Generasi Rapuh, Generasi Ayam Potong

Oleh Tabrani Yunis
Malam itu, penulis mengajak Syarifuddin Brutu, penulis yang cerpennya sering muncul dan dibaca di Potretonline.com, untuk berbincang-bincang soal dunia menulis, sambil menyeruput secangkir kopi Arabika Gayo, di Gerobak Coffee yang letaknya dekat sekali POTRET Gallery di jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango Raya Banda Aceh, tempat penulis menjajakan berbagai produk kerajinan Jepara, rotan, eceng gondok dan produk lainnya seperrti souvenir pernikahan, mainan edukasi dan alat-alat tulis.
Sambari menikmati pahitnya kopi, perbincangan dimulai dengan membicarakan soal cerpen Syarifuddin Brutu yang satir. Itu lah kebiasaan penulis memberikan apresiasi terhadap tulisan yang ada di Potretonline, membincangkannya langsung dengan penulis tersebut. Kala itu, teman berbincang adalah seorang penulis kritis yang mengekspresikan ide atau pikiran lewat cerpen yang bernas. Usai mengapresiasi tulisan tersebut, perbincangan berlanjut dengan upaya mengajak memotivasi generasi muda, khususnya dari kalangan para siswa dan mahasiswa untuk menggeluti dunia menulis.
Ya, paling kurang, bisa mengajak para mahasiswa dan siswa menuliskan tulisan-tulisan ringan, sesuai denga napa yang mereka suka atau yang menarik bagi mereka. Misalnya kalau banyak yang tertarik mengenai dunia remaja, mereka bisa menulis tentang dunia remaja, atau tentang perkembangan teknologi informasi dan komunikasi masa kini dan mada depan. Juga kalau yang bantak tahu tentang legenda kampung, sejarah atau kisah yang pernah ada di kampung mereka, kearifan lokal atau local wisdom, mereka bisa tulis dengan sederhana dan ringan, sebagai Langkah awal. Namun, kala itu pula Syarifuddin Brutu berkomentar.
Harusnya memang demikian, katanya. Namun, untuk mengajak para siswa atau mahasiswa menulis, kita seringkali dihadapkan dengan berbagai alasan yang bersifat resisten. Mereka menolak, karena berbagai alasan klasik, seperti tidak sempat, atau langsung memberikan penilaian bahwa menulis itu sulit dan membutuhkan waktu dan tempat khusus untuk menulis. “ Anak-anak sekarang tidak mau repot-repot, mereka lebih suka yang serba instant dan ada duitnya”, lanjut Syarifuddin.
Tentu tidak salah apa yang dijelaskan Syarifuddin. Selama ini masyarakat kita sudah klaim bahwa generasi masa kini adalah generasi instant, terutama generasi Z atau Genzi dan generasi alfa (gen Alpha). Akhirnya pembicaraan pun bermuara pada persoalan generasi masa kini, Genzi maupun generasi alfa (gen Alpha), dua generasi yang lahir dan tumbuh serta berkembang di era digital. Generasi yang melek teknologi, khususnya teknologi digital.
Ungkapan itu semakin merekat dengan topik pembicaraan. Penulis menyikapi ungkapan tersebut bahwa benar apa yang diungkapkan Syarifuddin Brutu dengan fenomena atau realitas kehidupan para generasi masa kini. Semua yang disukai atau digandrungi adalah serba instan. Sehingga muncul satu label yang disebut dengan generasi instan. Generasi yang menggandrungi sesuatu serba instan. Tidak mau sulit dan merepotkan. Oleh sebab itu, diskusi semakin menarik, tentang kondisi generasi masa kini.
Penulis melanjutkan perbincangan bahwa terseretnya generasi masa kini ke dalam budaya instan menempatkan generasi ini ke dalam sebuah generasi ayam potong atau generasi rapuh. Dikatakan demikian, karena generasi ini hidupnya sangat rapuh, mudah hancur. Tidak kuat, tidak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup ( survival) kini dan esok. Artinya mereka tidak memiliki daya hidup atau daya juang, sehingga kalau terjadi sesuatu tragedy seperti bencana alam, seperti tsunami, bencana ekologi, maupun bencana perang, mereka tidak bisa hidup. Karena generasi ini sudah kehilangan daya tahan hidup, atau rendahnya kemampuan survival.
Hidup mereka, ibarat kehidupan ayam potong. Kiita pasti bisa bayangkan dan cermati bagaimana hidupnya ayam potong. Ayam potong adalah ayam peliharaan yang sehari hari kita saksikan malas bergerak. Menikmati segala yang serba instant, makan pun tersedia dan bahkan disuntik atau injeksi agar cepat besar. hari diberi makan sekenyang-kenyangnya, tanpa harus berusaha mencari makan, seperti ayam kampung. Makanan sudah disediakan, tinggal santap. Bukan hanya itu, agar ayam cepat besar, maka sering disuntik di paha atau sayap. Coba lepaskan ayam itu di luar kandang. Ayam-ayam itu malas bergerak dan hanya duduk. Lalu, bila ada ancaman, misalnya elang yang sedang mencari mangsa, ayam potong tidak lari menyelamatkan diri, tetapi tetap diam di tempat, sehingga mudah diterkam elang. Kalau ayam kampung yang selalu bergerak dan mencari makan, ketika ada elang, langsung terbang mencari tempat aman.
Itu adalah salah satu contoh betapa rapuhnya ayam potong, dalam mempertahankan hidup. Lalu, apa kaitannya dengan generasi ayam potong? Mari kita perbincangkan lebih lanjut. Generasi ayam potong itu. Bila kita gali literatur mengenai generasi rapuh, sebenarnya selama ini kita juga sudah sering mendengar sebutan strawberry generation (generasi stroiberi) dengan merujuk pada fenomena generasi muda saat ini yang sekilas tampak indah, kreatif, dan penuh potensi dari luar, namun cenderung rapuh, mudah hancur, dan sensitif saat menghadapi tekanan atau kegagalan hidup (bagaikan buah stroberi).
Meskipun istilah ini sering dilekatkan pada Generasi Z (Gen Z) dan Alfa, sebutan ini sebenarnya lebih merupakan kritik sosial terhadap kondisi mentalitas, bukan generalisasi untuk semua anak muda. Yang perlu juga kita ketahui bahwa generasi
ini tumbuh di era yang sangat dinamis, namun memiliki beberapa pola perilaku khas yang menunjukkan kerentanan emosional. Seperti disebutkan di atas, kita saat ini sedang menyaksikan fenomena atau realitas rendahnya daya tahan hidup generasi Z dan alpha terhadap tekanan (Resilience). Generasi ini cenderung cepat menyerah, merasa stres berlebih, atau mengalami kecemasan ekstrem saat menghadapi tantangan akademis, profesional, atau konflik personal.
Bukan hanya itu, generasi ini mudah pula terkena sindrom “Instant Gratification” (Kepuasan Instan). Mereka terbiasa mendapatkan segalanya dengan cepat berkat teknologi. Akibatnya, mereka memiliki toleransi yang sangat rendah terhadap proses, birokrasi, atau hal-hal yang membutuhkan waktu lama (tidak sabaran). Bukan hanya itu, generasi ini mudah tersinggung (Easily Offended), sehingga mereka tampak sangat sensitif terhadap kritik, masukan, atau perbedaan pendapat. Kritik dari atasan di tempat kerja atau guru di sekolah sering kali diartikan sebagai serangan personal atau perundungan (bullying).
Lalu, dalam konteks ekspektasi, generasi ini sering terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis. Bisa jadi, mereka memiliki impian dan standar hidup yang sangat tinggi (sering kali dipengaruhi apa yang mereka lihat di media sosial), namun tidak dibarengi dengan kesiapan mental untuk melewati kerja keras dan kegagalan yang menyertainya. Kemauan atau minat membaca begitu rendah. Ibarat kata pepatah ibarat bunga layu sebelum berkembang. Ya, belum sempat minat membaca tumbuh, langsung layu sebelum berkembang. Akibatnya, genrasi ini memiliki kemampuan literasi yang rendah.
Selanjutnya, di Tengah dunia yang penuh dengan budaya pencitraan dan validasi, generasi ini memiliki kecenderungan ketergantungan validasi dari luar atau eksternal. Kebahagiaan dan rasa percaya diri mereka sangat bergantung pada jumlah likes, komentar, atau pengakuan dari orang lain, terutama di dunia maya. Selain itu, ada pula kecenderungan Self-Diagnosis. Mereka terlalu cepat melabeli diri sendiri dengan gangguan kesehatan mental (seperti trauma, anxiety, atau depresi) hanya berdasarkan informasi singkat dari media sosial tanpa konsultasi medis profesional.
Namun, penting dicatat bahwa di balik kerapuhannya, generasi ini adalah generasi yang paling adaptif terhadap teknologi, paling kreatif, memiliki empati sosial yang tinggi, dan berani menyuarakan keadilan. Oleh sebab itu, berkembangnya perilaku intants, hilangnya kemampuan bertahan hidup dan lahirnya generasi rapuh, adalah kenyataan yang tidak selayaknya dibiarkan berkembang. Kondisi ini harus diantisipasi, karena ketika di negeri tercinta ini, kelak dipenuhi oleh generasi rapuh dan generasi ayam potong, secara langsung ikut melemahkan kekuatan bangsa dan negara. Bangsa dan negara kehilangan soko guru, karena generasi bangsanya adalah generasi yang tidak mampu mempertahankah hidup, apalagi membangun bangsa negara yang kuat. Untuk itu, semua pihak tidak boleh lalai dan terlena apalagi apatis dalam melihat kondisi generasi ayam potong ini. Harus ada upaya untuk mengantisipasi sejak saat ini, apabila tidak ingin bangsa dan negara ini ikut rapuh dan menjadi bangsa dan negara ayam potong. Negeri dan bangs aini akan mudah dikuasai, tanpa harus menggunakan senjata pembunuh massal, seperti yang kini melanda Timur Tengah yang terlibat dalam konflik perang geopolitik.
Semua elemen bangsa harus mampu mencari dan menggali akar masalah atau penyebab utama lahirnya generasi ayam potong, lalu mencari merancang strategi yang tepat untuk mengantisipasi atau untuk mengubah stigma ayam potong tersebut di kalangan generasi Z dan generasi Alpha. Genrasi Z dan generasi Alpha adalah pemilik bangsa ke depan. Mereka harus menjadi generasi yang memiliki daya juang, daya tahan dan daya melanjutkan eksistensi bangsa yang kuat dan bermartabat. Mari kita siapkan generasi kuat dan bermatabat yang tidak rapuh, tetapi Tangguh.












