Esai · Potret Online

Ngopi Ngerumpi MPSI: Segelas Kopi untuk Menghidupkan Kembali Ruang Seni TIM

Penulis Nuyang Jaimee
Juli 22, 2026
5 menit baca 46
7e1d50f6-0b67-4a71-b898-421d0272e33d
Foto / IlustrasiNgopi Ngerumpi MPSI: Segelas Kopi untuk Menghidupkan Kembali Ruang Seni TIM
Disunting Oleh

Oleh: Nuyang Jaimee

Di bawah langit malam puluhan seniman, sastrawan, pekerja budaya, dan pegiat komunitas berkumpul melingkar di atas karpet merah, di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM). 

Yang hadir di tengah percakapan mereka hanya teh hangat dan kegelisahan yang sama dalam segelas kopi panas: masa depan ruang senibudaya Taman Ismail Marzuki.

Melalui forum bertajuk “Ngopi Ngerumpi MPSI: Segelas Kopi untuk Ruang Seni yang Mati Suri”, Masyarakat Penggiat Seni Indonesia (MPSI) mengundang para pelaku seni untuk membicarakan berbagai persoalan yang selama beberapa tahun terakhir memuliki potensi menghancurkan ekosistem berkesenian Taman Ismail Marzuki.

Ketua Umum MPSI, Mujib Hermani, bersama Sekretaris Jenderal David Karo Karo, menginformasikan bahwa pertemuan tersebut , menjadi ruang terbuka bagi siapa pun yang ingin menyampaikan pandangan, kritik, maupun harapan terhadap kondisi TIM pasca revitalisasi.

Yang menjadi pokok pembahasan bukan sekadar kondisi fisik kawasan TIM yang kini tampak lebih modern. Justru yang menjadi sorotan adalah suasana ekosistem berkeseniannya yang semakin kering. Banyak peserta pertemuan yang hadir menilai bahwa setelah renovasi besar-besaran, denyut aktivitas seni tidak lagi sehidup dulu. 

Gedung-gedung memang berdiri megah, tetapi ruang ekspresi dinilai semakin sempit dan sulit diakses oleh komunitas seni independen.

Beberapa peserta mengungkapkan kegelisahan mengenai semakin terbatasnya ruang berkegiatan bagi kelompok teater, sastra, musik, seni rupa, hingga komunitas diskusi budaya. Mereka mempertanyakan apakah revitalisasi benar-benar menghadirkan ekosistem seni yang sehat, atau justru menciptakan ruang yang semakin jauh dari para pelaku seni yang menjadi ruh dan selama puluhan tahun membesarkan nama TIM.

Diskusi berkembang pada berbagai persoalan mendasar, mulai dari akses penggunaan ruang, biaya penyelenggaraan kegiatan, minimnya agenda kesenian berbasis komunitas, hingga perlunya keberpihakan terhadap seniman. 

Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh semangat. Setiap peserta diberi kesempatan menyampaikan pengalaman dan gagasan tanpa batasan formal.

Satu per satu para seniman menyampaikan suara mereka. Ada yang berbicara tentang sulitnya mendapatkan ruang pertunjukan, ada yang menyoroti semakin menurunnya aktivitas komunitas, sementara yang lain mengingatkan bahwa TIM sejak awal dibangun sebagai rumah bersama bagi seluruh cabang kesenian.

Ada perbedaan keresahan tentunya, namun semuanya bertemu pada kegelisahan yang sama: jangan sampai Taman Ismail Marzuki kehilangan ruhnya sebagai pusat pertumbuhan kebudayaan Indonesia.

Berbagai persoalan yang selama ini dirasakan para pelaku seni di TIM di antaranya:

• Sulitnya akses komunitas seni independen untuk menggunakan ruang-ruang pertunjukan.

• Biaya penggunaan fasilitas yang dinilai memberatkan sebagian komunitas seni.

• Menurunnya frekuensi kegiatan seni yang tumbuh dari inisiatif komunitas.

• Berkurangnya ruang diskusi, latihan, dan proses kreatif yang selama ini menjadi denyut kehidupan TIM.

• Perlunya tata kelola yang lebih melibatkan komunitas seni dalam proses pengambilan kebijakan.

• Aspirasi agar fungsi Wisma Seniman benar-benar menjadi rumah bagi aktivitas dan kepentingan para seniman. 

Keberadaan wisma tersebut saat ini belum sepenuhnya merepresentasikan kebutuhan maupun kepentingan komunitas seni sebagaimana yang mereka harapkan

• Pentingnya menghadirkan kembali TIM sebagai ruang publik kebudayaan yang terbuka, inklusif, dan mudah diakses seluruh lapisan masyarakat.

Berbagai usulan muncul, mulai dari pentingnya membangun kembali jaringan antar komunitas seni, memperkuat dialog dengan para pemangku kepentingan, hingga menyusun langkah-langkah kolektif untuk menghidupkan kembali aktivitas kesenian di kawasan TIM.

Salah satu hal yang mengemuka adalah pentingnya regenerasi gerakan. Para seniman senior mendorong agar estafet perjuangan diteruskan oleh generasi muda. Mereka diharapkan menjadi motor penggerak yang mampu merawat semangat berkesenian sekaligus memperjuangkan ruang-ruang kreatif yang lebih terbuka bagi komunitas. 

Regenerasi dipandang bukan sekadar pergantian usia, melainkan kesinambungan gagasan dan komitmen untuk menjaga TIM sebagai ruang kebudayaan publik.

Dalam paparannya, Mujib menyatakan, Taman Ismail Marzuki bukan sekadar kompleks bangunan kebudayaan. TIM adalah ruang sejarah, tempat lahirnya berbagai gagasan, karya, dan gerakan seni Indonesia. Karena itu, hilangnya aktivitas komunitas kesenian dipandang sebagai hilangnya sebagian ruh yang selama ini menjadikan TIM berbeda dari gedung-gedung pertunjukan lainnya di Jakarta.

Persoalan TIM tidak dapat diselesaikan hanya melalui pembangunan infrastruktur. Yang lebih penting adalah membangun kembali ekosistem yang memberi ruang hidup bagi seniman, komunitas, dan publik untuk berinteraksi secara bebas, kreatif, dan berkelanjutan, David menambahkan.

Maka muncul gagasan bersama untuk melakukan gerakan menyelamatkan Taman Ismail Marzuki, menyelenggarakan unjuk karya bukan hanya unjuk rasa yang anarkis sebagai ruang penyampaian aspirasi menyuarakan kegelisahan kolektif.

Bentuknya diusulkan berupa rembuk/diskusi kebudayaan, mimbar bebas, orasi komunitas, ragam performans komunitas, panggung seni komunitas seperti pembacaan puisi, teater, musik, seni rupa, monolog, tari, dan sebagainya, sampai dengan petisi kebudayaan, hingga pertunjukan lintas disiplin yang merefleksikan kondisi dan harapan terhadap masa depan TIM. 

Para seniman sepakat seni dipandang sebagai medium yang paling tepat untuk menyampaikan kritik sekaligus menawarkan jalan keluar secara bermartabat.

Teman-teman seniman juga sepakat bahwa pengelolaan TIM perlu dievaluasi secara menyeluruh. Dalam diskusi tersebut muncul aspirasi dari sejumlah peserta yang menyatakan penolakan terhadap keterlibatan Jakpro dalam pengelolaan TIM dan mengusulkan agar pengelolaan lebih berorientasi pada ekosistem kebudayaan serta melibatkan komunitas seni secara lebih luas. 

Pandangan tersebut menjadi salah satu aspirasi yang mengemuka dalam forum dan akan dirumuskan lebih lanjut sebagai bagian dari rekomendasi kepada para pemangku kebijakan.

Untuk menjaga kesinambungan komunikasi dan kegiatan tersebut forum juga mengusulkan pembentukan sebuah wadah bersama yang mampu menghimpun seluruh komunitas seni lintas disiplin. Maka disepakati nama Front Penggerak Seni TIM. Forum ini diharapkan memiliki grup komunikasi daring yang terbuka bagi seniman, budayawan, pekerja kreatif, akademisi, dan komunitas untuk memudahkan diskusi dan komunikasi antar seniman bisa lebih cepat dan traansparan. 

Pertemuan malam itu melahirkan satu kesepahaman bahwa dialog harus terus dilakukan. Aspirasi para pelaku seni perlu dirumuskan menjadi rekomendasi yang dapat disampaikan kepada para pemangku kebijakan agar pengelolaan TIM lebih berpihak pada kepentingan kebudayaan, ujar Mujib menyimpulkan.

Di tengah secangkir kopi dan lingkaran diskusi sederhana, seolah kita diingatkan kembali bahwa kemegahan sebuah pusat kesenian tidak diukur dari arsitekturnya semata, melainkan dari hidup atau matinya ruang dialog, kreativitas, dan kebebasan berkesenian di dalamnya.

Sebab gedung dapat dibangun kembali, tetapi ekosistem seni hanya dapat tumbuh apabila para senimannya benar-benar diberi ruang untuk hidup, berkarya, dan ikut menentukan arah masa depan rumah besar kebudayaan yang selama puluhan tahun mereka rawat bersama.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Nuyang Jaimee
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...