Makna Membaca dan Menulis

Oleh: Kang Thohir
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta.
{QS. A-Alaq: 1}
Surah pertama dan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW di gua Hiro yang terletak di atas Jabal Nur (gunung cahaya) melalui malaikat Jibril AS. Adalah surah pertama yaitu iqra (bacalah), berarti membaca itu adalah perintah Allah pertama kepada manusia di bumi, supaya bisa mengetahui Tuhannya dan penciptanya, lewat alam semesta dengan ilmu membaca.
Akal digunakan untuk berfikir dan membaca alam semesta berserta isinya, yaitu: membaca supaya bisa menyerap ilmu lewat alam, berguru, membaca kitab/buku, mendengarkan, melihat, melafazkan, ikrar, menganalisis makna setiap kejadian peristiwa, menafsirkan wahyu Allah, berfikir kritis pada sosial hidup, membaca kebaikan dan keburukan seseorang lewat perilakunya, membaca sejarah dan ilmu hukum, dan lain sebagainya.
Sebagaimana dalam sebuah kutipan dari buku yang saya baca:
“Ketika akal mampu membuktikan sesuatu, kemudian datang intuisi menunjang pencapaian akliah itu menuju satu kedalaman yang melebihi pencapaian akal.”__Zaki Najib Mahmud.
Membaca itu penting dengan membaca jendela ilmu itu akan terbuka dan pintu pengetahuan akan terbuka lebar juga mengetahui isinya lewat akal yang sempurna. Dan bisa menjadi cerdas, bijak, attitude (berakhlak) dalam bertindak dan memiliki ilmu (knowledge and explanation).
Setelah kita membaca seluruh isinya atau apa yang ada di kepala kita, supaya tak hilang ilmu itu, kita ikat lewat tulisan, dan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Atau dengan cara menulis ilmu yang kita dapat (mencatat).
Sekelumit cerita:
Kadang saya juga sering diremehkan jadi seorang penulis, tapi itu bisa jadi motivasi bagi saya, karena menjadi penulis itu juga butuh proses yang panjang agar bisa mencapai suatu tujuan.
Akan tetapi, saya harus kuat mental juga ketika dikritik dan dihina, karena menjadi seorang penulis yang sukses itu adalah tahan kritikan dan penuh kesabaran dan penuh ujian. Menjadi penulis itu enggak mudah, tapi tetap saja harus dijalani dengan lapang dada. Supaya berkah dan bermanfaat bagi orang banyak. Siapa tahu bisa menjadi amal jariyah kita kelak di akhirat nanti. Aamiin.
Menulis juga mengolah batin dan kepuasan batin itu sendiri.
Penulis sejati tak kenal lelah dalam menulis sebelum ia menemukan kepuasan batinnya.
Menulis bukan hanya menggunakan pikiran saja, tapi juga perasaan dan juga waktu yang lama. Supaya memiliki kualitas yang luar biasa (bobot).
Sebuah Kutipan atau Curhatan Saya:
1). “Kadang wong ngger sering maca buku kue bisa dadekna wong sabar atawa ngelatih kesabaran eben aja dugalan. Makane aku sering maca buku, eben aja dugal lan sedih, karena fokus ke bacaan.”
2). “Seseorang yang berintelektual tinggi, itu kebanyakan suka membaca buku, karena dengan membaca buku akan menambah daya pikiran yang cerdas dan wawasan yang luas. Karena membaca buku adalah sumbernya ilmu dan informasi.”
3). “Membaca bisa menumbuhkan menjadi orang yang jenius dalam berfikir dan kreatif.”
4). “Kenapa aku lebih suka duduk di rumah sambil membaca buku ketimbang keluar rumah, karena lebih aman daripada salah pergaulan.”
~ Kang Thohir ~
_____*_____
Belajar menulis itu soal kemampuan dan juga kekurangan, maka jangan egois bila masih ada kekurangan dalam belajar. Saya pun masih belajar, makanya saya tahu betul kekurangan saya apa, saya pun masih belajar dan terus belajar. Akan tetapi, jangan merasa bangga kalau punya karya dan bisa menerbitkan buku sudah merasa hebat dan ahli saja, dan ketika dikritik malah marah dan egois. Hem!
Justru dengan adanya kritikan itu akan menambah kualitas karya kita ke depannya, jangan marah kepada pengkritik jika ia ingin mengingatkanmu kawan, atau memberi krisar (kritik saran) yang baik. Karena pada hakikatnya kita sama-sama belajar dan tak luput dari kesalahan dan kekurangan.
Tetap semangat membaca dan berkarya, Kawan. Semangat! (*)












