HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Memaknai Fitrah sebagai Potensi

Redaksi by Redaksi
Maret 28, 2025
in #Fitrah, Analisis, Artikel, Dinul Islam, Pendidikan
Reading Time: 4 mins read
0
Memaknai Fitrah sebagai Potensi
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hamdan eSA

Di sebuah desa kecil, hidup seorang kakek yang gemar berkebun. Suatu hari, ia memberikan dua bibit pohon kepada dua cucunya, Amir dan Budi. “Ini benih yang sama”, katanya, “tetapi bagaimana ia tumbuh, tergantung bagaimana kalian merawatnya”.

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

Maret 14, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

Maret 14, 2026

Amir menanam benihnya di tanah subur, menyiraminya setiap hari, dan melindunginya dari hama. Sementara itu, Budi asal-asalan; ia meletakkan benihnya di tanah kering dan jarang menyiraminya.

Bulan demi bulan berlalu. Pohon Amir tumbuh rindang, daunnya hijau, dan berbuah lebat. Sebaliknya, benih Budi hanya tumbuh kecil dan layu, nyaris mati. Melihat hal ini, Budi mengeluh, “Kenapa pohonku tidak seperti milik Amir”?

Kakek tersenyum, lalu berkata, “Nak, benih itu seperti fitrah dalam diri manusia. Semua orang dilahirkan dengan potensi yang sama, tetapi hanya mereka yang merawat dan mengembangkannya yang akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bermanfaat”.


Fitrah adalah konsep fundamental dalam memahami hakikat manusia. Secara etimologis, kata fitrah berasal dari akar kata faṭara, yang berarti “membelah”, “menciptakan”, atau “membawa sesuatu kepada bentuk awalnya”. Kata ini memiliki hubungan erat dengan Al-Fāṭir, salah satu nama Allah yang berarti “Sang Pencipta”.

Selain itu, kata iftar dalam bahasa Arab, yang berarti berbuka puasa, juga berasal dari akar yang sama, menunjukkan makna “kembali ke keadaan asal”. Dan dengan begitu, kembali ke fitrah juga bisa berarti “kembali ke bulan biasa yang tidak memiliki kemuliaan seperti Ramadhan dan tidak diwajibkan berpuasa”.

Dengan demikian, secara etimologi, fitrah menggambarkan kondisi alami manusia sejak penciptaannya, keadaan murni yang belum terkontaminasi oleh pengaruh eksternal. Kondisi di mana manusia belum memiliki pahala apalagi dosa.

Dalam berbagai tafsir klasik, fitrah sering dikaitkan dengan kodrat alami manusia yang cenderung kepada kebenaran. Hadis Rasulullah menyebutkan; “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa manusia memiliki kondisi bawaan yang cenderung kepada kebenaran, tetapi perkembangan selanjutnya sangat bergantung pada lingkungan dan pendidikan. Makna fitrah dalam hadis ini juga mengandung dimensi potensi.

Dengan begitu, fitrah bukan hanya keadaan statis, melainkan daya laten yang dapat berkembang atau berubah sesuai dengan pengaruh eksternal. Manusia memiliki kecenderungan alami yang harus digali dan dikembangkan agar mencapai kesempurnaan dirinya.

Secara semantik, fitrah dalam bahasa Arab merujuk pada beberapa makna utama: kesucian bawaan (innate purity), potensi dasar manusia (natural potential), dan kecenderungan menuju kebaikan (predisposition toward good).

Konsep fitrah sebagai potensi dapat dilihat dalam berbagai perspektif. Selain perspektif agama di atas, juga dapat dilihat dari perspektif filsafat dan ilmu pengetahuan.

Dalam psikologi humanistik, teori actualizing tendency yang dikemukakan oleh Carl Rogers dan self-actualization oleh Abraham Maslow menekankan bahwa manusia memiliki dorongan alami untuk berkembang dan mencapai potensi terbaiknya. Dalam psikologi humanistik, realisasi potensi penuh seseorang dapat mencakup: ekspresi kreatif, pencarian pencerahan spiritual, pencarian pengetahuan, serta keinginan untuk berkontribusi pada masyarakat.

Fitrah dalam konteks ini dapat dipahami sebagai kekuatan internal yang mendorong individu untuk tumbuh, beradaptasi, dan mencapai kesempurnaan dirinya. Namun, perkembangan ini sangat bergantung pada lingkungan yang mendukung, seperti kasih sayang, pendidikan, dan kebebasan berekspresi.

Dalam perspektif pendidikan, Ibn Khaldun menyatakan bahwa manusia memiliki potensi intelektual (aql) yang berkembang melalui proses pembelajaran. Sementara itu, Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk menuntun kodrat atau fitrah manusia agar dapat berkembang secara optimal. Hal ini menguatkan gagasan bahwa fitrah bukan sekadar keadaan alami, tetapi sebuah potensi yang menuntut pengembangan.

Fitrah bukan sekadar keadaan bawaan, melainkan sebuah potensi yang harus diaktualisasikan. Seperti benih yang memiliki potensi untuk tumbuh menjadi pohon besar, manusia lahir dengan kecenderungan alami menuju kebaikan dan kebenaran, tetapi membutuhkan lingkungan yang tepat agar potensinya berkembang secara optimal. Pendidikan, pengalaman, dan nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan sosial berperan penting dalam membentuk dan mengarahkan fitrah manusia.

Aktualisasi fitrah dalam Islam, dapat dicapai melalui pembelajaran, amal saleh, dan pengalaman spiritual yang mendalam. Manusia memiliki kebebasan untuk mengembangkan fitrahnya menuju kebaikan. Atau sebaliknya, membiarkannya terpengaruh oleh lingkungan yang negatif. Oleh karena itu, pendidikan agama dan moral menjadi aspek penting dalam membimbing manusia agar tetap berada dalam jalur fitrahnya.

Dalam konteks sosial, peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seseorang. Jika lingkungan mendukung, maka fitrah manusia akan berkembang ke arah yang positif. Sebaliknya, jika lingkungan negatif, fitrah dapat terdistorsi.

Dengan demikian, aktualisasi fitrah bukanlah proses yang terjadi begitu saja, melainkan membutuhkan usaha sadar dan lingkungan yang kondusif agar manusia dapat mencapai kesempurnaan dirinya.

Melalui pendidikan, pengalaman, dan lingkungan yang tepat, manusia dapat mengaktualisasikan fitrahnya menuju kesempurnaan. Oleh karena itu, fitrah menuntut usaha dan bimbingan agar tetap berkembang sesuai dengan nilai kebenaran dan kebaikan.

Fitrah membutuhkan ikhtiar yang mendukungnya agar berkembang dari kecenderungan bawaan menuju kesadaran moral, intelektual, dan spiritual yang sempurna. Sehingga manusia dapat mencapai titik puncak yang disebut insan al-kamil (manusia paripurna).

Wallahu a’lam.

Madatte Polman, 28 Maret 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 103x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post
Pulang untuk Lebaran

Pulang untuk Lebaran

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com