Jejak Sunyi Masjid Tua di Pinggir Kota
Oleh: Nurul Hikmah

Tidak semua tempat bersejarah ramai dikunjungi. Ada yang justru memilih bersembunyi di balik lorong-lorong kota, jauh dari keramaian, menunggu orang-orang yang benar-benar ingin mendengarkan kisahnya.
Begitulah kesan pertama setiap kali saya melangkahkan kaki menuju Masjid Teungku Di Anjong di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh. Letaknya hanya beberapa menit dari Masjid Raya Baiturrahman, tetapi suasananya seolah membawa kita kembali beberapa abad ke belakang.
Angin laut berembus pelan, pepohonan menaungi halaman masjid, sementara deretan makam tua berdiri dalam diam, menyimpan cerita yang nyaris terlupakan.
Banyak orang mengenal Aceh sebagai Serambi Mekkah. Namun, tidak semua mengetahui bahwa sebutan itu lahir dari perjalanan sejarah yang panjang.
Pada masa Kesultanan Aceh, para musafir dan calon jemaah haji dari berbagai wilayah nusantara hingga Asia Tenggara menjadikan Aceh sebagai tempat persinggahan. Mereka tidak sekadar menunggu kapal menuju Tanah Suci, tetapi memperdalam ilmu agama dan mempelajari manasik haji dari para ulama.
Salah satu tempat yang diyakini menjadi bagian dari denyut peradaban itu adalah Masjid Teungku Di Anjong.
Tradisi lisan masyarakat serta sejumlah catatan sejarah menyebut nama Syekh Abu Bakar, ulama yang lebih dikenal sebagai Teungku Di Anjong. Di belakang masjid pernah berdiri balai tempat para musafir tinggal dan belajar. Dari tempat sederhana inilah ilmu disampaikan, akhlak diajarkan, dan bekal perjalanan menuju Mekkah dipersiapkan.
Kini bangunan itu telah berubah dimakan zaman. Namun jejaknya belum benar-benar hilang. Di samping masjid masih terdapat kompleks makam tua yang diyakini sebagai tempat peristirahatan keluarganya. Sementara makam beliau berada di pelataran masjid berdampingan dengan sebuah rumah kecil yang disebut-sebut sebagai tempat beliau tinggal dahulu.
Menariknya, di belakang makam beliau terdapat dua makam lain yang dipercaya sebagai sahabat seperjuangan. Nama mereka tidak banyak disebut dalam catatan sejarah. Seolah mereka memilih tetap menjadi orang-orang yang bekerja dalam diam, meninggalkan amal yang lebih besar daripada nama.
Semakin lama berjalan di kawasan ini, semakin terasa bahwa setiap sudut memiliki cerita. Batu nisan tua, halaman yang teduh, dan bangunan masjid yang berkali-kali diterjang banjir serta tsunami seakan menjadi saksi bahwa iman kadang bertahan dalam bentuk yang paling sunyi.
Di salah satu sudut halaman terdapat sebuah sumur tua. Airnya bening, sejuk, dan hingga kini terus dimanfaatkan masyarakat. Beredar kisah turun-temurun bahwa sumur itu tembus ke Tanah Suci Mekkah. Kebenaran kisah tersebut tentu tidak dapat dipastikan dan Allah lebih mengetahui.
Namun sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat Aceh, cerita itu tetap hidup dan menambah warna dalam sejarah panjang masjid ini.
Bagi saya, justru sumur tua itulah yang selalu mengundang untuk kembali. Setiap kali hati dipenuhi kegelisahan atau hidup terasa terlalu sesak, langkah saya hampir selalu berakhir di Masjid Teungku Di Anjong.
Saya membasuh wajah dengan air sumur yang dingin itu, lalu memasuki ruang salat yang sederhana. Tidak ada suara selain desir angin dan lantunan ayat suci Al-Qur’an atau zikir yang dilafazkan merdu.
Di tempat itu, saya memilih berlama-lama dalam sujud. Satu sujud, lalu sujud berikutnya. Tidak ada yang berubah secara ajaib. Masalah tetap ada. Kehidupan tetap berjalan. Namun entah mengapa, setiap kali meninggalkan masjid ini, hati selalu pulang dalam keadaan lapang.
Mungkin karena saya sedang berdiri di tempat yang selama berabad-abad dipenuhi doa para ulama, musafir, dan para pencari ilmu. Atau mungkin karena suasana masjid yang begitu tenang membuat hati lebih mudah menghadirkan Allah dalam setiap doa. Apa pun jawabannya, hanya Allah yang Maha Mengetahui.
Yang pasti, Masjid Teungku Di Anjong mengajarkan satu hal. Sejarah bukan hanya tentang bangunan tua atau makam-makam yang tersisa. Sejarah adalah tentang jejak orang-orang saleh yang masih menghidupkan hati, bahkan setelah ratusan tahun mereka meninggalkan dunia.
Barangkali karena itulah, setiap kali saya keluar dari halaman masjid ini, selalu ada satu doa yang terlintas dalam hati: semoga Allah membalas setiap tetes keringat para ulama yang pernah menjaga Aceh hingga akhirnya dikenal dunia sebagai Serambi Mekkah. Dan semoga kita tidak menjadi generasi yang membiarkan jejak mereka hilang ditelan zaman.













