Artikel · Potret Online

Si Binatang Jalang

Penulis  Ilhamdi Sulaiman
Juli 17, 2026
4 menit baca 9
370f03a7-a5df-4cb4-b9d4-0c34426cad68
Foto / IlustrasiSi Binatang Jalang

MONOLOG 

Oleh Ilhamdi Sulaiman 

Sebuah ruang tamu jauh dari sederhana terdengar lagu tahun 1950 an dari sebuah radio tua.

(hening sejenak, menghela napas, menatap penonton)

CHAIRIL:

Kalian tahu namaku. Atau mungkin hanya potongan puisiku.

“AKU!” Katamu.

“AKU INI BINATANG JALANG.”

Kata kalian, aku gila. Tak percaya Tuhan. Perusak tatanan.

Tapi siapa di antara kalian yang berani mencintai hidup dengan luka sejujur aku?

(bangun dari duduk, berjalan mendekati penonton)

Aku Chairil.

Anak Medan. Anak revolusi.

Bukan tokoh sejarah yang kau bingkai manis di dinding sekolah.

Aku kata-kata yang tak sempat disensor,teriakan dari lorong gelap zaman yang tak sempat kau tutup telingamu!

(ambil kertas, robek-robek sambil bicara)

Penyair bukan penjaga moral.

Aku menulis karena hidup memaksa!

Perang. Kelaparan. Pengkhianatan. Cinta yang terlalu tajam hingga berdarah.

Apa aku harus menulis bunga dan burung?

Saat peluru lewat di atas kepala, kau cuma bisa merangkak, bukan bersyair indah!

(pause, lebih tenang)

Tapi aku mencintai.

Aku mencintai hidup.

Cinta yang bengal. Yang tak tahu caranya duduk manis.

Aku mencintai wanita, tubuh mereka, aroma buku-buku, kopi hitam, dan kesendirian.

Ah, hidup…

Hidup itu seperti puisi yang tak sempat selesai.

Dan aku…

Aku mati muda.

(tertawa pendek, sinis)

Tubuh ini habis dimakan penyakit.

Tapi puisiku tak bisa kau kubur bersama jasadku.

Karena kata-kata itu hidup.

Dan akan terus menusuk benak kalian!

(diam sejenak, lalu merunduk, berbicara lirih)

Aku hanya ingin dikenang…

Bukan sebagai pahlawan.

Tapi sebagai orang yang berani menatap hidup tanpa ilusi.

Yang berani mati, dengan nama sendiri.

(angkat kepala, sorot mata tajam)

Dan sekarang, kalian…

Kalian yang hidup di zaman yang katanya lebih merdeka,

Berani tidak hidup seperti Chairil?

Berani tidak menulis hidup kalian sendiri,

Tanpa takut pada siapa pun?

(kembali duduk. Hening. Mengambil secarik kertas. Membaca pelan)

 “Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau…”

(tersenyum kecil, menatap penonton)

Chairil sudah pergi.

Tapi puisinya tak pernah benar-benar mati.

(gelap)

Dan beginilah aku…

Tiga setengah dasawarsa umurku

Dikubur dengan tanah, tapi tidak dengan kata.

(tarik nafas dalam, mendongak)

Kalian membacaku kini dengan khidmat.

Menyairkanku di kafe sastra.

Mengutipku di baliho puisi.

Membuat lomba-lomba kecil atas namaku.

Sebagian mencintai puisiku,

Sebagian tak paham tapi tetap menyebutku:

“Binatang Jalang dari Boedi Oetomo.”

(menghela napas)

Dan kalian menyebut-nyebutku

Dalam seminar ber-AC

Dengan naskah akademik

Dan sertifikat cetak tebal…

(tertawa keras, lalu lirih)

Adakah di antara kalian yang sungguh mengerti…

Bahwa puisiku bukan untuk dibingkai?

Tapi untuk dibacakan sambil gemetar,

sambil lapar, sambil mencintai

dan menggigil menantang maut?

(sejenak hening)

Aku menatap dari liang ini.

Kulihat dunia masih penuh cela.

Penyair-penyair kini banyak yang lebih mencintai pujian daripada kebenaran yang menggigit.

(langkah pelan, matanya seperti menerawang)

Aku lihat,ada penyair yang menulis demi honor

Ada yang takut menyentuh luka zaman.Ada yang merayakan cinta

tanpa menulis tentang ketidakadilan.

(berdiri tegak, keras)

APA GUNA KATA-KATA

JIKA TAK ADA YANG BERANI MENGGUNAKANNYA

UNTUK MELAWAN YANG MENINDAS?

(diam. Lalu lembut)

Tapi aku juga melihat ada satu dua pemuda di pojok kamar kontrakan menulis dengan darah sendiri.

Membaca puisi kepada tembok retak.Mencintai bahasa seperti aku dulu mencintai hidup dengan luka, dengan seluruh nyawa.

(menunduk, lirih, lembut)

Mereka…

Mereka yang menggeram diam-diam

Yang tak dipanggil ke panggung

Tapi menulis seperti hendak mati esok hari

Itulah saudara-saudaraku

Itulah penyair sejati…

(hening. Lama. Lalu menatap penonton)

Dan kau…

Kau yang sekarang mendengarkan aku,

Kau yang duduk di ruang gelap ini,

Dengan mata yang barangkali berkaca…

Beranikah kau menjadi penyair

yang tak takut menyentuh bara?

(senyum kecil, lalu deklamasi lembut)

“Aku mau hidup seribu tahun lagi…”

(tatap tajam)

Dan dalam tiap tahun itu

Aku ingin puisiku menjadi jari telunjuk

Yang menunjuk wajah para pembohong

Yang menusuk dada para koruptor

Yang membangunkan nurani para bebal

Yang membisikkan pada penyair-penyair muda:

Jangan kau hidup untuk dipuji

Tapi menulislah, agar hidup

Menjadi sesuatu yang layak dikenang!

(gelap. Suara Chairil pelan, seperti gema dari balik bumi)

CHAIRIL (suara):

Karena mati bukan berarti hilang…

Dan kata yang jujur tak pernah benar-benar dikubur.

4 April 2025

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...