Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Puisi Esai Anies Septivirawan Angin dingin pagi kala itu: Tiga puluh tahun lalu Sudah menjadi lagu Setiap selepas subuh ...
Puisi Karya Juni Ahyar Di sini, di batas ketahanan yang rapuh, Aku berdiri, memunggungi kenangan. Bukan karena benci, tapi terpaksa, ...
RATAPAN SEMESTA Karya: Kiki Fatmawati Sajak alam terus mengalun terbawa angin Membentuk ratapan pilu sang penanggung malapetaka Dipaksa kuat pada kenyataan pahit ulah manusia Harapan bentala untuk tetap asri seakan hanya angan semata Tak sadar ulah manusia melukai semesta Mentari bahkan hampir tak tersenyum lagi Tak terhitung berapa kali semesta murka Bahkan tak peduli berapa banyak korban bencana Bukan perkara tak percaya wacana manusia Hanya saja sering kali sebatas omong kosong belaka Kini tangisan semesta sudah tak tertata Akankan kalian tetap terus menutup mata? (Matang Cincin, 04 Juni 2023)...
Bertarung Khayal Karya: Dzakwan Ali merantau bertaruh segenap jiwa dan raga dalam bayang tumbuh pertanyaan mau menabur apa disana? siapa...
Fatamorgana Kursi Oleh Nyakman Lamjame Kursi hanyalah bayang di padang tandus,seperti fatamorgana yang dijadikan oase.Mereka berlari ke arahnya dengan nafas...
Sekumpulan Puisi Karya: S. Sigit Prasojo Aku menghambur di jalan binatang—tempat matahari mengerut seperti puntungdan tanah lebih setia memeluk bangkai....
Oleh Anto narasoma 1)kang acil,seperti bait terakhirnapasmu terbangmemburu kata-katake dalam syair laguyang menyenandungkansuasana sepi dan pedih sebab,dari perjalanan iramayang begitu...
Oleh Muhammad HafizSiswa SMK Negeri 1 Jeumpa, Bireun, Aceh Aku melangkah, pelan tapi pasti,menyusuri lorong waktu yang tak henti berdetak.Di...
Oleh Muslimin Lamongan menggilas kepala anggap permainanmelindas badan anggap kelucuanmelibas masa depan betapa brutalmobil baja jiwa angkaraair mata darah ibu...
Ibu dan Sebuah Ejaan Lisanku tak pandai mengeja abjadLisanku tak pandai menyebut nama indahmuLisanku hanya pandai merengekMemanggilmu dengan sebuah Tanda...
© 2026 potretonline.com