Artikel · Potret Online

Dari VOC ke FIFA: Ketika Kolonialisme Berganti Jersey

Penulis  Afridal Darmi
Juli 22, 2026
8 menit baca 19
IMG_2275
Foto / IlustrasiDari VOC ke FIFA: Ketika Kolonialisme Berganti Jersey

Oleh: Afridal Darmi

Piala Dunia 2026 telah usai. Trofi telah diangkat, stadion kembali lengang, dan jutaan pendukung kembali ke rutinitas mereka. Namun di balik euforia itu, sebuah laporan BBC menyisakan pertanyaan yang jauh lebih menarik daripada sekadar siapa yang menjadi juara. 

FIFA diperkirakan meraup pendapatan mendekati Rp 233 triliun dari turnamen tersebut, sementara banyak kota tuan rumah justru tidak memperoleh manfaat ekonomi sebesar yang dijanjikan. 

Sponsor, pemegang hak siar, dan industri taruhan menikmati keuntungan luar biasa, sedangkan sebagian pelaku ekonomi lokal bahkan melaporkan hasil yang mengecewakan.

Mengapa sebuah pertandingan sepak bola mampu menghasilkan arus uang sebesar itu? Mengapa nilai ekonomi terbesar justru tidak selalu tinggal di tempat pertandingan berlangsung? Apakah adil mempersamakan FIFA dengan kolonialisme VOC?

Jawabannya tidak sepenuhnya terletak pada sepak bola, melainkan tersembunyi dalam perubahan cara dunia bekerja.

Tulisan ini berangkat dari satu gagasan sederhana: sejarah sepak bola modern dapat dibaca sebagai cermin perubahan mekanisme dominasi global. 

Selama lima abad terakhir, cara kekuasaan memperoleh dan mengendalikan nilai terus berubah. Dahulu dominasi dicapai dengan menguasai wilayah. Kemudian bergeser menjadi penguasaan pasar. Kini, pada era digital, yang diperebutkan adalah perhatian, loyalitas, dan data miliaran manusia. Sepak bola bukan penyebab perubahan itu, tetapi ia menjadi salah satu arena paling jelas tempat perubahan tersebut dapat diamati.

Pada abad ke-16, bangsa-bangsa Eropa berlayar dengan semboyan yang kemudian dikenal sebagai gold, glory, and gospel. Emas melambangkan pencarian kekayaan, glory melambangkankejayaan negara, sedangkan gospel menjadi simbol penyebaran agama dan peradaban menurut perspektif kolonial. Ketiganya dijalankan melalui kapal perang, benteng, tentara, dan pendudukan wilayah.

Kolonialisme klasik bekerja dengan cara yang sederhana: siapa menguasai tanah, menguasai sumber daya. Di Indonesia, sebuah perusahaan transnasional pertama di dunia didirikan, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), menjadi perwujudan nyata kapitalisme didukung negara memburu keuntungan dari seluruh wilayah jajahannya. Wilayah dikuasai, Gubernur Jenderal diangkat mewakili Ratu Belanda.  Termasuk Joannes Benedictus van Heutsz, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dikenang orang Aceh sebagai sosok yang paling kelam dalam sejarahnya.

Sesudah Perang Dunia II, sebagian besar koloni memperoleh kemerdekaan. Bendera-bendera kolonial diturunkan, tetapi ketimpangan ekonomi global tidak serta-merta menghilang. Presiden pertama Ghana, Kwame Nkrumah, menyebut keadaan baru ini sebagai neokolonialisme: sebuah situasi ketika penguasaan tidak lagi dijalankan melalui pendudukan militer, melainkan melalui perdagangan, modal, perusahaan multinasional, teknologi, media, dan ketergantungan ekonomi. Dengan kata lain, dominasi tidak berakhir. Ia berganti cara.

Perubahan itulah yang menarik untuk dibaca melalui sejarah sepak bola.

Mengapa justru Inggris yang menyebarkan sepak bola ke hampir seluruh dunia? Bukan karena Inggris menciptakan permainan yang paling indah. Jawabannya karena Inggris memiliki imperium terbesar dalam sejarah modern.

Bersama jalur kereta api, pelabuhan, sekolah, administrasi kolonial, dan perusahaan dagang, sepak bola ikut menyebar ke India, Afrika, Mesir, Australia, Amerika Latin, hingga HindiaBelanda. Permainan itu diintroduksi dan lalu menjadi bagiandari kehidupan sosial masyarakat kolonial.

Namun di sinilah paradoks pertama muncul. Kolonialismedapat menguasai wilayah, tetapi ia tidak pernah sepenuhnyamampu menguasai makna. 

Permainan yang dibawa penjajah justru direbut oleh masyarakat jajahan untuk tujuan yang samasekali berbeda.

Di Indonesia, sepak bola tidak lagi dipahami sebagai permainan orang Eropa. Lahirnya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1930 menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi bagian dari proyek kebangsaan. 

Klub-klub lokal berkembang sebagai simbol identitas kota, daerah, bahkan perlawanan terhadap diskriminasi kolonial. Untuk menyebut sedikit dari contoh: PSM Makassar, didirikan pada tanggal 2 November 1915 dengan nama awal Macassaarsche Voetbal Bond (MVB). Persija Jakarta: berdiri pada 28 November 1928 dengan namaVoetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ). Semuanya dirintis dan dibangun dalam masa kolonial, dan mungkin tanpa sengaja, menjadi wadah pembangunan nasionalisme Indonesia.

Fenomena yang sama dapat ditemukan di berbagai bekaskoloni. Brasil, Argentina, Mesir, Aljazair, hingga sejumlah negara Afrika mengubah sepak bola menjadi bahasa nasionalisme.

Permainan yang semula ikut berlayar bersama imperium akhirnya membantu membangun identitas bangsa-bangsa yang justru mengakhiri kekuasaan imperium

Tetapi sejarah kembali bergerak.

Jika kolonialisme formal telah runtuh, mengapa justru ekonomi sepak bola menjadi semakin terkonsentrasi?

Mengapa FIFA memperoleh pendapatan ratusan triliun rupiah, sementara banyak kota penyelenggara hanya menikmati manfaat yang terbatas?

Jawabannya terletak pada perubahan berikutnya, yaitu cara kapitalisme menghasilkan nilai. Jika kolonialisme klasik bergantung pada penguasaan wilayah yang dijaga oleh kekuatan militer, kapitalisme global Lebih banyak bergantung pada penguasaan hak, merek, jaringan distribusi, dan media.

Pada masa VOC, kekayaan mengalir melalui kapal-kapal yang mengangkut pala, lada, cengkeh, kopi, gula, dan hasil bumi menuju Eropa. Pada abad ke-21, komoditas paling berharga bukan lagi rempah-rempah. Yang melintasi batas negara adalah kontrak penyiaran, lisensi merek, sponsor global, platform digital, dan hak komersial.

Komoditas strategis telah berubah. Yang diperebutkan bukan lagi tanah, melainkan ekosistem baru yang disebut “pasar”.

Piala Dunia menunjukkan perubahan itu secara telanjang.

Nilai ekonomi terbesar tidak lagi berada di stadion. Ia berada pada hak eksklusif untuk menayangkan pertandingan. Ia berada pada kontrak sponsor yang membuat sebuah logo muncul beberapa detik di layar. Bahkan jeda minum pemain dapat diubah menjadi inventaris komersial yang menghasilkan ruang iklan baru.

Yang dijual bukan lagi pertandingan. Jualan paling bernilai sekarang adalah perhatian manusia terhadap pertandingan. Perubahan ini menjelaskan mengapa FIFA terus memperluas Piala Dunia. Penambahan peserta dari 32 menjadi 48 tim—dan bahkan munculnya wacana 64 tim—tidak hanya dapat dibaca sebagai upaya memperluas partisipasi olahraga. 

Benar, FIFA menjelaskan perluasan peserta sebagai upaya memperluas partisipasi. Namun dari perspektif ekonomi politik, keputusan itu juga memiliki konsekuensi yang jelas: lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak jam siaran, inventaris iklan, dan akses ke pasar baru. 

Dari sudut pandang ekonomi politik, setiap negara baru berarti pasar baru; setiap pertandingan tambahan berarti jam siaran tambahan; setiap jam siaran tambahan berarti inventaris iklan baru; dan setiap penonton baru berarti peluang konsumsi baru.

Logika ekspansi tetap sama. Hanya objek ekspansinya yang berubah. Jika kolonialisme klasik memperluas wilayah, kapitalisme global memperluas pasar.

Perubahan berikutnya bahkan lebih menarik. Hari ini, pasar saja tidak lagi cukup. Yang menjadi komoditas utama adalah perhatian.

Seorang remaja di Banda Aceh bangun dini hari untuk menyaksikan Liga Inggris. Yang di Yogyakarta membeli Jersey Real Madrid. Seorang pekerja di Makassar berlangganan platform streaming olahraga. Mereka tidak sedang dijajah dalam pengertian klasik. Tidak ada tentara yang menduduki kota mereka. Tidak ada gubernur kolonial yang memungut pajak.

Namun waktu mereka, perhatian mereka, preferensi mereka, bahkan data perilaku digital mereka perlahan menjadi bagian dari ekonomi global. Inilah tahap baru kapitalisme.

Jika abad ke-17 mengubah rempah-rempah menjadi sumber kekayaan, abad ke-21 mengubah perhatian manusia menjadi komoditas. Karena itu, tidak mengherankan jika klub-klub sepak bola kini lebih menyerupai perusahaan media daripada sekadar organisasi olahraga. 

Nilai sebuah klub tidak hanya ditentukan oleh kualitas pemain atau jumlah trofi, tetapi juga oleh kekuatan merek, jangkauan global, jumlah pengikut di media sosial, dan kemampuan mengubah loyalitas emosional menjadi pendapatan ekonomi.

Dalam konteks ini, sepak bola sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada taktik permainan.

Ia memperlihatkan bagaimana dominasi global berevolusi. Dahulu kekuasaan dibangun dengan menguasai pelabuhan. Kemudian dibangun dengan menguasai perdagangan. Kini dibangun dengan menguasai ekosistem informasi, perhatian, dan konsumsi.

Itulah sebabnya membandingkan kolonialisme klasik dengan kapitalisme global tidak berarti mengatakan bahwa keduanya identik. Bentuknya berbeda, aktornya berbeda, dan konteks sejarahnya berbeda. Akan tetapi, keduanya memperlihatkan satu kesinambungan yang menarik: sama-sama mencari cara paling efektif untuk mengekstraksi nilai dari ruang yang semakin luas.

Pada abad ke-17, kapal-kapal VOC berlayar menuju nusantara untuk mencari rempah-rempah. Di Aceh, tahun 1773 Jenderal Kohler mendarat di Pelabuhan Peunayong, hanya untuk mati di kaki Tjoet Nja’ Dhien di halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Tapi hari ini, di abad ke-21 ini, tidak ada armada yang datang ke pelabuhan kita. 

Yang datang adalah siaran langsung, platform digital, kontrak hak siar, aplikasi olahraga, dan merek-merek global yang memenuhi layar televisi serta telepon genggam.

Tidak ada benteng yang dibangun. Tidak ada gubernur kolonial yang diangkat. Tidak ada Kolonel Van Daalen memimpin Marsose menyerbu ke Tanah Gayo.

Namun kolonialisasi tetap terjadi, hanya saja dalam bentuk yang berbeda. Setiap akhir pekan, miliaran rupiah tetap mengalir melintasi batas negara mengikuti arah yang sama: menuju pusat-pusat ekonomi global yang menguasai hak, merek, dan jaringan distribusi.

Lalu bagaimana tulisan ini berani mempersamakan VOC dan FIFA pada judulnya?

Yang satu adalah perusahaan dagang yang menjadi simbol kolonialisme Belanda. Yang lain adalah federasi sepak bola internasional yang mengelola olahraga paling populer di dunia. 

Membandingkan keduanya tampak sepertinya “tak kena mengena”.

Namun jika kita melihat cara keduanya bekerja, muncul sebuah kemiripan yang menarik. VOC menjadi kaya terutama karena memperoleh hak eksklusif untuk mengendalikan perdagangan. FIFA juga tidak menjadi organisasi olahraga paling kaya karena memiliki stadion atau pemain. Kekuatan terbesarnya justru terletak pada hak eksklusif untuk mengelola Piala Dunia beserta seluruh nilai komersial yang mengelilinginya.

Sebagai institusi ekonomi, keduanya menunjukkan satu pelajaran yang sama: sejarah kekayaan dunia selalu bergantung pada siapa yang menguasai akses terhadap komoditas paling bernilai pada zamannya.

Dahulu komoditas itu adalah rempah-rempah. Hari ini komoditas itu adalah perhatian miliaran manusia. 

Kolonialisme mungkin memang telah berakhir sebagai sistem politik. Namun sebagai cara mengekstraksi nilai dari dunia, ia tidak benar-benar hilang.  

Barangkali ia hanya berganti jersey.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Afridal Darmi, SH, LLM. Seorang advokat profesional dan penulis amatir. Pernah menjejakkan kaki di berbagai sudut Bumi di negeri-negeri yang jauh di empat benua dalam menjalankan misinya sebagai Human Right Defender. Tapi selalu mendapati dirinya merindu Aceh, tempat perahu hatinya tertambat dan membuang sauh, tempat ketiga anak dan istrinya bermukim. Menyukai kopi dan bacaan. Segelas seduhan kopi Aceh dan sebuah buku, serta pojok yang tenang untuk membaca, hanya itu yang diperlukan untuk membuatnya bahagia. Afridal Darmi berkediaman di Aceh Besar. Alamat email: afridaldarmi@gmail.com
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...