Artikel · Potret Online

Boh Bi Yang Semakin Langka

Penulis  Ir Azhar
Juni 18, 2026
6 menit baca 19
Disunting Oleh

Oleh Ir. Azhar, M.T.

Dosen Pada Fakultas Teknik Universitas Lampung

IMG_1662

Apa itu Boh Bi? Singkat kata Boh Bi ini adalah buah yang di dalamnya ada biji. Bijinya ini diselimuti oleh cairan pekat kental berwarna bening. Cairan kental ini bersifat seperti lem atau perekat. Daya rekatnya cukup kuat sehingga biasa dipakai untuk merekatkan kertas layang-layang pada tulang layang-layang (arku) yang dibuat dari bambu. Begitulah kami dulunya di kampung menggunakan getah Boh Bi ini sebagai pengganti lem dari tepung kanji, getah pelepah rumbia atau lem komersial lainnya. 

Ingatan saya terhadap Boh Bi yang ada lem-nya ini adalah ketika menulis artikel berjudul “Ide Kreatif: Membuat Kaca Pembesar dari Botol Plastik Bekas Sebagai Sumber Belajar” yang dimuat dalam majalah “POTRET” ini. 

Dengan minimnya sisa-sisa ingatan tentang Boh Bi ini, saya coba hubungi beberapa teman di Aceh, untuk memperoleh gambaran lebih terinci tentang Boh Bi ini. Hasilnya? 

Di luar dugaan. Tidak tahu! Yang ada justru mengira “Boh Bi” yang saya maksudkan adalah Buah Ubi atau singkong. Lalu saya cari di google dengan memasukkan entry “Boh Bi” dan ternyata yang muncul adalah singkong. Tidak sesuai harapan tentunya. Lalu saya ubah entry menjadi “buah yang di dalamnya ada cairan seperti lem”. Hasilnya? 

“Buah Bila” salah satunya. Lalu saya masuk ke mode gambar “image” maka muncullah salah satu gambar yang sesuai dengan ingatan saya, seperti di bawah ini.

IMG_1661

Berdasarkan potongan melintang (potongan yang memotong garis sumbu buah) tampaklah biji buahnya yang diselimuti oleh cairan kental. Buah ini sangat sesuai dengan ingatan saya. Isi dalamnya berwarna kuning dan kulit buah ini cukup keras. Dulu kami membelahnya menggunakan parang untuk mengambil lem-nya itu.

Masih mengandalkan ingatan, pohon Boh Bi ini tumbuh di luar perkampungan, biasanya di kaki bukit. Kami mencari Boh Bi yang jatuh dari pohonnya. Jika tidak ada yang jatuh,  maka kami menggunakan galah (ranong) untuk menjatuhkannya. 

Kenapa menggunakan ranong? Karena pada pohonnya ada duri-duri yang keras. Begitu juga pada dahan-dahannya, ada duri yang cukup runcing. Artinya pohon Boh Bi ini tidak bisa dipanjat. Dengan modal ingatan itu, penelusuran di jagat maya saya lanjutkan, baik di google maupun di youtube. Walhasil muncullah sejumlah informasi yang sesuai dengan ingatan saya tadi. 

Masalahnya kemudian ternyata ada beberapa nama buah lain yang diklaim sebagai Boh Bi. Nama yang sering muncul misalnya Buah Maja dan Buah Berenuk; selain Buah Bila. 

Karena nama Boh Bi mirip dengan nama Buah Bila, maka penelusuran saya fokuskan pada entry “Buah Bila”. 

Boh Bi ini kalau di Kabupaten Goa disebut “Buah Bila-Bila”, dan benar saja pohon dan dahannya berduri, agak panjang dan cukup runcing. Sama dengan yang ada dalam ingatan saya.Ternyata kalau di Jawa Boh Bi ini disebut “Buah Maja” berdasarkan ciri-ciri yang dituliskan.

Buah maja dengan nama ilmiahnya Aegle marmelos, berasal dari India dan Bangladesh dan telah dinaturalisasi di sebagian besar Asia Tenggara. Dengan menggunakan nama ilmiah itu, saya masuk ke wikipedia (bahasa Aceh), dan hasilnya adalah “Bak Bi”. 

Nah, kalau di Bali dan Lombok dikenal sebagai bila dan di India dikenal sebagai bael. Buah ini memiliki berbagai nama umum, seperti apel emas, apel gajah, dan apel batu. Ini adalah modal untuk penelusuran lebih lanjut. 

Ciri-ciri Bak Bi

Kulit batang

Kulit batang berwarna cokelat muda hingga keabu-abuan, halus atau sedikit beralur, serta mudah mengelupas. Pohon ini memiliki duri lurus sepanjang 1,2–2,5 cm. Saat terluka, batang mengeluarkan getah bening dan kental yang awalnya terasa manis, tetapi kemudian dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan.

Daun

Daunnya majemuk trifoliat (tiga anak daun) dan tersusun berseling. Anak daun berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing, berukuran 5–14 cm panjang dan 2–6 cm lebar. Daun muda berwarna hijau muda hingga kemerahan dan berbulu halus, sedangkan daun dewasa berwarna hijau tua serta licin.

Bunga

Bunganya kecil (1,5–2 cm), berwarna hijau pucat hingga kekuningan, harum, dan tumbuh bergerombol di ujung ranting atau ketiak daun. Bunga biasanya muncul bersama daun muda serta memiliki 4–5 mahkota dan banyak benang sari. Putiknya memiliki tangkai yang pendek, sedangkan bakal buahnya berwarna hijau cerah dengan cakram bunga yang tidak mencolok.

Buah

Boh Bi (Buah Aegle marmelos) berbentuk bulat hingga agak menyerupai pir, dengan diameter umumnya 5–10 cm. Kulit buah sangat tebal, keras, dan berkayu, berwarna hijau hingga keabu-abuan saat muda, kemudian berubah menjadi kuning ketika matang. 

Cangkangnya yang kuat tidak pecah secara alami sehingga buah matang biasanya harus dipecahkan menggunakan palu atau parang.

Bagian dalam buah terdiri atas beberapa ruang yang berisi daging buah berwarna jingga kekuningan, berserat, dan beraroma harum khas. Di dalamnya terdapat banyak biji pipih berbulu yang terbungkus lendir bening dan lengket, yang akan mengeras ketika mengering. 

Buah memerlukan waktu sekitar 11 bulan untuk mencapai kematangan di pohon.

Daging buahnya memiliki rasa manis, harum, sedikit asam, dan agak sepat. Cita rasanya sering digambarkan menyerupai campuran selai jeruk (marmalade) dan asam jawa, dengan aroma yang mengingatkan pada bunga mawar. 

Karena kandungan vitamin C yang tinggi dan aromanya yang khas, Boh Bi banyak dimanfaatkan sebagai bahan minuman, sirup, dan berbagai olahan pangan tradisional.

Kandungan Kimia

Pohon Aegle marmelos mengandung berbagai senyawa bioaktif, antara lain xanthotoxol dan alloimperatorin (furokumarin), rutin dan marmesin (flavonoid), berbagai minyak atsiri, serta alkaloid seperti allocryptopine, O-isopentenylhalfordinol, dan O-methylhalfordinol. 

Daunnya juga mengandung aegeline, sedangkan aeglemarmelosine ditemukan dalam bentuk minyak kental berwarna jingga. Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki potensi aktivitas antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi, sehingga banyak diteliti untuk pengobatan tradisional dan pengembangan obat. Namun, aegeline dalam bentuk suplemen konsentrat pernah dikaitkan dengan kasus kerusakan hati pada manusia.

Habitus dan Habitat

Bak Bi ini umumnya tumbuh di hutan terbuka yang kering, baik di daerah perbukitan maupun dataran rendah, pada ketinggian 0–1.200 meter di atas permukaan laut. Bak Bi dikenal sebagai tanaman yang mampu tumbuh di tempat-tempat yang kurang cocok bagi banyak jenis pohon lainnya. Tanaman ini memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan.

Meskipun demikian, untuk menghasilkan buah dengan baik, Bak Bi memerlukan periode musim kemarau yang cukup jelas dan berlangsung secara teratur.

Kegunaan Kuliner Boh Bi

Boh Bi kaya vitamin C dan dapat dimakan segar atau diolah menjadi permen, bubuk, nektar, dan minuman. Sari buahnya sering dibuat menjadi minuman penyegar mirip limun, dikenal sebagai sharbat atau bela pana di Asia Selatan.

Selain memiliki rasa yang khas dan aroma yang harum, olahan Boh Bi juga populer sebagai minuman penyegar, terutama pada musim panas karena memberikan sensasi segar dan membantu menghidrasi tubuh.

Sekarang Boh Bi atau tepatnya Bak Bi ini sudah sangat langka, bukan hanya di Aceh tetapi juga di Indonesia secara umum. Oleh karena itu, dalam kerangka menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati, keberadaan spesies ini perlu mendapat perhatian melalui upaya pendataan, perlindungan habitat, perbanyakan tanaman, serta penanaman kembali sehingga populasinya dapat dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga dapat dimanfaatkan secara bijaksana dan tidak hilang dari alam maupun dari khazanah budaya masyarakat Aceh.

—-*

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...