Artikel · Potret Online

Terbang Ke Montreal, Singgah Sejenak di Bandara Tersibuk di Dunia

Penulis  Tabrani Yunis
Juni 1, 2026
7 menit baca 59
IMG_1137
Foto / IlustrasiTerbang Ke Montreal, Singgah Sejenak di Bandara Tersibuk di Dunia

Oleh Tabrani Yunis

Dalam penerbangan dari Jakarta ke Montreal, Canada ada dua kesempatan emas yang tak pernah terbayangkan dapat dirasa.  Kedua kesempatan emas itu adalah rahmat Allah yang datang dengan tidak terduga-duga. Ya, seperti halnya konsep rezeki yang datang dari Allah dari sudut -sudut atau sisi yang tak terduga. Begitulah rahmat Allah yang penulis nikmati kala suatu saat  mendapat kesempatan belajar selama 3 minggu di Abbot Academy di Montreal, Canada.

Kala itu mendapat kesempatan belajar, mengikuti The 34th International Human Rights Training Program ( IHRTP)  berlangsung di  Ste-Anne-de-Bellevue, Québec, Canada. Di sebuah academy yang cukup terkenal, kampus Abbott Academy di Montreal, Canada.

Selama 3 minggu lamanya, mulai dari 8 Juni sampai dengan 23 Juni 2013 menginjakkan kaki di bumi Canada untuk belajar tentang hak asasi manusia( HAM). Sungguh sebuah kesempatan emas yang tak pernah terbayangkan. Apalagi semua biaya ditanggung lewat pembiayaan beasiswa. 

Hal yang tidak pernah direncanakan dan bahkan tak pernah terbayangkan adalah perjalanan tak terduga ke dua negara besar lainnya, saat menuju Montreal, yakni singgah dan menginjakkan kaki di Doha dan  di London, Inggris. Walau hanya transit di Bandara kedua negara itu. Sungguh menjadi pengalaman dan catatan perjalanan mengelilingi sejumlah negara di dunia.

Walau sudah tiga belas tahun berlalu, masih segar dalam ingatan bagaimana perjalanan itu dilakukan. Penulis masih terbayang dan ingat pagi itu, 1 Juni 2012, di gate 9 bandara Doha, melanjutkan penerbangan ke Montreal. 

Kala itu, penulis mengira penerbangan itu langsung dari Doha ke Montreal, ternyata di ticket dicantumkan bahwa penerbangan akan melakukan transit lagi di London, Inggris.

Sehingga pada pagi itu, 1 Juni 2012 penulis kembali mendapat kesempatan untuk melihat, menginjakkan kaki di negerinya pangeran Charles. Negeri yang selama sekian tahun tersebut dalam setiap kali belajar berbahasa asing. Ya, bahasa Inggris, terbayang andai suatu saat bisa ke Inggris . 

Penerbangan ke London dijadwalkan pada  pukul 5.55 pagi. Artinya masih bisa dan sempat melaksanakan salat subuh. Kami  pun kala itu bergegas masuk ke ruang tunggu di lantai bawah yang terasa sempit. Tidak banyak kursi atau tempat duduk yang tersedia. Kami harus menunggu datangnya bus yang mengantarkan kami ke pesawat. 

Ya, saat menunggu datagnya bus, sejumlah penumpang terpaksa berdiri atau bersender di dinding, atau jongkok sambil menanti bus yang akan mengantarkan kami ke pesawat. Dalam hitungan menit bus datang dan kami menaiki bus dengan menempati kursi bus yang tersedia menuju pesawat yang diparkir di lapangan udara Doha itu. 

Walau sebelumnya penulis sudah pernah ke Swiss atau Switzerland selama 3 minggu di tahun 2005, ke Helsinki, Finlandia pada Maret 2007 dan juga ke Miami (USA) pada bulan Juni 2007 dan beberapa negara lain, kebiasaan mengamati setiap gerak perjalanan tetap terjadi.

Saat akan take off dari bandara Doha, terlihat sejumlah pesawat Qatar air, sejumlah helicopter yang sedang parkir di beberapa lokasi, sementara beberapa kenderaaan bandara seperti bus dan mobil bergerak melau destinasinya.

Bayangkan saja, sejak pesawat akan take off, mata terus menoleh ke kiri dan kanan bandara, dengan penuh rasa ingin tahu. Mengamati dan menikmati suasana bandara yang sangat modern itu. Sepanjang perjalanan dari Doha ke London, dari pesawat Qatar Air, penulis yang diduk di kursi 27A, tepatnya di jendela sebelah kiri, menikmati view negeri padang pasir itu dari jendela kecil di sebelah kiri. 

Subhanallah, betapa kebesaran Allah yang menciptakan bumi ini dengan berbagai keindahan dan berbeda jauh dengan apa yang aku alihat di negeri kelahiranku, indonesia. Kota Doha terlihat dari udara dengan warna yang sama yakni abu-abu dan kecoklatan, karena tidak ada hutan yang menghijaukan negeri itu. Sekilas terlihat tertata bagus dan indah. Apalagi bangunan yang berada di pinggir laut, terlihat sangat megah. 

Ketika melewati udara Irak, tampak sungai Trigis dan padang pasir yang begitu luas.  Penulis tersadar rupanya penulis sudah sampai ke Makkah, walau di angkasa. Perjalanan ini juga membawa penulis bisa menyaksikan Irak dengan ibu kotanya Bagdad itu.  Pesawat melewati udara Kirkuk, Bagdad, Mosul, dengan menelusuri sungai Trigis yang cukup panjang itu.

Pokoknya kala itu, sebentar-bentar mata menoleh ke bawah. Menyaksikan hamparan gunung dan daratan yang gersang. Hanya sedikit daerah yang tampak hijau. Ada danau danau yang menjadi tempat penyimpanan air tampak di beberapa tempat.

Jadi wajarlah bila kala itu terbayang dan hati berkata, ya Allah aku telah melihat Timur Tengah dari udara, kapankah aku bisa menginjakkan kaki di Makkah untuk menunaikan ibadah haji”.  Kala itu aku sempat berdoa semoga kelak bisa berhaji di tanah suci.

Setelah lebih kurang tujuh jam dua puluh menit di pesawat, alhamdulillah  ternyata pagi itu,  penulis bukan lagi  hanya bisa menggunakan bahasa Inggris , tetapi lebih luar biasa adalah pada pagi itu penulis bisa turun menginjakkan kaki di bumi Inggris. Sungguh kesempatan yang di luar dugaan dan tak pernah terbayangkan. Walau keinginan bisa sampai ke Inggris pernah ditancapkan ketikan mulai belajar bahasa Inggris kala masih di bangku SMP di Manggeng.


Mendarat di heatrow, London

Pagi itu, dengan perasaan campur aduk, bahagia dan senang karena pada hari itu, tanpa disengaja, hanya karena transit, penulis bisa menapakkan kaki di Negeri pemilik bahasa Internasional, bahasa Inggris yang telah penulis gunakan sejak masih di SMP hingga hari ini, karena setiap hari berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan ke tiga anak di rumah. Dengan modal kemampuan berbahasa Inggris dan latar belakang sebagai pekerja sosial di dunia LSM penulis telah diberikan kesempatan mendarat di bumi Inggris.


Terbukti, pesawat yang  mengantarkan penulis dari Jakarta ke Montreal, Canada, dapat singgah di Doha dan dilanjutkan ke London. Alhamdulillah pesawat mendarat dengan mulus di negeri Margaret Thatcher itu pada pukul 12.00 siang. Bandara Internasional yang diberi nama Heathrow, itulah bandaranya London terlihat sangat sibuk.  Bandara ini dikenal sebagai bandara yang bagus dan sibuk.

Ya, bandara Heathrow. Ternyata  bandara Heathrow (London Heathrow Airport) adalah bandara internasional terbesar di Inggris dan salah satu tersibuk di dunia. Bayangkan saja, bandara ini melayani lebih dari 80 juta penumpang per tahun.  Dahsyat sekali bukan? 

Tentu sangat dahsyat, apalagi bandara ini memiliki 4 terminal aktif (2, 3, 4, dan 5) dan menjadi hub utama bagi British Airways serta maskapai besar lain seperti Virgin Atlantic dan lainnya. 

Alhamdulilah di Heathrow international airport yang katanya memiliki latar belakang  sejarah  yang dikenal sebagai Great Western aerodrome pada tahun 1930 an ini yang kemudian secara resmi  dibuka untuk penerbangan sipil  pada 31 Mai 1946. Sudah cukup lama, tak ubahnya sama dengan usia kemerdekaan Indonesia. Bayangkan, sejak itu bandara ini berkembang pesat menjadi bandara utama London, menggantikan menggantikan Croydon.

Meninggalkan London, dengan melewati underground channel menuju ke pesawat yang melanjutkan perjalanan ke Montreal dengan pesawat Canada Air dengan nomor penerbangan 865 Q pada pukul 15.30 waktu London dengan jarak tempuh selama 7.20 menit.

Jadi, perjalanan terbang ke Montreal yang penulis dapatkan telah memberikan kenikmatan ekstra, karena bukan saja bisa menginjakkan kaki di bumi Timur Tengah, yakni Doha, tetapi juga bisa menginjakkan kaki dan menikmati bandara tersibuk di Inggris dan tersibuk di dunia serta menikmati kegemilangan bandara Heathrow, London hanya dalam satu kali perjalanan ke Montreal.

Ini jelas sebagai sebuah pengalaman perjalanan yang memberikan keuntungan ganda, yang sangat berharga dan tak terduga-duga yang diberikan Allah kepada penulis. Pengalaman ini bukan hanya diperoleh ketika berangkat dari bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh, bandara Internasional Soekarno Hatta di Jakarta, Doha, London hingga tiba di Montreal saja, tetapi pengalaman yang sama juga kembali dapat dinikmati saat kembali pulang setelah program pelatihan selesai. Apalagi saat pulang, waktu singgah atau transit di Heathrow cukup lama waktu diberikan.

Pada tanggal 23 Juni 2012 International Human Rights Training Program telah usai, semua peserta kembali pulang ke negara masing-masing. Begitu juga halnya penulis yang mendapat ticket pulang dengan menumpang pesawat Canada air dari Montreal airport ke Heathrow, London dan kemudian dari London ke Doha dan ke Jakarta kembali menggunakan Qatar air.

Alhamdulillah perjalanan terbang ke Montreal ini menjadi pengalaman yang sangat bernilai dan menguntungkan penulis, karena mendapat banyak kesempatan emas yang menambah panjang daftar negara yang pernah penulis singgahi dalam hidup ini. Subhanallah, Alhamdulillah, wala ilahailallah. Allahu Akbar.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...