Dengarkan Artikel
Oleh Asmaul Husna / Inong Literasi
Matahari bersinar indah sekali. Warnanya yang kuning keemasan pelan-pelan muncul di ufuk timur. Aku sangat menyukai suasana pagi. Udara yang segar dan tetesan embun di ujung daun terasa begitu sejuk. Ku hirup udara pagi mengawali hari penuh semangat.Ayah baru tiba dari kebun di belakang rumah mengambil pucuk daun pisang yang masing menggulung.
“Putroe, tolong buka gulungan daun pisang itu dan jemur sebentar ya”. Titah ibu”Baik Bu” Jawabku singkat. Aku segera menjalankan tugas yang diberikan ibu.
“Agar mudah saat digunakan, daunnya tidak mudah sobek”. Begitu jawab ibu suatu saat ketika aku bertanya mengapa daun pisang itu harus dijemur.
“Putroe, tolong ambilkan daun pandan” Kali ini titah Kak Dara, kakak sulungku.
“Baik Kak” Jawabku
Aroma manis dan wangi pandan yang tercium dari kelapa yang dimasak kak Dara, menyebar ke seluruh dapur. Sungguh menjadi ujian tersendiri saat masih menjalankan ibadah puasa. Kak Dara sedang membuat inti timphan untuk persiapan lebaran. Sebenarnya inti timphan itu ada yang berupa srikaya, tapi karena keluargaku lebih menyukai inti kelapa, maka ibu lebih sering membuat yang inti kelapa. “Rasanya lebih gurih” Begitu ayah pernah berkata.
Suasana ini selalu menjadi suasana yang kutunggu dan kurindu. Suasana menyambut lebaran dengan tradisi membuat timphan. Sebuah makanan tradisional yang terbuat dari pisang atau labu kuning yang dicampur dengan tepung ketan, ditambah inti kelapa atau srikaya yang dibungkus daun. Rasanya yang manis dan lengit selalu membuat ketagihan. Kata ibu salah satu cara bersyukur di hari raya adalah memuliakan tamu dengan menyajikan makanan terbaik untuk mereka, Maka jadilah timphan menu andalan yang harus ada setiap lebaran tiba.
Aroma labu kuning yang sudah dikukus kembali menggoda hidungku. Ibu sedang membuat adonan timphan. Aku suka sekali adonan yang belum dimasak, jika bukan sedang puasa pasti aku sudah mencicipinya. Adonan yang masih mentah dicampur manisnya kelapa yang sudah dimasak eeeehhhmm, lezatnya. Walaupun ibu sering sekali protes “Itu masih mentah, belum bisa dimakan” Tapi aku tidak peduli.
Adonan siap, daun sudah rapi sekarang saatnya membuat. Aku hanya kebagian tugas membuat beberapa bulatan kecil yang nantinya akan dipipihkan ibu dan Kak Dara di atas daun yang sudah diolesi minyak agar tidak lengket ketika sudah matang. Selesai semua dibungkus, ibu menyusun rapi timphan itu di dalam kukusan “Agar matangnya merata” kata ibu. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk menunggunya matang.
Wangi daun sudah mulai tercium. Kata ibu tidak lama lagi timphan nya akan matang.
Sambil menunggu, aku memilih mewarnai gambar yang sengaja disiapkan ibu untukku. Agar aku lebih bersemangat menjalani puasa Ramadan. Sedang asyik mewarnai, hidungku mencium aroma yang tak sedap, segera ku panggil ibu yang sedang merapikan tanaman di samping rumah.
“Ibu, ada bau sesuatu di dapur, sepertinya ada yang gosong” “Yang Allah, itu timphan yang kita buat tadi”.
Tergesa ibu segera menuju dapur. Dan benar saja timphan yang dibuat dengan proses yang panjang itu gosong. Kata ibu karena dimasak terlalu lama dan air dalam kukusannya sudah mengering. Aku tidak tahu seberapa parah hangusnya, yang jelas aku bisa melihat kekecewaan di wajah ibu.
“Kita harus membuat lagi, kita harus mengulang lagi semua prosesnya”. Semangat ibu seakan tidak pernah padam apapun yang terjadi.
***
“Putroe, tolong berikan cangkul ini pada ayah”. Pinta Kak Dara membuyarkan lamunanku.
Proses membuat timphan ini tinggal kenangan. Persiapan lebaran tahun ini sangatlah berbeda. Kali ini aku dan keluargaku berjibaku dengan lumpur yang mengeras yang sudah menelan hampir seluruh rumah yang menyisakan hanya atap akibat banjir bandang yang melanda kampungku akhir tahun lalu.
Saat sore tiba keluargaku beserta warga yang lainnya akan berkumpul di balai desa sebagai tempat tinggal sementara. Dan ketika pagi datang kami akan pulang ke rumah untuk membersihkan kubangan lumpur menggunakannya alat-alat sederhana yang kami punya. Di tengah lelah yang mendera kuberanikan diri bertanya pada ibu, sebab aku sangat merindu suasana itu.
“Bu, Berarti tahun ini kita tidak membuat timphan?
“”Tidak Nak, keadaan yang belum memungkinkan”. Jawab ibu dengan suara tercekat bersamaan dengan kedua matanya yang disapa mendung.
Lumpur boleh menenggelamkan rumahku, tapi ku tak ingin ia ikut menenggelamkan semangat ibu. Karena semangat adalah hal yang berharga bagiku.
Banda Aceh 15 Maret 2026
Cepat pulih negeriku
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











