Artikel · Potret Online

Sebuah Jarak, Sejuta Rindu

Penulis  Redaksi
September 1, 2026
7 menit baca 13
WhatsApp Image 2026-09-01 at 00.31.14
Foto / IlustrasiSebuah Jarak, Sejuta Rindu

Oleh Alya Azzahra
Siswa SMAIT AL-USWAH sigli

Kisah Zahra dan Ibunya

Namaku Zahra.

Aku adalah seorang anak perempuan yang sejak kecil hanya mengenal satu sosok yang selalu menjadi tempatku pulang: Ibu. Sejak aku masih bayi, Ibu dan Ayah sudah berpisah. Saat itu aku belum mengerti apa arti kehilangan, apa arti perpisahan, dan mengapa sebuah keluarga tidak selalu bisa tetap bersama. Yang aku tahu, ada satu tangan yang selalu menggenggam tanganku, satu pelukan yang selalu membuatku merasa aman, dan satu suara yang selalu berkata, “Zahra, jangan takut. Ada Ibu.”

Ibu membesarkanku seorang diri. Ia adalah seorang ibu tunggal yang tidak pernah mengeluh di hadapanku. Aku tahu hidup tidak selalu mudah baginya. Namun, Ibu selalu berusaha membuatku merasa bahwa semuanya baik-baik saja.

Dari kecil hingga aku duduk di bangku SMA, kami hampir selalu bersama. Ibu mengantarku sekolah, menemaniku belajar, mengingatkanku mengaji, mendengarkan ceritaku, dan menjadi orang pertama yang tersenyum ketika aku berhasil meraih sesuatu.

Tetapi kini semuanya berbeda. Suatu hari, Ibu harus pergi jauh ke Semarang untuk menyelesaikan pendidikan Program Doktor-nya.

“Zahra, Ibu harus menyelesaikan sekolah Ibu. Sebentar saja. Setelah selesai, Ibu akan pulang, hanya beberapa bulan saja untuk menyelesaikan tugas akhir.”

Aku berusaha tersenyum. “Iya, Bu.” Padahal di dalam hati aku ingin berkata, Jangan pergi, Bu.Tetapi aku tahu Ibu tidak pergi meninggalkanku. Ibu sedang berjuang. Berjuang untuk menyelesaikan cita-citanya. Berjuang untuk memberikan contoh kepadaku bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dan mungkin, diam-diam, Ibu juga sedang berjuang untuk masa depan kami.

Selama Ibu berada di Semarang, aku tinggal bersama Nenek, Nyak Wa, dan Bunda. Mereka menyayangiku dan menjagaku dengan penuh kasih. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa mereka gantikan. Ibu. Setiap malam, aku merindukan Ibu. Aku rindu suara Ibu. Aku rindu pelukan Ibu.Aku rindu pertanyaan sederhana yang dulu sering kuanggap biasa. “Zahra sudah makan?”“Sudah belajar?” “Sudah mengaji?” “Jangan tidur terlalu malam.” Kini pertanyaan-pertanyaan itu terasa sangat berharga.

Kadang aku menelepon Ibu hanya untuk mendengar suaranya. “Bu…” “Iya, Sayang.” “Zahra kangen.” Di ujung telepon, Ibu biasanya diam sejenak. “Ibu juga kangen Zahra.” Aku tahu Ibu berusaha kuat. Aku juga berusaha kuat. Tetapi ternyata rindu tidak mengenal kata kuat. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin besar rasa rindu itu.

Untuk mengisi waktu dan membuktikan kepada Ibu bahwa aku baik-baik saja, aku terus belajar.Aku mengikuti berbagai les. Aku membaca banyak buku. Aku mengikuti berbagai olimpiade dalam berbagai bidang ilmu. Aku mengaji dan terus menghafal Al-Qur’an. Setiap kali mengikuti perlombaan, aku selalu membayangkan wajah Ibu. Aku ingin mengatakan kepadanya, “Bu, Zahra bisa.”

Aku ingin semua prestasi yang kuraih menjadi hadiah kecil untuk perempuan yang telah memberikan begitu banyak hal dalam hidupku. Alhamdulillah, satu demi satu prestasi mulai kuraih. Aku memenangkan berbagai kategori dalam olimpiade. Medali dan sertifikat mulai terkumpul. Orang-orang mengucapkan selamat. Namun, setiap kali mendapatkan penghargaan, orang pertama yang ingin aku cari adalah Ibu. Aku segera meneleponnya. “Bu, Zahra menang!”Suara Ibu terdengar bahagia. “Alhamdulillah… Ibu bangga sekali sama Zahra.” Kalimat itu sederhana. Tetapi bagiku, kalimat itu lebih berharga daripada sebuah piala. Aku ingin Ibu tahu bahwa semua perjuangannya tidak sia-sia.

Namun, suatu hari, kerinduanku kepada Ibu membuatku kehilangan konsentrasi. Hari itu aku sedang dalam perjalanan pulang mengikuti les bahasa inggris. Pikiranku melayang jauh. Aku memikirkan Ibu. Aku membayangkan bagaimana kalau Ibu tiba-tiba muncul di depanku. Aku membayangkan kami duduk bersama. Aku membayangkan pelukan Ibu. Aku terlalu larut dalam pikiran. Sampai akhirnya… Brak! Aku mengalami kecelakaan. Aku terjatuh. Tubuhku terasa sakit. Untuk beberapa saat aku hanya terdiam. Orang-orang datang menolong. Namun pikiranku hanya tertuju pada satu orang. Ibu. Dengan tangan gemetar, aku mengambil telepon dan segera menghubungi Ibu. Begitu suara Ibu terdengar, “Assalamu’alaikum, Zahra…”Aku langsung menangis. “Bu…” “Iya, Sayang. Kenapa?” “Bu… Zahra kecelakaan.”  Suara Ibu berubah panik.“Ya Allah! Zahra di mana? Kamu bagaimana? Sakit di mana? Ada yang menemani?” Aku menangis semakin keras. “Bu… Zahra mau Ibu pulang.” Di ujung telepon, Ibu terdiam. Aku bisa membayangkan air mata yang mungkin sedang jatuh di wajahnya. “Zahra, jangan takut. Ibu pulang.” “Tapi Ibu kan sedang menunggu jadwal sidang akhir…” “Iya, Sayang. Tapi kamu lebih penting.” Saat itu aku sadar. Aku sangat merindukan Ibu. Dan ternyata Ibu juga sangat merindukanku. Jarak Semarang dan Aceh terasa begitu jauh, tetapi hati kami ternyata tidak pernah benar-benar berjauhan.

Aku juga memikirkan ibu ku, pasti ibu memikirkan perjuangannya menyelesaikan Program Doktor. Tentang sidang akhir yang tinggal menunggu jadwal. Tentang semua tugas yang belum selesai. Tetapi mungkin satu hal yang paling memenuhi pikirannya adalah aku. Anaknya. Zahra.

Anak yang sejak bayi dibesarkannya seorang diri. Anak yang menjadi alasan terbesar Ibu untuk terus kuat. Dan aku pun kembali teringat pada Ibu. Aku teringat semua perjuangannya. Aku teringat bagaimana Ibu menyekolahkanku. Bagaimana Ibu bekerja keras sampai dengan berjualan kue. Bagaimana Ibu selalu mendoakanku. Bagaimana Ibu selalu mengatakan, “Zahra harus menjadi anak sholeha. Harus punya ilmu. Harus sukses dunia dan akhirat.” Aku tidak ingin mengecewakan Ibu. Aku ingin menjadi anak yang ia banggakan. Aku ingin sukses. Aku ingin suatu hari nanti Ibu melihatku berdiri dengan cita-cita yang telah tercapai dan berkata, “Inilah anakmu Ibu.”

Tiba-tiba aku teringat Kakek. Kakek yang kini telah tiada. Ada satu kalimat Kakek yang selalu melekat dalam ingatanku dan sering diceritakan oleh ibu: “Kalau ingin mendapatkan sesuatu, harus mengorbankan sesuatu.” Dulu aku belum benar-benar memahami maknanya. Kini aku mengerti. Untuk mendapatkan cita-cita, aku harus mengorbankan waktu. Aku harus mengorbankan tenaga. Aku harus mengorbankan rasa malas. Aku harus mengorbankan waktu bermain hp. Aku harus mengorbankan pikiran dan kenyamanan. Karena kesuksesan tidak datang hanya dengan berharap. Ia datang bersama doa, kerja keras, kesabaran, dan pengorbanan.

Maka aku berjanji kepada diriku sendiri. Aku akan terus belajar. Aku akan terus mengaji. Aku akan terus menghafal Al-Qur’an. Aku akan terus mengikuti olimpiade. Aku akan terus mengembangkan ilmu. Aku akan mengejar cita-citaku. Aku akan menjadi anak sholeha. Aku akan menjadi perempuan yang kuat seperti ibuku. Aku akan menjadi seseorang yang sukses dunia dan akhirat. Bukan hanya untuk diriku sendiri. Tetapi untuk Ibu. Untuk perempuan yang telah mengorbankan begitu banyak hal demi diriku.

Aku adalah Zahra. Anak dari seorang ibu yang hebat dan kuat. Aku mungkin belum bisa membalas semua perjuangannya hari ini. Tetapi aku akan terus berusaha. Karena aku percaya pada pesan Kakek: “Untuk mendapatkan sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu.” Aku akan mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, dan segala rasa lelah untuk mencapai cita-citaku.

Suatu hari nanti, aku ingin melihat Ibu tersenyum bangga. Aku ingin menggenggam tangannya dan berkata, “Bu, perjuangan Ibu tidak sia-sia. Zahra berhasil.” Dan ketika hari itu tiba, aku ingin Ibu tahu satu hal: Zahra tidak pernah melupakan perjuangan Ibu. Zahra akan menjadi kebanggaan Ibu. Dan lebih dari itu… Zahra akan selalu bangga menjadi anak dari Ibu.Karena bagiku, gelar paling indah yang pernah Ibu perjuangkan bukanlah gelar Doktor. Gelar paling indah adalah: “Ibu Zahra.”

Dan bagiku, keberhasilan terbesar bukanlah memiliki banyak medali atau piala maupun penghargaan. Keberhasilan terbesar adalah menjadi anak yang mampu membuat Ibu tersenyum dan berkata: “Alhamdulillah, Zahra tumbuh menjadi anak yang baik.” Itulah cita-citaku.Itulah janjiku. Dan itulah caraku mencintai Ibu.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...