Puisi-Puisi Mustiar Ar
WAHAI HATIKU Wahai hati yang sunyi turunkan perahu kerinduan Saya menyajikan secangkir dam Matahari masih tersenyum biar...
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin. Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
WAHAI HATIKU Wahai hati yang sunyi turunkan perahu kerinduan Saya menyajikan secangkir dam Matahari masih tersenyum biar...
( Karya : Zab Bransah) Izinkanlah, Wahai Zulia kusapa bulan bersama malam ini malam bersama bulan kurindukan walau...
Oleh : Putri Zianby Cintami Dari jarak beribu-ribu kilometer, ku dengar suara ledakan yang menggelegar… Meruntuhkan rumah-rumah...
Cermin Fatamorgana Aku hilang diri hanya bias hanya tipuan hanya pantulan hanya imajinasi hanya gejala optis hanya...
Khayalis: Syam S Sinar mentari mengais pagi Bersama mendung menipis angin semilir lembut Menyentuh...
Oleh Ria Andelia Kumendengar suara goresan Yang membuat hatiku terasa sakit Tubuhku kaku seakan waktu telah terhenti Dia...
Oleh Alya Amira Asshifa Kebersihan… Sungguh engkau yang kujaga… Engkaulah yang kunanti… Kebersihan… Seandainya saja engkau tidak...
Oleh Alya Almira As Shifa Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945Pada saat itulah indonesia sangat berbahagia dengan banyak...
Tantangan Senja Kujejaki jembatan rindu laut Malaka kuseberangi Kutitip senja di ufuk barat Bila malam tiba baru...