Puisi

Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin. Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.

993 artikel Diperbarui: 06 Agustus 2026
Filter: Terbaru Terpopuler Pilihan Editor
Puisi

Benarkah Negaraku Sudah Merdeka?<span style="font-family: Revalia, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 16px; color: rgb(0, 0, 0);"></span>

Oleh Juni Ahyar Tujuh belas Agustus kembali mengetuk langit negeri,merah putih berkibarmenyulam sejarah yang tak pernah letih dikenang.Anak-anak berlari membawa tawa,lagu “Indonesia Raya” menggemadi antara tiang-tiang harapan. Namun,di sudut-sudut kampung yang sunyiaku mendengar pertanyaanyang tak pernah selesai dijawab. Benarkah negaraku sudah merdeka? Bukankah merdekaadalah lepas dari belenggu,berdiri di atas kaki sendiri,bebas menentukan arahtanpa takut,tanpa dipaksa,tanpa bergantung pada siapa pun? Leluhur menyebutnyamaharddhika…hidup yang bermartabat,sejahtera,kuat,dan bebas. Tetapi hari ini… Mengapa negeri yang pernah dipujikarena kekayaan perut buminya,masih menyaksikan rakyatmengantre berjam-jamdemi setetes bahan bakar? Mengapa ibu-ibumenggenggam tabung gas kosonglebih lamadaripada menggenggam senyum anaknya? Mengapa sawah yang menghijautak selalu menghadirkanberas yang ramah di kantong rakyat? Mengapa semenlahir dari tanah sendiri,tetapi rumah sederhanamasih menjadi mimpikarena harganya terus meninggi? Dan mengapa…...

Puisi

Negeri yang Kehilangan Cermin

Oleh Juni Ahyar Katamu,kami hidup di negeri yang kaya,tanahnya subur,lautnya luas,gunungnya menyimpan emas,perut bumi mengalirkan minyak,dan langitnya menjatuhkan hujan keberkahan. Namun mengapaperut rakyatmasih akrab dengan bunyi lapar? Katamu,negeri ini swasembada pangan.Tetapiberas semakin menjulang,seolah kemewahanyang hanya boleh dipandangdari balik etalase. Katamu,tanah ini melahirkan semen.Namun rumah-rumah sederhanamasih tertahan menjadi mimpi,karena hargatak lagi berpihakkepada tangan-tangan pekerja. Katamu,negeri ini menghasilkan pupuk.Tetapi petanilebih sering memupuk kesabarandaripada sawahnya sendiri.Mereka mengantrebukan untuk panen,melainkanuntuk secuil harapanyang entah datang kapan. Katamu,kita negeri penghasil minyak.Lalu mengapamatahari terbitmenyaksikan ribuan kendaraanmengular di SPBU,seolah waktu rakyattak lagi bernilaidi hadapan jeriken dan tangki kosong? Katamu,gemah ripah loh jinawi,bumi yang makmur,air yang melimpah,hasil alam yang tak pernah habis. Tetapi mengapaibu-ibu menggenggam tabung gaslebih eratdaripada menggenggam masa depan,berbaris panjangdemi apiyang sekadar inginmenghidupkan dapur? Kami tak sedangmengutuk negeri ini. Kami hanya bertanya,mengapa kekayaanlebih sering tinggaldi dalam pidatodaripada di meja makan rakyat?...

Puisi

Liturgi Hutan Terkepung Api 

Oleh Fileski Walidha Tanjung  Barangkali akar telah mempelajari alfabet luka lebih tekun daripada perpustakaan hujan yang kehilangan kelopak....

Ketika Bambu Menghafal Angin

Karya Juni Ahyar Di sela rumpun bambu angin belajar menyebut namanya sendiri. Tak ada guru,tak ada kitab,hanya buluh-buluh...

Puisi

Momentum Bola dan Demokrasi

Oleh Istiqomah, S.Si (Fisikawan Demokrasi/Alumnus Fisika Universitas Airlangga Surabaya) Lampu stadion menyalakan langitDi tengah sorak dan kibaran bendera,sebuah...

Namaku Malu dan Kita Sudah Merdeka

Puisi-Puisi Din Saja Namaku Malu aku malu,karena tidak memberi maafkepada orang-orang yang telah menzalimi diriku aku malu,karena merasa...

Puisi

Kita Sedang Berjalan ke Arah-Nya

Oleh  Juni Ahyar Tak seorang punbenar-benar berjalanmenuju masa depan. Yang kita sebut hari esokhanyalah namabagi jarakyang semakin pendekmenuju liang keabadian. Setiap pagiumur tidak bertambah. Ia justru berkurangsatu halaman,sementara catatan amaldiam-diammenulis dirinya sendiri. Kita sibukmenggambar istanadi atas kalender. Menghitung gaji,mengejar gelar,memburu pujian,mengumpulkan duniaseolah waktubersedia menunggu. Padahal,di belakang setiap detik,ada malaikatyang menghitunglangkah kitake arah pulang. Lihatlah duniatidak sedang mendekatimu. Ia perlahan menjauh,seperti senjayang menanggalkan cahayatanpa meminta izin. Sebaliknya, akhiratterus berjalanke arahmu. Ia tidak tergesa. Namuntak pernah terlambat. Betapa banyakangan-anganyang tumbuhlebih tinggidaripada usia pemiliknya....

Poem

The Philosophy of Walking

Though human beings are naturally born to walk,it is the one thing that most of us are too...