Senin, April 20, 2026

Pahlawan Nasional Teungku Chik Di Tiro Muhammad Samandan Syekh Ahmad Khatib

Pahlawan Nasional Teungku Chik Di Tiro Muhammad Samandan Syekh Ahmad Khatib - fdc0b06d 66a7 42f6 a74b 976a8a189cd7 | #Ulama Kharismatik Aceh | Potret Online
Ilustrasi: Pahlawan Nasional Teungku Chik Di Tiro Muhammad Samandan Syekh Ahmad Khatib

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar,Lc, MA

Ulama nusantara yang bersinar dan memiliki keberuntungan di kota Mekkah adalah Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau. Beliau merupakan guru besar di Masjidil Haram, Mufti resmi dalam Mazhab Imam Syafi’i, memiliki jaringan yang baik dengan pembesar kota Mekkah. Juga  menantu seorang hartawan yang dermawan Syeikh Saleh Kurdi. Bahkan menurut catatan Sejarawan Snouck, Syeikh Ahmad Khatib adalah seorang yang kukuh dalam prinsipnya serta benci kepada kaum penjajah Belanda. 

Bila ada seorang yang paling mempengaruhi pergerakan kemerdekaan, maka Syekh Ahmad Khatib adalah salah satu figur tersebut. Karena hampir seluruh pendiri organisasi keislaman di Indonesia merupakan murid-muridnya. 

Mulai dari Kiyai Ahmad Dahlan pendiri Muhammaddiyah tahun 1912, Hadhratussyaikh Kiyai Hasyim Asy’ari pendiri Nahdhatul Ulama tahun 1926, Syaikh Hasan Maksum pendiri al Washliyah tahun 1930, dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang digagas oleh Syeikh Sulaiman al Rusuli Candung, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Abbas Qadhi Lawas (ayah dari KH Siradjuddin Abbas sang pengarang), dan gerakan kaum muda Padang yang di garda terdepan ada Syekh Abdul Karim Amrullah Inyiak Doktor (Ayah dari Buya Hamka) dan ulama lainnya yang tersebar di Nusantara kala itu adalah murid dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. 

Syekh Ahmad Khatib juga sebagai ulama yang produktif dalam menulis. Beliau meninggalkan hampir 50 karya tulisnya, yang paling dikenal adalah Kitab Nafahat ulasan terhadap kitab al Waraqat dalam Ushul Fikih. 

Jika dirunut pada era kecemerlangan tersebut, maka di Aceh secara khusus dalam keadaan perang besar-besaran untuk mengusir para penjajah Belanda. Diperkirakan tahun 1881-1891 merupakan era yang paling kelam dalam sejarah perang Belanda. Karena di Aceh ketika itu ada Pemimpin yang gagah berani juga beliau seorang ulama besar yaitu Teungku Syeikh Muhammad Saman di Tiro atau yang dikenal dengan nama Teungku Chik di Tiro.

Beliau  juga lulusan dari Kota Mekkah setelah sebelumnya beliau belajar dari banyak para ulama Aceh seperti Teungku Chik Dayah Cut dan ulama lainnya. 

Pada masa Teungku Chik di Tiro ada beberapa figur kharismatik yang ikut andil dalam perjuangan, mereka adalah: Teungku Chik Dayah Cut di Tiro, Teungku Chik Tanoh Abee, Teuku Panglima Polem, Teungku Chik Pantee Kulu, Teungku Chik Pante Geulima, Teungku Haji Muda Krung Kalee (Ayahdari Abu Hasan Krueng Kalee), Teungku Chik Buengcala, Teungku Fakinah, Teungku Muhammad Amin di Tiro, Teuku Umar Johan Pahlawan, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Baren, dan lain-lain. 

Maka tidak mengherankan bila orang sekelas Jenderal Kohler harus terbujur kaku di bumi Aceh, karena menghadapi para pejuang tersebut. Karena semboyan para pejuang ketika menghadapi penjajah Belanda “yang panyang takoeh Lhee, yang paneuk takoeh dua”. 

Saking takutnya para penjajah, mereka hanya bisa bersembunyi di balik benteng-benteng yang mereka bangun berlapis-lapis. 

Kembali ke Syekh Ahmad Khatib, penulis lainnya yang juga karya-karyanya dicetak di Timur Tengah adalah Syeikh Mahfudz bin Abdullah Termas yang merupakan ahli Hadis kebanggaan nusantara. 

Saat penulis berkunjung ke Pustaka Masjidil Haram, penulis melihat langsung karyanya dalam beberapa jilid dan menjadi koleksi Perpustakaan Masjidil Haram. Ulama lainnya yang juga menulis kitab penting adalah Syekh Ihsan Jempes Kediri yang merupakan pengarang Kitab Sirajutthalibin dalam dua jilid tebal ulasan terhadap kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al Ghazali. 

Dan banyak lagi ulama lainnya sampai tahun 1916, ditandai dengan lahirnya Syekh Muhammad Yasin Padang, ulama Indonesia terakhir yang kiprah keulamaannya diperhitungkan di kancah Internasional.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist