Esai · Potret Online

Ketika Kita Hidup Di Puisi Ronggowarsito

Penulis  Yani Andoko
Agustus 10, 2026
8 menit baca 11
IMG_2502
Foto / IlustrasiKetika Kita Hidup Di Puisi Ronggowarsito

Oleh Yani Andoko 

“Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi…”

Kalimat itu bergema di warung kopi, pasar, dan lorong-lorong gang sempit. Diucapkan bukan dengan senyum filosofis, melainkan dengan gelengan kepala dan senyum kecut sambil menyesap kopi hitam. Tapi pertanyaannya sekarang: apakah kita benar-benar sedang berada di “zaman edan”, ataukah ini hanya nostalgia terhadap masa lalu yang tak pernah ada?

Menyaksikan Zaman Gila

“Amenangi jaman edan” menyaksikan zaman gila. Itulah pengakuan pertama Raden Ngabehi Ronggowarsito dalam Serat Kalatida yang ditulis sekitar tahun 1860-an . Pujangga terakhir Keraton Surakarta ini merangkai kegelisahannya dalam tembang Sinom yang kini terasa seperti cermin kehidupan kita. 

Ada yang berpendapat bahwa sebenarnya ungkapan “zaman edan” atau tepatnya “Kalatidha” (zaman keraguan) telah muncul lebih dulu dalam Serat Centhini Jilid IV, dan Ronggowarsito menulis ulang serta menambahkan beberapa bait sesuai dengan perasaan hatinya .

Dari sisi akademis, penelitian terhadap Serat Kalatidha menunjukkan bahwa karya ini kaya akan nilai-nilai humanisme yang bersifat mistik kebatinan mengajarkan tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, dan kebijaksanaan hidup untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan . Ini bukan sekadar puisi, melainkan sebuah filsafat hidup.

Tapi mari kita jujur: setiap zaman punya “edan”-nya masing-masing. Zaman penjajahan edan karena penderitaan, tahun 1965 edan karena saling curiga, 1998 edan karena harga naik 500 persen dalam sepekan. Lalu kenapa kita merasa zaman sekarang paling edan?

Jawabannya ada pada kecepatan dan visibilitas. Dulu orang jahat bisa sembunyi di balik gunung. Kini orang jahat eksis di TikTok dan jadi panutan. 

Dulu ketidakadilan terasa jauh, kini terasa di depan mata lewat layar ponsel. Rasa “edan” jadi lebih pekat karena kita menyaksikannya secara langsung setiap hari.

Menilik Zaman Edan Dari Tiga Sudut Pandang

Mantan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo pernah membagi interpretasi tentang zaman edan ke dalam tiga kategori: moral, sosiologi, dan determinasi sejarah .

Dari sisi moral, Ronggowarsito menggambarkan kondisi rakyat yang terhimpit beban kehidupan, seolah-olah sudah tidak memiliki pilihan. Cobaan hidup terkadang membuat seseorang lupa, sehingga ia melakukan tindakan yang merusak integritas diri sendiri .

Dari sisi sosiologi, Bambang menilai bahwa masyarakat Indonesia kini berada dalam titik singgung dua budaya yang tengah mengalami transisi dari agraris tradisional ke industrialis modern, dan dari otoritarian ke demokratis.

“Di satu pihak, masyarakat Indonesia telah melepaskan nilai-nilai dari budaya lama, tetapi di lain pihak masyarakat belum mampu menggapai nilai budaya yang baru,” katanya. Akibatnya, masyarakat menjadi tanpa nilai, dijangkiti penyakit anomi dan kriminalitas .

Dari sisi determinasi sejarah, Bambang meyakini bahwa kondisi sosial yang terjadi adalah ulangan dari siklus yang hampir sama. Mengutip teori siklo sosial Ravi Batra, peristiwa sosial di masyarakat berulang dengan jarak waktu antar siklus yang hampir sama sekitar 30 tahun. 

Terakhir kali puncak zaman edan terjadi pada 1979, sehingga ia memperkirakan puncak berikutnya sekitar 2009 atau 2010 . Ini menunjukkan bahwa “zaman edan” bukanlah fenomena sekali jadi, melainkan siklus yang berulang.

Dilema Yang Tak Pernah Usang

Ronggowarsito melanjutkan: “ewuhaya ing pambudi, melu ngedan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun” .

Terjemahan kasarnya: serba susah dalam bertindak, ikut gila tak tahan, tapi kalau tak ikut, tak kebagian hasil ujungnya kelaparan.

Inilah dilema abadi yang dihadapi setiap generasi. Di era digital, “ikut edan” berarti ikut arus informasi tanpa filter, terjebak algoritma yang menguatkan kebencian, atau menormalisasi perilaku menyimpang karena semua orang melakukannya. 

“Kabeh wis ngerti, tapi ora ono sing wani ngomong blaka”  semua sudah tahu, tapi tak ada yang berani bicara terus terang.

Krisis Moral di Era Digital: Lebih Dari Sekadar Perilaku

Fenomena zaman edan versi 2.0 nyata terlihat dari krisis moral yang melanda generasi muda. Menurut Ustazah Wahdatun Nisa, remaja masa kini khususnya Generasi Z dan Alpha adalah digital native. Mereka lahir dan tumbuh dalam lingkungan digital, sehingga kemampuan multitasking tinggi, tetapi di sisi lain mudah bosan, menyukai hal instan, dan rentan terhadap krisis nilai .

Ciri-ciri krisis moral ini tampak jelas: menurunnya rasa tanggung jawab, normalisasi perilaku menyimpang, meningkatnya individualisme, hingga hilangnya empati sosial. Bahkan, remaja cenderung kehilangan kepercayaan terhadap institusi moral seperti agama, pendidikan, atau hukum .

Tragedi ledakan di SMAN 72 Jakarta menjadi cermin paling nyata. Pengamat terorisme Islah Bahrawi menilai bahwa peristiwa ini adalah cermin runtuhnya bimbingan moral dan spiritualitas di era digital. Ancaman radikalisme kini tak lagi berbentuk organisasi besar, melainkan bisa lahir dari individu muda yang tersesat dalam ruang digital .

Proses radikalisasi hari ini tidak lagi memerlukan ideologisasi panjang. Cukup dengan algoritma yang memberi ruang bagi kebencian, maka terjadilah echo chamber yang menjerumuskan anak muda pada ekstremisme . “Generasi muda sekarang sangat eksplosif karena tidak punya ruang untuk menyalurkan kegelisahannya melalui jalur yang sehat, sosial, ekonomi, atau politik,” kata Islah .

Dahulu ideologi ekstrem menyebar lewat ceramah atau doktrin organisasi. Sekarang, cukup dengan satu gawai dan algoritma media sosial yang menjerat pengguna ke dalam echo chamber .

Eling lan Waspada”: Oase Di Tengah Kegilaan

Ronggowarsito menutup baitnya dengan pesan yang sering dilupakan: “ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada” .

Sebahagia-bahagianya orang yang lalai, lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Mantan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menafsirkan ini sebagai seruan untuk iman dan takwa nilai luhur dengan ruh yang tak pernah berubah dari zaman ke zaman. Cobaan di dalam hidup, menurut Bambang, terkadang membuat seseorang menjadi lupa, sehingga ia melakukan tindakan yang merusak integritas diri sendiri akibat merasa tidak memiliki pilihan lain. “Tetapi jika digali lebih dalam, mereka masih memiliki pilihan di dalam hidup seperti baris terakhir dari syair Zaman Edan Ranggawarsita, yaitu menjadi orang yang beriman dan bertakwa,” katanya. 

Substansi dari takwa adalah waspada .

Dalam budaya Jawa, “eling lan waspada” adalah falsafah yang menjelaskan bahwa manusia harus selalu sadar dan waspada dalam menjalani kehidupan. Ini bukan sekadar petuah lisan, melainkan pedoman hidup yang diwariskan turun-temurun .

“Eling” berarti ingat sebagai hamba yang lemah, manusia wajib selalu mengingat Tuhan. “Waspada” berarti senantiasa berhati-hati dalam keadaan apa pun . Konsep ini erat kaitannya dengan “Sangkan Paraning Dumadi” pemahaman mengenai asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia, bahwa kehidupan bukan sekadar mengejar kepentingan duniawi, tetapi menjaga hubungan harmonis dengan sesama dan Tuhan .

Filsuf Franz Magnis-Suseno dalam bukunya Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa menjelaskan bahwa masyarakat Jawa sangat menekankan keseimbangan batin, pengendalian diri, serta kemampuan menjaga harmoni dalam kehidupan .

Ini bukan ajaran kaku, melainkan pedoman hidup di tengah arus perubahan. “Urip iku mung mampir ngombe” hidup hanya mampir minum. Tapi di persinggahan singkat ini, kita punya pilihan: ikut edan atau tetap waras.

Ratu Adil Dan Mitos Penyelamat

Sartono Kartodirdjo, sejarawan terkemuka, mencatat bahwa setiap zaman edan melahirkan Mitos Ratu Adil harapan akan datangnya penyelamat yang menyeimbangkan segala sesuatu. 

Keresahan di depan perubahan dan kerisauan menghadapi masa depan yang tak pasti membuat orang mengharapkan Ratu Adil .

Mitos itu muncul manakala masyarakat menghadapi perubahan-perubahan sosial yang besar. Zaman Edan zaman yang bergolak penuh perubahan adalah pertanda bagi munculnya Akhir Zaman di mana saat itu sang Ratu Adil akan bertahta untuk menyeimbangkan lagi segala sesuatu. Istilah “Ratu Adil” menggambarkan kondisi tentang zaman yang dirasakan semakin merosot kualitasnya dan sekaligus mengungkapkan harapan akan datangnya penyelamat .

Menurut Purwadi, “Ratu Adil” dapat ditafsirkan sebagai seorang yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya pelindung atau pengayom seluruh masyarakat tanpa membedakan golongan dan tanpa keberpihakan, kecuali hanya berpihak pada kebenaran hakiki yang bersifat universal .

Tetapi mungkin, Ratu Adil yang kita tunggu bukanlah sosok asing, melainkan diri kita sendiri yang sadar dan waspada.

Menemukan Jalan Di Tengah Edan

Lantas apa yang harus dilakukan? Bukan dengan diam pasrah. Bukan pula dengan ikut-ikutan edan. Jawabannya ada pada adaptasi tanpa kehilangan identitas.

Di zaman di mana kebenaran bisa dibeli dengan gepokan kertas, kewarasan sering kalah telak oleh perdebatan yang tidak jelas juntrungannya. 

Segalanya bergerak begitu cepat tanpa jeda, tetapi arah terasa kabur . Kata Ronggowarsito, di tengah zaman edan, yang penting tetap punya pedoman kuat. Nggak harus menolak modernisasi, tapi juga jangan sampai kehilangan jati diri 

Di warung kopi, obrolan tentang zaman edan selalu diakhiri dengan satu kalimat pamungkas: “Wis jaman edan, tapi aja edan-edan. Sing waras tetep waras, mergo akhire edan kuwe mesti kesel dhewe.”

Sudah zaman gila, tapi jangan ikut gila total. Yang waras tetap waras, karena kegilaan pasti lelah sendiri.

Kewarasan Di Tengah Kegilaan

Zaman edan bukanlah vonis, melainkan pengingat. Ronggowarsito menulis Serat Kalatida bukan untuk membuat kita putus asa, tapi untuk membangkitkan kesadaran bahwa di tengah dunia yang kacau, kita masih punya pilihan.

Pilihan untuk eling mengingat siapa kita dan ke mana kita hendak pergi. Pilihan untuk waspada tidak terjebak dalam hiruk-pikuk yang menyesatkan. Dan pilihan untuk tetap waras bukan dengan lari dari realitas, tapi dengan menghadapinya dengan kepala tegak dan hati bersih.

Karena pada akhirnya, seperti kata Albert Einstein, kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil berbeda. Di zaman edan ini, mungkin tindakan paling waras adalah berhenti mengeluh dan mulai bertindak dengan tetap berpegang pada nilai-nilai yang kita yakini.

                  Batu, 27 Mei 2026

                        Yani Andoko

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...