Artikel · Potret Online

Penutupan Kuliah Jurusan Seni di China: Mengapa Banyak Orang Salah Paham?

Penulis  Redaksi
Mei 25, 2026
4 menit baca 2

Oleh: Fileski Walidha Tanjung

Beberapa hari terakhir, grup-grup percakapan dipenuhi kegelisahan yang nyaris seragam: China menutup ratusan program studi; jurusan seni dipangkas; animasi, musikologi, hingga seni pertunjukan ikut dihentikan. Kesimpulan yang lahir begitu cepat pun bermunculan: seni sedang kalah, kampus tak lagi membutuhkan seniman, dan masa depan hanya milik teknologi.

Saya membaca kepanikan itu dengan rasa yang campur aduk. Sebagai guru seni, saya justru melihat ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar berita penutupan jurusan. Mungkin yang sedang mati bukan seni, melainkan cara lama kita memahami pendidikan.

Kita hidup pada zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia merenungkannya. Angka sering menang atas konteks. Seratus jurusan ditutup terdengar lebih dramatis dibanding satu pertanyaan sederhana: mengapa jurusan itu ditutup?

Di sinilah sering lahir kekeliruan berpikir. Sebab sejarah menunjukkan, dunia pendidikan tidak pernah benar-benar menghapus bidang ilmu; ia hanya mengubah bentuk dan cara bertahannya.

Ternyata, yang dilakukan China bukanlah pemakaman massal bagi seni. Yang terjadi justru restrukturisasi besar-besaran. Program-program yang dianggap mengalami kelebihan lulusan, kualitas rendah, atau tak lagi sesuai kebutuhan industri dipangkas untuk membuka ruang bagi bentuk kompetensi baru. Dengan kata lain, yang dipersoalkan bukan seni itu sendiri, melainkan keterputusan antara ruang kelas dan perubahan dunia.

Ada kecenderungan lama dalam pendidikan kita: kampus dibayangkan sebagai museum pengetahuan. Ia mengawetkan kurikulum, menjaga tradisi, lalu berharap dunia menyesuaikan diri. Padahal dunia bekerja sebaliknya. Ia bergerak seperti sungai. Yang tak berubah akan tertinggal di tepian.

Di sinilah saya teringat kalimat sastrawan Jorge Luis Borges: “Aku selalu membayangkan surga sebagai semacam perpustakaan.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia, kalimat itu mengandung gagasan penting: pengetahuan bukan ruang tertutup, melainkan ruang tak terbatas bagi kemungkinan. Namun hari ini, kita diam-diam mempersempit perpustakaan itu menjadi lorong-lorong jurusan yang kaku: seni di sana, teknologi di sini, sains di tempat lain. Padahal masa depan tampaknya justru lahir dari pertemuan antar ruang yang selama ini dipisahkan.

Sebagai guru seni, saya sering merasa ada kesalahpahaman besar tentang seni. Banyak orang menganggap seni hanya pelajaran menggambar, menyanyi, menari, atau bermain alat musik. Padahal seni sesungguhnya adalah cara manusia memahami ketidakpastian. Seni melatih imajinasi, empati, intuisi, dan kemampuan melihat sesuatu yang tak terlihat. Mesin dapat mengolah data; tetapi belum tentu memahami rasa empati. Algoritma dapat meniru pola; tetapi belum tentu memahami makna.

Di tengah ledakan kecerdasan buatan, justru kemampuan-kemampuan manusiawi seperti itu menjadi semakin penting. Dunia mungkin tidak lagi membutuhkan lulusan seni yang sekadar hafal teori estetika abad lampau, tetapi dunia akan selalu membutuhkan manusia yang mampu menciptakan makna di tengah banjir informasi.

Barangkali inilah sebabnya mengapa industri kreatif modern justru berkembang melalui persilangan. Seni hari ini tidak berdiri sendiri. Ia berjumpa dengan kecerdasan buatan, desain digital, teknologi visual, permainan video, realitas virtual, dan media interaktif. Seorang seniman masa depan mungkin tidak hanya melukis; ia merancang pengalaman digital. Ia bukan hanya memainkan musik; ia menciptakan lanskap bunyi bagi dunia virtual.

Filsuf Virginia Woolf pernah menulis, “Mata orang lain adalah penjara kita; pikiran mereka adalah sangkar kita.” Saya membacanya sebagai peringatan agar kita tidak terlalu mudah melihat dunia melalui ketakutan kolektif. Sebab sering kali yang membuat kita cemas bukan perubahan itu sendiri, melainkan cara lama berpikir yang enggan berubah.

Yang patut dicemaskan bukanlah ditutupnya jurusan seni di sejumlah kampus. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika sekolah dan universitas masih mengajarkan seni seolah dunia belum berubah. Masalahnya bukan pada piano, kanvas, atau panggung pertunjukan. Masalahnya ada pada kurikulum yang masih mempersiapkan manusia untuk masa lalu.

Mungkin kita memang sedang memasuki zaman ketika batas-batas disiplin ilmu runtuh. Seorang guru seni harus memahami teknologi. Seorang programmer harus memahami estetika. Seorang ilmuwan perlu belajar imajinasi. Masa depan tampaknya tidak lagi bertanya, “Apa jurusanmu?” Melainkan: “Apa yang dapat kau hubungkan dari berbagai dunia yang tampak berjauhan?”

Lalu saya membayangkan ruang kelas masa depan: murid menggambar sambil belajar kecerdasan buatan; belajar musik sambil memahami algoritma; mempelajari teater sambil membangun realitas virtual. Di sana seni tidak mati. Ia hanya berganti pakaian.

Maka pertanyaan terpentingnya bukan apakah teknologi akan menggantikan seni, atau apakah AI akan mengalahkan manusia. Pertanyaan yang lebih mendasar justru ini: ketika mesin semakin mampu berpikir seperti manusia, apakah manusia masih mau belajar menjadi manusia seutuhnya. (*) 

Fileski Walidha Tanjung adalah seorang penulis dan guru seni budaya di SMAN 2 Madiun. Aktif menulis esai, puisi, dan prosa di berbagai media nasional.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...