POLRI DAN KEJAGUNG

Duel Validasi Atau Tulus Atasi Korupsi Demi Ibu Pertiwi?
Oleh Mursyidah
Sebuah kabar yang mencengangkan menghiasi dunia warta berita NKRI tercinta. Hampir semua platform media sosial menulis isu indah nan childish ini. Bagaimana tidak? Dua instansi saling adu aksi berantas dan usut kasus korupsi yang dinaungi oleh petinggi petingginya. Satu institusi POLRI, yang sangat disayangi oleh pak Jokowi selaku presiden RI periode lalu, tengah adu aksi dengan kejaksaan agung instansi gagah yang tengah sering malang melintang dalam serah terima hasil sitaan korupsi di jagat media yang menjadi garda kuat seperti Garuda yang amat dicinta dan dipercaya oleh pak Prabowo, Presiden masa kini yang bahkan elektabilitasnya sampai meredupkan pamor komisi pemberantasan korupsi(kpk).
Dari pihak POLRI ditangkap karena korupsi proyek MBG, program andalan dan humanis milik bapak Presiden kita masa ini, dari pihak kejaksaan temuan korupsinya bikin kita tertawa geleng kepala. Emas hasil temuan tim sidak POLRI beratnya saja mengalahkan emas monas yang sudah jelas itu monumen nasional. Jika Monas berpuncak emas 72 kg ,yang ditemui milik jampidsus malah 74 kg. Katanya bersumber dari korupsi TPPU perusahaan batu bara yang berujung blackout Sumatra.
Namun yang jelasnya dari kasus manis yang tengah bergulir, satu hal yang teramat pasti menjadi tanya di sanubari, benarkah ini kasus hukum yang punya landasan untuk menyelamatkan ibu Pertiwi atau hanya ajang adu aksi untuk unjuk gigi seolah institusi itu masing masing paling NKRI?
Namun yang kita, rakyat mini mini ini takuti itu hanya jadi aksi mencari validasi yang eksekusinya perlahan mati suri. Jika memang aksi berantas korupsi ini murni dengan hati nurani dan empati untuk negeri ,kenapa menanti salah satu tersenggol baru beraksi?
Yang jelas, pasti dua kasus hukum ini seperti film aksi yang endingnya nanti rakyat mungil lagi yang ditumbali dan dikibuli. Apakah ini sentimentil harga diri antara para petinggi negeri? Bisa jadi pihak Solo emosi oleh tindakan bersih bersih instansi oleh putra Hambalang.
Entahlah ,yang pasti dua rezim ini antara yang lalu dan kini punya ambisi diri yang tinggi,namun satu yang rakyat ini harap setiap hari agar sikap nirempati dapat ditinggali, jauhi flexing dan gaya hidup dengan hedonisme tinggi mulai bangga dengan produk dalam negeri, karena asal mula terbesit inisiasi atau niat korupsi bukan hanya karena lemah iman dalam diri, tapi gaya hidup eksklusif dengan brand mahal dan gengsi tinggi.
Maka sangatlah serakah jika para pejabat negeri terus banyak berkelit alasan korupsi karena kompensasi tak sesuai bakti. Jika memang POLRI tulus beraksi demi negeri , rasanya mereka tidak akan menanti salah seorang perwiranya ditangkap, baru mengulas dan menindak jampidsus.
Tidak ikut membenarkan kejaksaan ,tapi keduanya tampak sama serakahnya, namun titik minus institusi POLRI bertindak seperti ingin membalas dendam ,bukan berarti kejaksaan punya titik plus, jelas tidak mereka lebih sangat sesat membiarkan seorang jampidsus mampu menggelap gulitakan satu pulau yang baru saja usai berduka karena banjir bandang beberapa waktu lalu.
Dengan TPPU batu bara yakni pulau Sumatra dengan black out listriknya demi hidup mewah dan elegannya.
Mungkin satu kata, duel ini hanya simbolisasi untuk meraih simpati dan validasi anak negeri. Jujur apa mungkin kami bisa empati saat pajak kami selalu dialokasikan salah arah dan salah kaprah oleh orang orang serakah?













