POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

BIARKAN CEMARA MENDESAU

RedaksiOleh Redaksi
August 13, 2022
BUKU ITU AKU SIMPAN
🔊

Dengarkan Artikel

        Oleh. Delia  Rawanita

 

Minggu pagi,  aku bersiap ke kebun berdua dengan ayah. Maklumlah sekarang sedang   musim panen cengkeh. Kasihan jika ayah sendirian . Perjalanan ke kebun melewati jalan beraspal, di kiri gunung dan  sebelah kanan jalan  terbentang laut dengan rimbunan pohon cemara yang tertata rapi . Biasanya sepulang dari kebun, tak lupa singgah di warung pinggir pantai. Lalu kami makan mie rebus dan teh hangat sambil  menikmati angin sepoi- sepoi, serta mendengarkan nasihat yang sudah aku hafal isinya yakni  agar tetap menuntut ilmu dan memiliki keahlian. Ayah tidak ingin aku putus sekolah seperti beliau dulu, makanya ayah ingin aku menjadi seorang Insinyur Pertanian, sehingga ilmu yang kuperoleh nantinya bisa bermanfaat buat masyarakat.

Desa tempat kami tinggal merupakan penghasil cengkeh terbaik. Jadi hampir semua penduduk menjadi petani cengkeh dan hasilnya lebih dari cukup membiayai pendidikan dan biaya hidup lainnya.

Setiba di area kebun, terlihat pohon pohon di penuhi cengkeh yang sedang meranum matang. Kalau sudah masa panen begini , biasanya aku diberi jatah panen  oleh ayah  sebatang pohon  dekat pondok tempat istirahat  kami. Aku  boleh memetik sesukanya untuk keperluan  sekolah dan sisanya ditabung .

Syukurlah, dengan begini aku bisa berbagi dengan kawan yang kurang mampu di sekolahku, bahkan tidak jarang kuajak mereka ikut ke kebun membantu kami. Ketika pulang, mereka dapat penghasilan tambahan.

Pagi ini wali kelas masuk untuk mengumumkan bahwa beberapa hari lagi akan diadakan acara sepeda santai dan kemping bersama warga sekolah. Bagi peserta yang bersedia ikut harus mendapat izin dari orang tua terlebih dulu,  serta membayar biaya akomodasi lainnya. Tentu saja disambut dengan gembira oleh semua siswa.

Kupacu sepeda motorku menuju rumah tanpa memperdulikan matahari yang menyengat.  Aku harus bertemu ayah sekarang. Kucari di setiap ruang, ternyata ayah di halaman belakang rumah sedang menjemur cengkeh hasil  panen kemaren. Dengan tak sabar kuceritakan bahwa Sabtu ini anak sekolahku  akan mengadakan kemping di laut lhoknga. Aku sangat bersemangat  untuk ikut, sebab kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan dan menjadi  pengalaman menyenangkan karena diikuti semua warga sekolah.

Agak susah meyakinkan ayah , maklumlah beliau kurang setuju untuk acara di luar  sekolah , khawatir keselamatan   di perjalanan, apalagi berangkatnya dengan kendaraan sepeda secara beramai ramai, pastilah mengundang bahaya. Begitu alasan  ayah panjang lebar, namun   syukurlah setelah aku yakinkan bahwa kami akan didamping oleh guru dan wali kelas serta pengamanan dari pihak lalu lintas, barulah surat izin dari wali kelas bersedia ditanda tangani ayah.

Aku makin rajin membantu ayah , tentu saja agar pekerjaan lekas selesai juga untuk mengambil hati beliau. Kali ini tugasku  memetik cengkeh yang tinggal pilihan saja. Soalnya cengkeh hanya boleh dipetik  pada saat  kepala bunga kelihatan sudah penuh, tapi  belum membuka dan karena masa  matang petik  tidak serempak, makanya  bisa diulang  setiap  10 atau 2 minggu lag. Apalagi untuk mendapatkan kualitas bagus cengkeh kemudian diperam sekitar satu hari agar warna cengkeh menjadi coklat mengkilat, barulah di jemur. Nah , itu saatnya bagiku aroma cengkeh berubah menjadi aroma uang.

Sabtu ,  hari yang ditunggu tiba. Pagi sekali aku bersiap dengan sepeda menuju sekolah.  Padahal arah jalan menuju Lhoknga tempat yang dituju melewati desa tempatku tinggal. Tapi  peraturan yang harus dipatuhi adalah sebelum jalan kami harus diabsen satu persatu  dan berangkat dari sekolah. Untunglah ,  bersepeda bukan hal baru buatku karena sering ke kebun naik sepeda  bersama ayah. “ Alah bisa karena biasa”. Begitu kata guruku.

Sepanjang perjalanan sangat berarti buatku. Kunikmati kebersamaan ini tanpa harus berlomba biar cepat sampai ketujuan, apalagi ada tugas yang dibebankan oleh wali kelas sebagai pengawal regu. Sebahagian rombongan sudah melaju ke depan, ada yang santai berpasangan bersama pacar sedang aku tetap di posisi belakang sesuai tugas diberikan. Berjaga – jaga kalau ada masalah di perjalanan dan memberi laporan kepada Wali kelas.

Setengah perjalanan sudah aman dilewati tanpa masalah. Tapi tunggu dulu, dari jauh aku lihat seseorang menepi di pinggir jalan terpisah dari kelompok. Kelihatannya ia sengaja ditinggal pasangannya. Kuperhatikan lagi seperti wajahnya tak asing buatku , ternyata dia Leina adik kelas sang juara olimpiade Matematika  di sekolah kami.

“ Kenapa kok berhenti , ada apa dengan sepedamu.. “  

“ Sepedaku nggak bisa jalan , bang” sahutnya dengan mata berlinang.

Dengan sigap aku turun dari sepeda, kulihat rantai sepedanya jatuh . Aku mencoba membantu,  digeserkan badannya ke pinggir agar aku bisa leluasa bekerja. Kulirik  wajahnya yang dari tadi terus saja memperhatikan gerakan jemariku, manis sekali, aku membatin .

📚 Artikel Terkait

KEPEDULIAN UNTUK MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK

Smokol: Tafsir Feminis di Negeri Para Sultan

Mitos Kemenangan Diplomasi Prabowo

Keberadaan Penulis di Era Kecerdasan Artifisial

Setelah sepeda selesai diperbaiki , aku mengajaknya kembali berangkat . Sepanjang perjalanan sebenarnya aku ingin ngobrol tentang hal yang berkenaan dengan kejadian yang kulihat tadi dari kejauhan, sampai dia menangis kebingungan ditinggal dengan kondisi sepeda rusak, tapi  kutepis agar tidak merusak suasana hatinya. Kudayung sepeda agak  lebih cepat agar  pikiranku fokus ke tujuan, namun belum berapa jauh kudengar ada teriakan memanggil manggil. Aku menoleh kebelakang, 

“ Bang,  tolong rantai sepedanya  jatuh lagi ” kulihat wajahnya   khawatir soalnya rombongan  sudah mendahului kami , takut ditinggal sendirian lagi.  Aku berusaha meyakinkan bahwa dia akan aman dan aku akan mengawalnya sampai di tempat, barulah dia terlihat lega.  

Sambil menyelesaikan pekerjaan  dia mencoba membuka pembicaraan dengan cara berkenalan denganku.  

“ Nama abang siapa, namaku Marleina, panggil aja Leina “ katanya sedikit malu. Mungkin agak terpaksa karena rasa tak enak hati telah dibantu membetulkan sepeda  sampai dua kali, mungkin.

“ Bang Yasin “ kataku sambil  menyambut jabatan tangannya. Sial, aku sampai lupa bahwa tanganku masih kotor karena membetulkan rantai sepedanya.

“ Maaf , nggak apa “ katanya sambil tertawa. Dikeluarkan air mineral, dituangkannya ke tanganku lalu dibersihkan dengan  sapu tangan dari dalam tas dan tanpa ragu. Begitu cepat aku gugup. Jantungku berdegup kencang, badanku panas dingin. Mana pernah aku bersentuhan dengan perempuan, apalagi perempuan idola  sekolah.

Ya ..Tuhan , betapa beruntungnya aku, kisah hatiku kiranya  berawal dari sini.

Kami kembali memacu sepeda berdua menyisir jalan menuju tempat tujuan, Pantai Lhoknga. Takut sepedanya bermasalah lagi, aku mencuri kesempatan. Aku bantu dorong dengan menggunakan sebelah kaki, agar tidak terlambat sampai ke tujuan. Kulihat dia tertawa dan terlihat santai, namun tetap saja  tak ada juga yang memulai bicara. Aku sepertinya kehabisan kata kata.  

Untunglah, keadaan seperti itu tak berlangsung lama. Dari jauh lokasi yang dituju telah terlihat kesibukan sedang berlangsung. Ada yang mendirikan  kemah dan ada pula yang mulai mendekat ke laut. Beberapa teman sekelasku memandang dengan tatapan iri melihat aku tiba di lokasi  bersama Leina, apalagi aku ikut mencari dimana rombongan kelasnya. Tidak terlalu sulit , karena di depan kemah telah ditulis kelas dan nama peserta masing masing.  

Syukurlah , kemah laki laki dan perempuan tidak berjauhan letaknya, tujuannya mudah dipantau guru pendamping.  Begitu juga aku, bisa memantau si Leina gadis manis sahabat baruku.

Suasana menjadi tambah nikmat ketika salat Ashar berjamaah di tepi pantai di temani debur ombak . Bersama teman   kami mencoba istirahat di bawah pohon cemara. Semilir angin senja mendesau menggelitik rasa hatiku. Aku tersenyum  mengingat kejadian perjalanan tadi. Ada rasa nyaman menyelinap, romaku meremang senang, hatiku berbunga bunga. Duh, pikiran macam apa ini.

Kulepas pandangan ke laut. Kulihat Leina di sana bersama teman temannya. Namun entah apa yang mereka bicarakan, Leina bergegas menjumpai seseorang perempuan yang sedang duduk berpasangan. Seperti terjadi perselisihan, terdengar suara bertengkar, tak lama kemudian  seorang laki laki mengajak pergi meninggalkan Leina sendiri.  Ada apa dengan Leina, aku membatin.

Pantai senja itu dipenuhi banyak aktifitas, ada yang berfoto bersama, ada yang hanya yang mengabadikan indahnya pemandangan. Kasihan Leina , merenung sendirian. Setelah agak lama kuperhatikan keadaan Leina seperti itu, aku memberanikan diri beranjak mendekatinya, walaupun sempat  dicegah kawanku, tapi kuanggap Ini sebuah peluang. Darah mudaku memanggil.

 “Abang boleh duduk di sini ya,  tak baik sendiri di tepi pantai  ”   Dia menoleh ke arahku dan  mengangguk perlahan. Kelihatan jelas dia sedang terluka

” Lihat Liena,  laut tak pernah lelah menepikan buih , begitu terus selama ada debur ombak ” pancinganku mengena tepat di jantung . Tanpa disuruh Liena  mulai bercerita tentang betapa sakitnya kecewa. Ternyata selama ini mereka berdua diam diam menghianati kepercayaan Liena. Buktinya di depan semua orang mereka berani  bermesraan , matanya mengarah ke bawah pohon cemara.

Kulihat dua sejoli sedang bercengkerama, mesra. Mereka juga yang tadi tega meninggalkan Liena sendirian di waktu sepeda yang dikendarainya rusak.

” Ah, lelaki pendusta seperti itu dipikirkan.  Baru jadi pacar sudah begitu, bagaimana  kalau dijadikan suami, pasti lebih parah” Aku  sengaja membakar hatinya. Kulihat senyum di wajahnya,  tangannya meremas pasir sambil menarik nafas panjang.

” Kapok punya pacar ganteng, bang. suka tebar pesona ” ujar Leina datar.

” Iya, mending kayak abang Yasin , wajah biasa aja, tapi dijamin setia”  timpalku. Kulihat Liena tertawa lepas, dilemparkan pasir yang ada di genggaman tangannya ke arahku, lalu bangkit berlari.  Aku pun ikut mengejarnya , kami berlarian di pantai.  Rona sedih di wajah Liena sirna sudah.

Senja makin jatuh, semburat bianglala perlahan menghilang. Kuajak Leina menyisir pantai, tak terasa kami tangan saling menggenggam. Hanya debur jantung mengiring  Indahnya malam . Kubiarkan desauan angin membisikkan nyanyian cinta  untuk kami berdua, Yasin dan Leina.

 

Kuta Raja,  Agustus 2022

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Sejarah (Dunia)

Elliott Ness

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00