Anak Tidak Hidup Di Dalam Kelas, Ketika Transaksi Sosial Memengaruhi Pendidikan

Oleh Awalin Ridha, S, Pd
Seorang guru dapat mengajarkan kejujuran dalam satu jam pelajaran. Setelah pulang, nilai itu akan berhadapan dengan kehidupan yang jauh lebih luas. Di rumah, di lingkungan pergaulan, di media sosial, bahkan di tengah masyarakat, seorang anak kembali menemukan berbagai contoh perilaku yang belum tentu sejalan dengan apa yang diajarkan di sekolah.
Dari sini pendidikan menjadi persoalan yang lebih kompleks. Pendidikan bukan hanya tentang apa yang disampaikan guru, tetapi juga tentang apa yang setiap hari dilihat, dialami, dan diterima seorang anak dalam lingkungan sosialnya. Apa yang berulang kali disaksikan dapat menjadi kebiasaan. Apa yang terus didengar dapat membentuk cara berpikir. Sesuatu yang awalnya dianggap salah bisa berubah menjadi sesuatu yang dinormalisasi ketika terus-menerus ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam konteks ini adalah Transaksi Sosial. Istilah tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas ekonomi. Transaksi sosial dapat dipahami sebagai proses interaksi dan pertukaran yang terjadi antara seseorang dengan orang lain maupun dengan lingkungannya. Dalam proses tersebut, terjadi pertukaran informasi, pengalaman, nilai, kebiasaan, sikap, hingga cara pandang.
Seorang anak, misalnya, tidak hanya belajar dari buku yang dibacanya. Ia juga belajar dari cara orang tuanya berbicara, bagaimana gurunya memperlakukan peserta didik, bagaimana teman-temannya menyelesaikan masalah, serta bagaimana masyarakat memberikan respons terhadap suatu perilaku. Dengan demikian, setiap interaksi sebenarnya memiliki potensi menjadi proses pendidikan.
Permasalahannya, tidak semua transaksi sosial memberikan pengaruh yang positif. Sekolah mungkin mengajarkan disiplin, tetapi lingkungan pergaulan bisa saja membiasakan keterlambatan. Guru dapat menanamkan kejujuran, sementara anak menemukan orang dewasa yang justru menganggap kebohongan sebagai hal yang wajar. Di ruang kelas peserta didik diajarkan menghargai orang lain, tetapi di luar sekolah ia dapat menyaksikan penghinaan, perundungan, atau kekerasan yang justru mendapatkan pembenaran.
Kenyataan itu bisa kita lihat dari maraknya pemberitaan tentang remaja yang melakukan tindak kriminal, geng motor hingga membawa senjata tajam tanpa ada rasa takut. Kemudian, pergaulan bebas, perundungan, tawuran, narkoba, pemerkosaan bahkan ada yang terang-terangan menjual diri. Trend peningkatan kenakalan remaja saat ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Guru bukan satu-satunya aktor yang membentuk peserta didik. Pendidik memiliki batas ruang dan waktu. Tidak mungkin seorang guru mengawasi murid selama 24 jam. Ketika kegiatan belajar telah usai, proses pembentukan karakter tetap juga berlangsung melalui lingkungan yang ditemui anak.
Karena itu, keluarga memiliki posisi yang sangat krusial. Rumah merupakan lingkungan sosial pertama yang dikenal seorang anak. Di sanalah ia mulai mengenal bagaimana berbicara, menghormati orang lain, menyelesaikan konflik, bertanggung jawab, dan memahami batas antara yang baik dan buruk. Pendidikan keluarga mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat panjang. Sering kali justru perilaku atau tauladan orang tua yang diam-diam menjadi pelajaran paling kuat bagi anak.
Hal yang sama berlaku bagi lingkungan masyarakat. Anak tidak tumbuh dalam ruang kosong. Ia berinteraksi dengan tetangga, teman sebaya, komunitas, dan berbagai kelompok sosial. Apabila lingkungan tersebut memberikan contoh yang baik, pendidikan di sekolah memperoleh dukungan. Sebaliknya, jika lingkungan justru memperlihatkan perilaku yang bertentangan dengan nilai pendidikan, maka anak menghadapi dua pesan yang berbeda.
Selain keluarga dan masyarakat, pemerintah juga mempunyai tanggung jawab. Dukungan pemerintah tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembangunan gedung sekolah, penyediaan anggaran, atau perubahan kurikulum. Pemerintah perlu menciptakan lingkungan sosial yang mendukung tumbuhnya generasi yang sehat secara moral, intelektual, dan sosial. Kebijakan pendidikan harus memiliki hubungan dengan persoalan yang benar-benar dihadapi anak dalam kehidupan sehari-hari.
Apalagi saat ini transaksi sosial tidak hanya berlangsung secara tatap muka, namun juga secara Digital. Dunia digital telah memperluas ruang interaksi anak. Media sosial memungkinkan seseorang menerima ratusan bahkan ribuan pesan dalam waktu yang sangat singkat. Anak dapat menemukan pengetahuan yang bermanfaat, tetapi pada saat yang sama juga dapat berhadapan dengan kekerasan verbal, budaya pamer, informasi yang menyesatkan, hingga berbagai perilaku yang dinormalisasi melalui ruang digital.
Kita perlu berpikir kritis tentang apa yang dilihat anak ketika berada di luar sekolah, siapa yang menjadi teladannya dan nilai apa yang terus-menerus ia terima dari lingkungannya? Karena hasil pendidikan akan terlihat dalam kehidupan nyata mereka.
Oleh karena itu, membangun pendidikan tidak bisa dilakukan dengan menyerahkan seluruh beban kepada sekolah. Sekolah memang memiliki peran strategis, tetapi ia merupakan salah satu bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih besar. Keluarga harus hadir, masyarakat harus ikut menjaga, dan pemerintah perlu menciptakan kebijakan serta lingkungan yang mendukung.
Jika kita ingin melihat perubahan dalam pendidikan, mungkin sudah saatnya perhatian tidak hanya diarahkan kepada ruang kelas, sebab mereka tidak hanya hidup disana. Kita juga perlu melihat transaksi sosial yang berlangsung di luar kelas, karena di sanalah seorang anak terus belajar bahkan ketika tidak seorang pun merasa sedang mengajarinya.












