Musleni Tomyam, Jejak Dua Dekade Sajian Asam Pedas Ala Thailand di Jantung Banda Aceh

Siang Jumat, 26 Juni 2026, beberapa insan media dari harian Aceh Indonesia, Info Aceh dan Potretonline.com, Seanteronews.com, duduk semeja, menikmati kopi Arabika Gayo di Gerobak Arabica Coffee yang berselang beberapa toko dari POTRET Gallery.
Sembari menyeruput kopi, aroma tomyam yang sedang disiapkan di Musleni Tomyam menggugah selera dan mendorong insan media ikut memesan hidangan dari Musleni Tomyam yang berdampingan dengan Gerobak Arabicca Coffee yang berada di jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango Raya, Banda Aceh
Di tengah menjamurnya warung dan restoran yang menawarkan sensasi asam pedas ala Negeri Gajah Putih, nama Musleni Tomyam telah lama menjadi rujukan para pencinta kuliner di Aceh.
Berdiri sejak 2006, usaha rumah makan ini telah melalui perjalanan panjang dari sebuah kota kecil di pesisir utara Aceh hingga akhirnya menetap dan membesar di Banda Aceh, sembari tetap menjaga konsistensi rasa yang menjadi ciri khasnya selama hampir dua dekade.
*Perjalanan Panjang Sejak 2006*
Kisah Musleni Tomyam bermula pada 2006 di Lhokseumawe, tepatnya di kawasan yang berdekatan dengan Pos Lantas Cunda. Di sanalah cita rasa tomyam dan masakan pedas ala Thailand serta Malaysia mulai dikenal oleh masyarakat sekitar. Usaha ini bertahan dan terus berkembang hingga akhir tahun 2010, ketika pemiliknya memutuskan untuk memindahkan usaha ke Banda Aceh.
Gerai pertama di Banda Aceh dibuka di kawasan Peuniti, sebuah titik yang cukup strategis dan dekat dengan pusat kota. Dari Peuniti, nama Musleni Tomyam mulai dikenal lebih luas oleh warga ibu kota provinsi, sebelum akhirnya usaha ini berpindah dan menetap di lokasi yang lebih representatif, yakni di Jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, yang menjadi alamat operasionalnya hingga saat ini.
Menariknya, lokasi tersebut kini berada di kawasan yang juga dikenal sebagai salah satu titik nongkrong dan wisata kuliner di Ulee Kareng, berdekatan dengan sejumlah kedai kopi dan galeri seni dan kerajinan. Sejumlah blog perjalanan dan gaya hidup di Aceh kerap menyebut Musleni Tomyam sebagai salah satu pemberhentian favorit untuk menikmati tom yam hangat dan ikan masak tiga rasa di sela-sela aktivitas akhir pekan, menjadikannya bagian dari rute kuliner yang melekat dengan kehidupan sosial warga Ulee Kareng.
*Arti di Balik Nama “Musleni”*
Nama Musleni bukan sekadar nama dagang biasa. Nama ini merupakan gabungan dari dua nama, yakni Mustafa dan Marleni, yang merepresentasikan sosok di balik berdirinya usaha kuliner ini. Penggabungan nama tersebut sekaligus menjadi identitas yang melekat kuat pada usaha rumah makan ini sejak awal berdiri hingga kini telah berkembang menjadi salah satu nama yang cukup dikenal dalam lanskap kuliner Thailand-Malaysia di Aceh.
Konsep yang diusung sejak awal pun konsisten, yakni menghadirkan masakan ala panas khas Thailand dan Malaysia, dua kuliner serumpun Asia Tenggara yang dikenal kaya rempah, dengan dominasi rasa asam, pedas, dan segar.
*Mengenal Tom Yam, Warisan Asam Pedas dari Negeri Gajah Putih*
Untuk memahami mengapa tom yam begitu digemari, perlu ditengok sejarah panjang hidangan ini di negeri asalnya, Thailand. Nama tom yam sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Thai, yakni “tom” yang berarti mendidih atau memasak dengan cara direbus, dan “yam” yang merujuk pada rasa pedas dan asam atau campuran bahan yang diaduk. Gabungan dua kata ini secara harfiah menggambarkan karakter utama hidangan tersebut: sup panas dengan perpaduan rasa asam dan pedas yang kuat.
Sejumlah literatur kuliner, termasuk catatan yang pernah diulas Kompas.com dan Tempo.co, menyebut bahwa jejak tertulis resep tom yam paling tua diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19, sekitar tahun 1888, dengan judul resep yang masih menggunakan ikan air tawar sebagai bahan utama, bukan udang seperti yang lebih populer saat ini. Penggunaan udang dalam tom yam baru tercatat belakangan, dalam sebuah dokumentasi kuliner yang ditulis oleh seorang misionaris asing pada akhir abad yang sama. Hidangan ini diyakini berasal dari kawasan Thailand Tengah, di sekitar aliran Sungai Chao Phraya, yang dahulu menjadi sumber utama udang air tawar bagi masyarakat setempat.
Dari segi bahan, ciri khas tom yam terletak pada penggunaan serai, lengkuas, daun jeruk purut, dan air jeruk nipis sebagai unsur penyedap utama yang memberikan aroma harum sekaligus rasa asam segar. Beberapa sumber bahkan mencatat bahwa serai yang digunakan dalam tom yam sebenarnya berasal dari Asia Selatan, lengkuas dari Tiongkok, dan daun jeruk purut dari Indonesia, yang menunjukkan bahwa tom yam sesungguhnya adalah hasil perpaduan jalur rempah lintas Asia yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Begitu pentingnya hidangan ini bagi identitas kuliner Thailand, tom yam — khususnya varian tom yam udang atau tom yum goong — bahkan telah ditetapkan masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan oleh UNESCO. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa tom yam bukan sekadar hidangan biasa, melainkan representasi pengetahuan dan keahlian kuliner masyarakat Thailand yang telah diwariskan lintas generasi.
Seiring waktu, tom yam pun berkembang menjadi berbagai varian, mulai dari tom yam goong yang menggunakan udang, tom yam gai dengan ayam, tom yam thale dengan campuran aneka makanan laut, hingga tom yam pla yang menggunakan ikan air tawar sebagai bahan dasar. Dari segi kuah, tom yam juga terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu tom yam nam sai yang berkuah bening dan segar, serta tom yam nam khon yang berkuah lebih kental dan gurih karena penambahan santan atau susu evaporasi.
*Tom Yam yang Semakin Akrab di Lidah Indonesia*
Tom yam tidak hanya populer di negeri asalnya. Di Indonesia, hidangan ini telah lama menjadi salah satu menu favorit di berbagai restoran Asia, bahkan menjadi menu wajib di banyak warung makan sederhana. Laporan Kompas.com yang mengulas tren kuliner Thailand di Surabaya, misalnya, menyebut bahwa rasa asam, pedas, gurih, dan asin yang khas pada tom yam dinilai cocok dengan lidah masyarakat Indonesia, sehingga hidangan ini kerap menjadi menu paling diminati di restoran-restoran bernuansa Thailand, mengalahkan menu lain seperti pad thai maupun nasi goreng khas Thailand.
Berbagai portal kuliner dan blogger gaya hidup di Indonesia juga kerap merekomendasikan tom yam sebagai hidangan wajib coba, baik di kota besar seperti Jakarta, Bandung, maupun Surabaya. Bahkan tidak sedikit pula pelaku usaha lokal yang kemudian berinovasi dengan menyesuaikan bahan-bahan tom yam menggunakan komoditas lokal, seperti udang dan ikan dari perairan setempat, sembari tetap mempertahankan racikan bumbu khas Thailand seperti serai, lengkuas, daun jeruk purut, dan cabai segar. Pendekatan semacam ini pula yang nampak diterapkan oleh Musleni Tomyam, yang sejak awal mengusung konsep masakan ala panas Thailand dan Malaysia dengan sentuhan rasa yang disesuaikan untuk lidah masyarakat Aceh.
Tren menjamurnya restoran tom yam di berbagai kota di Indonesia, sebagaimana banyak diulas media kuliner daring, juga didorong oleh fleksibilitas hidangan ini. Tom yam dapat disajikan dengan berbagai isian, mulai dari udang, cumi, ikan, ayam, hingga jamur untuk versi yang lebih ringan, sehingga mampu menjangkau berbagai segmen konsumen, mulai dari pencinta makanan laut hingga mereka yang lebih menyukai isian daging atau sayuran.
*Sentuhan Lokal dalam Racikan Bumbu*
Fenomena adaptasi bahan lokal pada hidangan tom yam sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Berbagai liputan kuliner menyebut, sejumlah pelaku usaha tom yam di Tanah Air kini lebih banyak menggunakan udang maupun ikan hasil tangkapan perairan setempat, dibandingkan mengandalkan bahan impor, tanpa mengurangi kekuatan aroma rempah khas Thailand seperti serai, lengkuas, dan daun jeruk purut. Pendekatan semacam ini dinilai membuat rasa tom yam tetap autentik, sekaligus lebih efisien dari sisi biaya produksi dan lebih mudah diterima lidah masyarakat lokal.
Pola serupa juga tercermin dari konsep yang diusung Musleni Tomyam, yang sejak awal memosisikan dirinya sebagai rumah makan dengan cita rasa panas khas Thailand dan Malaysia, namun tetap terbuka terhadap sentuhan rasa Aceh. Hal ini terlihat jelas pada layanan kateringnya yang secara khusus menawarkan konsep menu kolaborasi tom yam dan Aceh, menjadikan dua identitas kuliner yang berbeda dapat hadir berdampingan dalam satu sajian acara.
*Menu Andalan: Tom Yam, Sop Buntut, dan Ikan Masak Tiga Rasa*
Di Musleni Tomyam, menu unggulan yang menjadi andalan sejak dulu tetap konsisten, yakni aneka tom yam, sop buntut, dan ikan masak tiga rasa. Ketiga menu ini menjadi semacam identitas rasa yang melekat dengan nama Musleni di kalangan pelanggan setianya.
Aneka tom yam yang disajikan menghadirkan racikan kuah asam pedas khas Thailand, lengkap dengan isian yang dapat disesuaikan, mulai dari makanan laut hingga daging ayam, mengikuti pola umum penyajian tom yam yang juga lazim ditemukan di berbagai restoran Thailand di Indonesia. Sementara itu, sop buntut menjadi sentuhan menu yang lebih akrab dengan selera Nusantara, memberikan pilihan bagi pelanggan yang menginginkan hidangan berkuah hangat namun dengan profil rasa yang berbeda dari tom yam.
Tidak kalah menarik adalah menu ikan masak tiga rasa, yang memadukan cita rasa asam, manis, dan pedas dalam satu sajian. Menu ini kerap disebut dalam berbagai catatan kunjungan warga maupun blogger lokal Aceh yang menjadikan Musleni Tomyam sebagai destinasi makan malam atau makan siang akhir pekan, khususnya bagi yang gemar bersantap sembari menikmati suasana Ulee Kareng yang juga dikenal sebagai kawasan kuliner dan tempat berkumpul di Banda Aceh.
*Kehadiran Ayam Geprek Barira, Sentuhan Baru dari Dapur Musleni*
Selain mempertahankan menu-menu legendarisnya, Musleni Tomyam juga terus berinovasi mengikuti perkembangan tren kuliner Tanah Air. Yang terbaru, gerai ini meluncurkan menu baru bernama Ayam Geprek Barira, dengan sambal khas yang menjadi pembeda utama dari menu geprek pada umumnya.
Ayam geprek sendiri merupakan salah satu hidangan yang mengalami lonjakan popularitas luar biasa di Indonesia sejak sekitar tahun 2017. Hidangan berupa ayam goreng tepung yang dilumatkan bersama sambal ini dipercaya berawal dari sebuah warung sederhana di kawasan Papringan, Yogyakarta, hasil kreasi seorang pedagang bernama Ruminah atau yang lebih dikenal sebagai Bu Rum. Kata “geprek” sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti dipukul, ditekan, atau dilumatkan, sesuai dengan teknik penyajiannya yang khas: ayam goreng krispi yang digeprek bersama sambal hingga bumbu meresap ke dalam daging. Sejak booming secara nasional, ayam geprek pun berkembang pesat dan kini dapat ditemukan di hampir seluruh penjuru Indonesia, dengan berbagai variasi sambal dan topping mengikuti kreativitas masing-masing pelaku usaha.
Mengikuti jejak tren tersebut, Musleni Tomyam menghadirkan versi Ayam Geprek Barira dengan racikan sambal khasnya sendiri, yang dipasarkan dengan harga cukup terjangkau, yakni Rp12.000 per porsi. Selain itu, gerai ini juga menawarkan menu ayam bakar dengan harga Rp15.000 per porsi, melengkapi pilihan menu ayam bagi pelanggan yang menginginkan alternatif di luar sajian berkuah asam pedas.
Kehadiran menu-menu baru ini menunjukkan bagaimana Musleni Tomyam berupaya menjaga relevansi di tengah persaingan kuliner yang semakin ketat, tanpa meninggalkan identitas utamanya sebagai rumah makan bercita rasa Thailand-Malaysia yang sudah dikenal sejak lama.
*Harga yang Ramah di Tengah Tren Kuliner Thailand*
Salah satu hal yang menjadi pertimbangan banyak pelanggan saat memilih tempat makan bercita rasa Thailand adalah faktor harga. Sebagai perbandingan, di sejumlah restoran Thailand di kota-kota besar seperti Jakarta, satu porsi tom yam dapat dibanderol mulai dari kisaran Rp79.500 hingga lebih dari Rp250.000, tergantung jenis isian dan kelas restorannya, sebagaimana pernah diulas beberapa media kuliner daring.
Dibandingkan kisaran harga tersebut, menu-menu yang ditawarkan Musleni Tomyam, termasuk menu baru Ayam Geprek Barira seharga Rp12.000 per porsi dan ayam bakar Rp15.000 per porsi, terbilang jauh lebih terjangkau bagi kebanyakan kalangan. Positioning harga yang ramah di kantong ini turut menjadi salah satu faktor yang membuat rumah makan ini tetap diminati lintas kalangan, mulai dari pelajar dan mahasiswa, pekerja kantoran, keluarga, hingga wisatawan yang sedang berkunjung ke Banda Aceh.
*Daya Tarik bagi Wisatawan*
Lokasinya yang strategis di Ulee Kareng, salah satu kawasan yang juga dikenal sebagai sentra kuliner dan tempat singgah wisatawan di Banda Aceh, turut menjadikan Musleni Tomyam sebagai salah satu titik yang kerap disinggahi rombongan wisata. Tidak sedikit wisatawan yang berkunjung ke Aceh dan dibawa oleh pemandu wisata untuk singgah dan mencicipi menu khas di rumah makan ini, menjadikannya bagian dari pengalaman kuliner yang ditawarkan dalam paket-paket perjalanan wisata di Aceh.
Kombinasi rasa Thailand-Malaysia yang dipadukan dengan sentuhan lokal dinilai menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan, baik domestik maupun yang berasal dari luar daerah, yang ingin menikmati variasi kuliner di luar masakan khas Aceh pada umumnya, namun tetap dalam jangkauan harga yang ramah di kantong.
Posisi Musleni Tomyam yang berada di kawasan Pango Raya, Ulee Kareng, juga menguntungkan dari sisi ekosistem kuliner sekitarnya. Beberapa catatan warga maupun blogger lokal yang membagikan pengalaman kunjungannya menyebut, kawasan ini telah berkembang menjadi semacam titik berkumpul alternatif di Banda Aceh, dengan kehadiran sejumlah kedai kopi, galeri seni, hingga rumah makan yang saling berdekatan dalam radius hanya beberapa meter. Tidak jarang, warga yang sedang menikmati kopi di kedai-kedai sekitar kawasan tersebut kemudian melanjutkan agenda makan malamnya dengan memesan tom yam atau ikan masak tiga rasa di Musleni Tomyam, menjadikan kunjungan ke kawasan ini sebagai satu rangkaian pengalaman kuliner yang utuh, mulai dari secangkir kopi hingga semangkuk sup asam pedas yang menghangatkan.
*Layanan Paket dan Katering untuk Berbagai Acara*
Selain melayani pelanggan yang datang langsung, Musleni Tomyam juga mengembangkan layanan untuk kebutuhan acara dalam skala besar. Untuk kebutuhan pemesanan dalam jumlah besar atau rombongan, rumah makan ini menerapkan sistem paket dengan harga Rp70.000 per orang, dengan jumlah pemesanan minimal 10 orang tamu. Sistem ini memudahkan calon pelanggan yang ingin memesan untuk acara kumpul keluarga, instansi, maupun rombongan wisata, tanpa perlu memesan menu secara satuan.
Tidak hanya itu, Musleni Tomyam juga melayani pesanan katering untuk berbagai skala acara, baik kecil maupun besar, dengan konsep menu kolaborasi yang memadukan cita rasa tom yam dengan kuliner khas Aceh. Konsep kolaborasi ini menjadi salah satu nilai tambah yang ditawarkan, mengingat tidak banyak penyedia katering di Banda Aceh yang secara khusus menawarkan perpaduan dua identitas rasa tersebut dalam satu paket layanan.
Layanan katering yang disediakan pun mencakup berbagai bentuk penyajian, mulai dari nasi kotak untuk kebutuhan acara yang lebih praktis, hingga layanan prasmanan bagi acara-acara yang membutuhkan penyajian dalam skala lebih besar, seperti acara pernikahan, syukuran, maupun kegiatan instansi dan perusahaan.
*Eksistensi di Tengah Persaingan Kuliner Aceh*
Hampir dua dekade sejak pertama kali berdiri di Lhokseumawe, Musleni Tomyam telah menjelma menjadi salah satu nama yang cukup mapan dalam lanskap kuliner Thailand-Malaysia di Aceh. Konsistensi menjaga cita rasa pada menu-menu andalan seperti aneka tom yam, sop buntut, dan ikan masak tiga rasa, dipadukan dengan langkah inovasi melalui menu-menu baru seperti Ayam Geprek Barira dan ayam bakar, menjadi salah satu strategi yang ditempuh untuk tetap relevan di tengah perkembangan tren kuliner yang terus berubah.
Di sisi lain, perkembangan layanan ke arah paket rombongan dan katering skala besar juga menunjukkan adanya upaya untuk memperluas segmen pasar, tidak hanya mengandalkan pelanggan yang datang langsung ke gerai, tetapi juga menjangkau kebutuhan acara-acara besar di Banda Aceh dan sekitarnya.
Langkah semacam ini juga sejalan dengan pola yang banyak ditempuh pelaku usaha kuliner sejenis di berbagai daerah, yang tidak lagi semata mengandalkan transaksi harian di gerai fisik, melainkan mulai merambah segmen acara dan katering sebagai sumber pendapatan tambahan yang lebih stabil. Bagi usaha kuliner rumahan yang telah berdiri puluhan tahun seperti Musleni Tomyam, diversifikasi layanan semacam ini sekaligus menjadi penopang keberlanjutan usaha di tengah naik turunnya kunjungan harian, terutama pada masa-masa low season pariwisata.
Dengan rekam jejak yang panjang serta posisinya yang strategis di kawasan Ulee Kareng, Musleni Tomyam tampaknya akan terus menjadi salah satu rujukan bagi warga Banda Aceh maupun wisatawan yang ingin menikmati sensasi asam pedas khas Thailand dan Malaysia, sembari tetap merasakan sentuhan rasa lokal Aceh yang menjadi pembeda dari rumah makan sejenis lainnya. Konsistensi rasa yang dijaga sejak 2006, dipadukan dengan keberanian untuk terus berinovasi lewat menu-menu baru, pada akhirnya menjadi modal utama yang membuat nama Musleni tetap bertahan di tengah dinamika industri kuliner Aceh yang terus bergerak cepat. (*)












