Artikel · Potret Online

Tidak Cukup Hanya Pelatihan: Guru Hebat Tumbuh Bersama, Bukan Sendirian

Penulis Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Juni 19, 2026
5 menit baca 6
a7272de4-877e-48ef-a65a-7874fcd2982b
Foto / IlustrasiTidak Cukup Hanya Pelatihan: Guru Hebat Tumbuh Bersama, Bukan Sendirian
Disunting Oleh

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Suatu hari saya merenung setelah mengikuti berbagai kegiatan pelatihan guru yang begitu padat. Ada pelatihan tatap muka, webinar, lokakarya, kursus daring, hingga pelatihan mandiri yang bisa diakses kapan saja melalui internet. Materinya sangat beragam, mulai dari literasi, numerasi, pembelajaran mendalam, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), koding, pendidikan anti korupsi, hingga kepemimpinan digital. 

Semua itu menunjukkan bahwa dunia pendidikan terus bergerak dan guru dituntut untuk terus belajar agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman.

Sebagai guru yang sudah lebih dari tiga puluh tahun mengajar, saya merasakan betul bahwa menjadi guru bukanlah profesi yang bisa dijalani dengan bekal ilmu yang sama sepanjang hayat. Setiap generasi murid memiliki karakter yang berbeda. Teknologi yang mereka gunakan berubah sangat cepat. Cara mereka belajar juga terus berkembang. Karena itulah guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Saya teringat sebuah perumpamaan yang sangat indah. Guru ibarat sebuah wadah yang harus terus diisi air baru. Jika tidak diisi, wadah itu akan kosong. Jika dibiarkan terlalu lama, air di dalamnya akan menjadi keruh. Namun ketika terus diisi dengan pengetahuan baru, pengalaman baru, dan wawasan baru, maka air di dalamnya akan tetap segar dan mampu memberikan kehidupan bagi siapa pun yang meminumnya.

Selama ini pemerintah telah berupaya menyediakan berbagai program Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan (PKB). Program tersebut menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas guru di seluruh Indonesia. Tantangannya tentu tidak ringan. Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas. Guru tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Tidak mudah menghadirkan pelatihan tatap muka yang menjangkau semua guru secara merata.

Karena itulah pelatihan daring menjadi solusi yang sangat membantu. Banyak guru mengikuti pelatihan secara mandiri melalui berbagai platform digital. Mereka belajar pada malam hari setelah mengajar. Mereka menyisihkan waktu di sela-sela kesibukan keluarga. Bahkan ada yang rela menghabiskan kuota internet pribadinya demi menambah ilmu dan keterampilan baru.

Saya selalu kagum kepada guru-guru seperti itu. Mereka tidak menunggu diperintah. Mereka tidak menunggu undangan resmi. Mereka belajar karena sadar bahwa tugas mendidik anak bangsa adalah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Guru seperti inilah yang sesungguhnya memiliki jiwa pendidik sejati.

Namun setelah sekian lama mengikuti dan mengamati berbagai program pelatihan, saya sampai pada sebuah kesimpulan penting. Pelatihan saja ternyata tidak cukup untuk melahirkan guru profesional yang berdampak luas.

Mengapa demikian?

Karena ilmu yang diperoleh dalam pelatihan sering kali berhenti pada sertifikat jika tidak dipraktikkan, didiskusikan, dan dievaluasi bersama. Banyak guru yang pulang dari pelatihan dengan semangat membara. Mereka membawa modul, catatan, dan berbagai ide baru. Namun beberapa minggu kemudian semangat itu perlahan memudar karena tidak ada teman berdiskusi dan tidak ada pendamping yang membantu menerapkannya di kelas.

Di sinilah pentingnya komunitas belajar.

Saya merasakan manfaat luar biasa ketika bergabung dan mengembangkan berbagai komunitas guru. Dalam komunitas, para guru saling menguatkan. Mereka berbagi pengalaman mengajar. Mereka saling memberi solusi ketika menghadapi kesulitan. Mereka belajar dari keberhasilan maupun kegagalan rekan-rekannya.

Komunitas belajar membuat guru tidak merasa berjalan sendirian.

Melalui komunitas pula lahir berbagai inovasi pendidikan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Banyak guru yang awalnya tidak percaya diri akhirnya mampu menjadi narasumber nasional karena didukung oleh teman-temannya. Banyak guru yang awalnya tidak pernah menulis akhirnya mampu menerbitkan buku karena mendapatkan motivasi dari komunitas literasi.

Saya sendiri menjadi saksi bagaimana kekuatan komunitas mampu mengubah kehidupan seseorang. Ketika para guru saling berbagi ilmu dan pengalaman, maka proses belajar menjadi lebih hidup dan bermakna. Tidak ada yang merasa paling hebat. Semua belajar bersama untuk tujuan yang sama, yaitu memberikan pendidikan terbaik bagi peserta didik.

Selain komunitas belajar, ada satu hal yang sering terlupakan tetapi sangat penting, yaitu pendampingan mengajar atau supervisi akademik.

Banyak guru muda yang sebenarnya memiliki semangat tinggi, tetapi masih membutuhkan bimbingan. Mereka memerlukan masukan tentang cara mengelola kelas, menyusun pembelajaran yang menarik, memanfaatkan teknologi secara efektif, hingga membangun komunikasi yang baik dengan siswa.

Di sinilah peran guru senior dan kepala sekolah menjadi sangat penting. Supervisi akademik bukanlah kegiatan mencari kesalahan guru. Supervisi adalah proses menemani guru agar terus berkembang. Ketika dilakukan dengan pendekatan yang manusiawi dan berkelanjutan, supervisi mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan.

Saya pernah belajar banyak dari guru-guru senior yang dengan sabar memberikan masukan. Kadang masukan itu terasa berat diterima. Namun setelah direnungkan, justru dari sanalah saya tumbuh menjadi guru yang lebih baik. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan seorang guru tidak pernah lahir dari kesempurnaan, melainkan dari kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Oleh karena itu, guru profesional sesungguhnya lahir dari perpaduan tiga kekuatan besar. Pertama, pelatihan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan baru. Kedua, komunitas belajar yang menumbuhkan kolaborasi dan semangat berbagi. Ketiga, pendampingan mengajar yang membantu guru menerapkan ilmunya secara nyata di kelas.

Ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ibarat sebuah hidangan yang menyehatkan, pelatihan adalah nasi, komunitas belajar adalah lauknya, dan supervisi akademik adalah sayurnya. Semuanya saling melengkapi agar menghasilkan nutrisi yang sempurna bagi pertumbuhan profesional guru.

Memang ada guru-guru hebat yang berhasil berkembang secara mandiri. Mereka belajar sendiri, mencari sumber ilmu sendiri, dan mencapai keberhasilan melalui perjuangan pribadi yang luar biasa. Saya sangat menghormati mereka. Namun pendidikan tidak boleh hanya melahirkan individu-individu hebat. Pendidikan harus melahirkan ekosistem yang hebat.

Bangsa ini membutuhkan guru yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu mengangkat dan menginspirasi guru-guru lainnya. Kita membutuhkan guru yang rela berbagi, rela mendampingi, dan rela berjalan bersama. Sebab kemajuan pendidikan tidak dibangun oleh satu orang guru yang berlari sangat cepat, melainkan oleh ribuan guru yang berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Sebagai penutup, saya ingin meninggalkan sebuah pesan yang selalu saya pegang selama menjadi guru.

Jangan pernah lelah belajar, tetapi jangan pula belajar sendirian. Ilmu yang kita miliki akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan kepada orang lain. Guru terbaik bukanlah guru yang paling banyak ilmunya, melainkan guru yang mampu menyalakan semangat belajar di hati guru lainnya. Ketika satu guru menginspirasi banyak guru, maka sesungguhnya ia sedang mengubah masa depan ribuan anak Indonesia.

Salam literasi.

Blog https://wijayalabs.com

Omjay

Guru Blogger Indonesia

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...