Jamu, Resep Panjang Umur Gratis dari Dokter

Oleh: Saiful Bahri
Saudaraku… Mendengar kata “JAMU”, pasti terbayang mbak-mbak gendong bakul keliling kompleks, kan?
“Ada jamu pegal linu… ada jamu segar waras… ada jamu kuat…”
Iya, saya dulu sering beli. Lima ribu rupiah dapat sebotol. Pahitnya minta ampun, tetapi badan jadi enak
Namun, minggu lalu saya ketemu “JAMU” versi lain. Versinya dokter. Dan ini GRATIS, Saudaraku. Tidak perlu digendong.
KEJADIANNYA BEGINI,
Saya bertanya polos kepada dokter di RS, “Dok, makanan apa yang harus dihindari biar sehat terus?”
Sang dokter tersenyum, lalu menjawab satu kata, “JAMU”.
Saya kaget, “JAMU?! Lah, Dok, saya baru saja minum kunyit asam!”
Dokternya tertawa, “Bukan jamu yang diminum, Pak… JAMU = JAGA MULUT.”
DUARRR!!! Otak saya langsung tertampar sendiri.
MAKNANYA DALAM BANGET, Saudaraku:
1. JAGA MULUT = JAGA APA YANG MASUK
Makan jangan seperti tong sampah, semua disikat. Kasihan perut kita. Dia bekerja 24 jam mengolah makanan dan tidak pernah libur.
Dokter bilang, “Umur di tangan Tuhan, tetapi ikhtiar menjaga badan itu wajib bagi kita.” Masuk akal kan?
2. JAGA MULUT = JAGA APA YANG KELUAR
Ini yang lebih berat. Mulut kita punya dua fungsi: untuk makan dan untuk berbicara.
Kalau makan sembarangan perut yang rusak.
Kalau berbicara sembarangan hati orang yang rusak + rezeki kita yang seret.
Makanya, dokter dan ulama sama-sama bilang, “Sumber penyakit itu 80% dari mulut.” Pas banget dengan “3 Perisai” yang baru tayang kemarin kan?
3. JAMU = DISIPLIN DIRI
Dokter menambahkan, “Tidak cuma makanan, Pak. Begadang, kurang tidur, malas bergerak… itu juga merusak.”
Intinya satu: DISIPLIN. Bangun jam berapa, makan apa, tidur jam berapa.
Orang pintar dan kaya bisa kalah oleh orang biasa yang disiplin. Kenapa?
Karena disiplin itu adalah “jamu” paling mahal yang tidak bisa dibeli di apotek.
PENUTUP BUAT KITA SEMUA:
Jadi, Saudaraku… mulai hari ini, mari ganti slogan kita.
Dulu: “Sedia jamu segar waras”
Sekarang: “Sedia JAMU = JAGA MULUT, biar waras dunia akhirat.”
Dokter itu pewaris ilmu para nabi, Saudaraku. Mereka belajar bertahun-tahun agar hidup kita lebih mudah. Masa kita yang “masyarakat biasa” ini tidak mau mendengar? Rugi banda
Wallahu a’lam bish-shawab
TTD:
Saiful Bahri












