JEJAK HATI DI GAYO LUES: Menjemput Cahaya Ilmu di Negeri di Atas Awan.

Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA
“Kami tidak mewarisi tanah ini dari nenek moyang, kami meminjamnya dari anak cucu.” (Petuah Gayo).
Gayo Lues bukan sekadar tempat yang singgah di mata, tetapi tipe destinasi yang menetap dan mengakar di jiwa. Sebuah kabupaten di dataran tinggi Aceh yang dijuluki “Negeri di Atas Awan” ini memiliki magnet tersendiri.
Di sini, ilmu, adat, dan bentang alam bersatu dalam harmoni yang presisi, menciptakan sebuah mozaik kehidupan yang sarat akan makna mendalam.
Kehangatan Ukhuwah para Penjaga Ilmu
Begitu menginjakkan kaki di Gayo Lues, dinginnya udara sejuk pegunungan langsung terbalut oleh hangatnya ukhuwah para tuan guru dan pimpinan dayah. Mereka menyambut pendatang layaknya saudara kandung yang telah lama hilang.
Yang menakjubkan dari konstelasi sosial keagamaan di sini adalah solidaritas antartokohnya yang begitu kuat; nihil ego sektoral, tanpa jarak. Para penjaga gawang moral ini bersatu dalam satu barisan dakwah, saling menguatkan melalui simpul organisasi yang rapi.
Di tengah kunjungan tersebut, sebuah ritus kultural yang bersahaja terjadi. Seorang pimpinan dayah menghadiahkan segumpal tembakau asli Gayo (Bakong Gayo), sebuah simbol persahabatan tinggi dan keramahan khas masyarakat setempat. “Ini hasil bumi kami, semoga mengingatkan Tgk. Ilham pada Gayo Lues,” ujarnya dengan sunggingan senyum tulus yang meneduhkan.
Memori Bersama Abuya Musa Jailani.
Momen paling sakral dalam perjalanan ini adalah ketika saya berkesempatan bersilaturahmi dengan Abuya Musa Jailani (Alm), ulama sepuh yang menjadi ikon sekaligus jangkar kebijaksanaan di Gayo Lues. Beliau adalah pimpinan dayah tertua di Blang Kemeren; sosok karismatik yang sangat rendah hati, namun memancarkan kedalaman ilmu yang meluas.
Di ruang sederhana dayahnya, saya mengambil berkah dengan meminta petuah spiritual. Dengan artikulasi yang tenang,namun bertenaga, Abuya berpesan:
“Dakwah ini bukan tentang nama, tapi tentang keikhlasan. Jaga niat, jangan sampai debu dunia mengotori hati.”
Untaian kalimat itu seketika menggetarkan relung jiwa. Ada getaran metafisika yang kuat, seolah saya sedang duduk berhadapan dengan seorang wali yang melintasi zaman.
Amunisi “Seribu Hafizh” di Balik Selimut Kabut.
Menikmati pagi di Gayo Lues adalah sebuah kemewahan visual. Kabut tebal yang menyelimuti lembah seolah menempatkan kita berdiri di atas langit. Di atas ketinggian Blangkejeren, sebuah refleksi filosofis menyeruak: kadang kita memang harus naik ke titik yang lebih tinggi, bukan untuk sombong, melainkan untuk melihat betapa kecilnya dunia yang sering kita perebutkan ini.
Namun, alam Gayo Lues tidak sekadar menjual eksotisme panorama. Di balik kabutnya, pemerintah setempat bersama elemen masyarakat sedang menggerakkan visi teologis yang masif: menjadikan Gayo Lues sebagai “Kabupaten Seribu Hafizh”.
Program ini diorkestrasi dengan sangat serius. Puluhan dayah dan lembaga tahfiz berkolaborasi secara organik demi mencetak generasi penerus yang dadanya penuh dengan bait-bait Al-Qur’an.
Diplomasi Meja Makan: Kopi dan Masam Jing.
Tak lengkap rasanya mengunyah esensi Gayo Lues tanpa menyesap Kopi Gayo yang aromanya telah mendunia, atau mengagumi ritme sinkronisasi Tari Saman. Namun, lebih dari sekadar atraksi pariwisata, kebudayaan di sini hidup dan bernyawa dalam keseharian.
Nuansa egalitarian itu sangat terasa ketika para tuan guru mengajak saya menikmati Masam Jing, kuliner khas lokal yang kaya rempah, di sebuah kafe di sudut Blangkejeren. Tempat itu rupanya menjadi ruang publik (public sphere) informal tempat para ulama berkumpul. Di sanalah diplomasi meja makan terjadi; obrolan ringan berbalut tawa yang sesekali diselingi diskusi keilmuan yang berat namun renyah.
Epilog: Oleh-Oleh yang Tak Ternilai.
Perjalanan ke Gayo Lues memberikan pelajaran berharga bahwa kemajuan peradaban sebuah daerah tidak melulu diukur dari megahnya infrastruktur fisik, melainkan dari keteguhan iman, keluhuran adat, dan eratnya persatuan. Di sini, adat adalah pedoman hidup yang operasional, dan ulama adalah motor penggerak utama perubahan sosial.
Saya pulang membawa “oleh-oleh” yang tidak akan pernah menyusut oleh waktu: seikat Tembakau Gayo sebagai simbol persaudaraan, petuah jernih dari almarhum Abuya Musa Jailani, optimisme dari gerakan Seribu Hafizh, serta memori kolektif tentang sebuah negeri tempat langit dan bumi bertemu dalam hamparan doa.
Di Gayo Lues, langit terasa begitu rendah, seolah mendekat untuk mendengar bisikan hamba-Nya. Dan di antara pekat kabut serta gemericik sungai, ada keteguhan dakwah yang tak akan pernah lekang oleh waktu.
Sampai jumpa lagi, Negeri Seribu Hafizh. Rindu saya sudah tertinggal di sana.
*Penulis adalah Dosen STAI Tapaktuan, Aceh Selatan dan Anggota Majelis BADA Periode 2021-2023.












