya ketiadaan peran keluarga yang mampu memberi rasa aman dan solusi yang suportif. Hal ini tentu saja memprihatinkan.
Indonesia sebagai salah satu negara dengan indeks kebahagiaan tinggi harusnya dapat menanggulangi masalah seperti ini. Menurut saya, konsep keluarga cemara harus terus dipromosikan sebagai opsi dalam membentuk hubungan keluarga yang harmonis.
Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah tegas yang sekiranya dapat mengatasi permasalahan ini. Dimulai dengan edukasi keluarga sehat-sehat dini. Hal ini tentu saja akan memperkecil risiko terciptanya lingkungan keluarga yang buruk ke depannya.
Memperkirakan budaya di Indonesia, masa ideal edukasi dapat dimulai dari masa sekolah menengah. Edukasi ini tentu saja akan membantu siswa mengenal lebih awal tentang lingkungan keluarga sehat.
Bagi yang terlahir dalam lingkungan yang sudah semulanya buruk, dengan edukasi ini diharapkan dapat memutus rantai lingkungan buruk tersebut demi menjamin kehidupan generasi selanjutnya yang lebih baik dan bahagia.
Setelah edukasi, pemerintah juga sekiranya dapat membentuk satu layanan publik yah yang fokus kerjanya adalah menyediakan informasi dan literasi terkait pentingnya lingkungan keluarga yang sehat. Lembaga ini harus mengambil peran di masyarakat yang menyediakan penyediaan informasi tidak hanya terbatas pada lingkungan pelajar, akan tetapi juga merambah pada orang – orang yang sudah berkeluarga sekalipun.
Di sini, informasi yang disediakan kiranya akan menggugah pola pikir berkeluarga yang lebih baik dan sesuai dengan perkembangan zaman. Bagi yang baru ingin berkeluarga, informasi terkait persiapan menjadi keluarga cemara juga dapat menjadi acuan untuk membangun hubungan keluarga yang harmonis ke depannya. Selain itu, melibatkan agama dalam proses pembentukan keluarga juga dapat menjadi opsi yang baik.









Diskusi