Opini · Potret Online

Legenda Sangkuriang dan Pembelajaran Sastra di Sekolah

Membaca Legenda Sangkuriang sebagai Ruang Refleksi Moral, Budaya, dan Pendidikan Karakter di Sekolah
Penulis Heri Isnaini
Mei 11, 2026
4 menit baca 18
Legenda Sangkuriang
Foto / IlustrasiLegenda Sangkuriang dan Pembelajaran Sastra di Sekolah
Disunting Oleh

Di ruang-ruang kelas, sastra sering kali diajarkan sebatas hafalan unsur intrinsik. Siswa diminta mencari tokoh, latar, alur, amanat, lalu selesai pada lembar evaluasi. Padahal, sastra tidak lahir hanya untuk dijelaskan melalui tabel-tabel struktural.

Sastra hadir sebagai ruang pengalaman batin manusia, tempat kebudayaan menyimpan nilai, kecemasan, moral, dan cara suatu masyarakat memahami kehidupan. Karena itu, pembelajaran sastra semestinya tidak berhenti pada pertanyaan “Siapa tokohnya?” atau “Apa amanatnya?”, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih mendalam, “Mengapa cerita itu lahir?” dan “Apa hubungan cerita itu dengan kehidupan manusia hari ini?”

Legenda Sangkuriang merupakan salah satu contoh penting bagaimana sastra daerah dapat menjadi medium pendidikan budaya dan moral di sekolah. Selama ini, Sangkuriang sering diajarkan hanya sebagai cerita rakyat tentang asal-usul Gunung Tangkuban Parahu. Akibatnya, siswa mengenal dongeng hanya sebagai kisah masa lalu yang jauh dari kehidupan mereka. Padahal, di balik cerita itu tersimpan lapisan filsafat hidup Sunda yang sangat kaya.

Ketika legenda Sangkuriang dibaca melalui pendekatan simbolik, siswa sebenarnya sedang diajak memahami manusia dan dirinya sendiri. Tokoh Sangkuriang dapat dipahami sebagai simbol ego manusia yang dipenuhi ambisi dan hawa nafsu. Dayang Sumbi menjadi lambang kebijaksanaan dan nurani, sedangkan Gunung Tangkuban Parahu melambangkan kegagalan manusia mengendalikan dirinya. Dengan cara demikian, pembelajaran sastra berubah dari sekadar kegiatan membaca cerita menjadi proses refleksi kehidupan.

Di sekolah, pendekatan semacam ini sangat penting karena pendidikan hari ini menghadapi krisis moral dan krisis makna. Banyak siswa hidup di tengah banjir informasi, tetapi miskin perenungan. Mereka terbiasa menerima pengetahuan secara cepat, tetapi jarang diajak memahami nilai di balik pengetahuan tersebut. Sastra sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mengisi ruang kosong itu. Melalui cerita, siswa belajar mengenali kemarahan, kesombongan, cinta, kegagalan, dan penyesalan sebagai bagian dari pengalaman manusia.

Legenda Sangkuriang dapat menjadi media pembelajaran karakter yang sangat efektif. Ketika siswa membaca bagaimana Sangkuriang berbohong kepada Dayang Sumbi tentang kematian Si Tumang, mereka tidak hanya memahami konflik cerita, tetapi juga memahami konsekuensi moral dari kebohongan. Ketika Sangkuriang marah dan menendang perahu hingga terbalik, siswa dapat diajak mendiskusikan bagaimana amarah dan ambisi sering membuat manusia menghancurkan apa yang telah dibangunnya sendiri. Dengan demikian, sastra bekerja bukan sebagai ceramah moral yang menggurui, melainkan sebagai pengalaman emosional yang menyentuh kesadaran pembaca.

Selain itu, pembelajaran legenda Sangkuriang juga penting dalam membangun kesadaran budaya lokal. Di tengah arus globalisasi, banyak generasi muda lebih mengenal mitologi asing daripada cerita rakyat daerahnya sendiri. Mereka mengenal tokoh-tokoh dari film dan budaya populer global, tetapi merasa asing terhadap warisan budayanya sendiri. Padahal, cerita rakyat seperti Sangkuriang merupakan bagian dari identitas kultural masyarakat Sunda.

Pembelajaran sastra daerah di sekolah menjadi ruang penting untuk menjaga memori budaya tersebut. Ketika siswa mempelajari Sangkuriang, mereka tidak hanya belajar tentang cerita, tetapi juga tentang cara masyarakat Sunda memandang kehidupan. Mereka belajar bahwa budaya Sunda memiliki konsep silib, sindir, simbol, siloka, dan sasmita sebagai cara memahami realitas secara mendalam. Ini penting karena pendidikan tidak hanya bertugas menciptakan manusia cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang mengenal akar budayanya.

Dalam praktik pembelajaran, guru sastra sebenarnya dapat mengembangkan banyak pendekatan kreatif melalui legenda Sangkuriang. Misalnya, siswa tidak hanya diminta merangkum cerita, tetapi juga menafsirkan simbol-simbol di dalamnya. Guru dapat mengajak siswa mendiskusikan mengapa Sangkuriang gagal, apa makna Gunung Tangkuban Parahu, atau bagaimana hubungan legenda tersebut dengan kehidupan modern. Pembelajaran juga dapat dipadukan dengan drama, ilustrasi visual, penulisan ulang cerita, bahkan adaptasi digital agar lebih dekat dengan dunia siswa hari ini.

Lebih jauh lagi, pembelajaran sastra berbasis cerita rakyat dapat melatih kemampuan interpretasi siswa. Dalam sastra, tidak ada makna tunggal yang mutlak. Setiap pembaca dapat menemukan makna yang berbeda sesuai pengalaman hidupnya. Di sinilah siswa belajar berpikir kritis, menghargai perbedaan penafsiran, dan memahami bahwa kehidupan manusia tidak selalu hitam-putih. Kemampuan semacam ini sangat penting di era modern ketika masyarakat semakin mudah terjebak dalam penilaian dangkal dan informasi instan.

Pada akhirnya, pembelajaran sastra di sekolah seharusnya tidak hanya melahirkan siswa yang mampu menjawab soal ujian, tetapi juga siswa yang memiliki kepekaan batin dan kesadaran budaya. Legenda Sangkuriang menunjukkan bahwa sastra daerah menyimpan kekuatan besar untuk membentuk cara pandang manusia terhadap kehidupan. Di dalamnya ada pelajaran tentang ego, moral, cinta, kesombongan, dan kegagalan manusia memahami dirinya sendiri. Sastra, pada akhirnya, bukan hanya pelajaran tentang teks, melainkan pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia.

Penulis: Heri Isnaini / Dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Artikel ini merupakan tulisan opini. Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi Redaksi Potret Online.
Tentang Penulis
Heri Isnaini
Heri Isnaini adalah Dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...