Puisi

Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin. Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.

1,007 artikel Diperbarui: 27 Agustus 2026
Filter: Terbaru Terpopuler Pilihan Editor
Artikel

Untaian Puisi Mustiar Ar

BENTENG TERAKHIR Ketika benteng negeri runtuh oleh zaman,penyair berdiri dengan pena yang sunyi.Ia tak membawa senjata atau kekuasaan,hanya...

Poem

The Many Faces of Beauty

Mohd Abbas Abdul Razak, PhD They say beauty is relative;a thing that is beautiful to onemay not be...

Esai

Sastra Rendra Yang Tak Pernah Tumpul

Oleh Yani Andoko  Ketika Puisi Menjadi Tamparan Di Yogyakarta, 4 Februari 1978, seorang penyair dengan rambut panjang khasnya...

Puisi

Benarkah Negaraku Sudah Merdeka?<span style="font-family: Revalia, Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 16px; color: rgb(0, 0, 0);"></span>

Oleh Juni Ahyar Tujuh belas Agustus kembali mengetuk langit negeri,merah putih berkibarmenyulam sejarah yang tak pernah letih dikenang.Anak-anak berlari membawa tawa,lagu “Indonesia Raya” menggemadi antara tiang-tiang harapan. Namun,di sudut-sudut kampung yang sunyiaku mendengar pertanyaanyang tak pernah selesai dijawab. Benarkah negaraku sudah merdeka? Bukankah merdekaadalah lepas dari belenggu,berdiri di atas kaki sendiri,bebas menentukan arahtanpa takut,tanpa dipaksa,tanpa bergantung pada siapa pun? Leluhur menyebutnyamaharddhika…hidup yang bermartabat,sejahtera,kuat,dan bebas. Tetapi hari ini… Mengapa negeri yang pernah dipujikarena kekayaan perut buminya,masih menyaksikan rakyatmengantre berjam-jamdemi setetes bahan bakar? Mengapa ibu-ibumenggenggam tabung gas kosonglebih lamadaripada menggenggam senyum anaknya? Mengapa sawah yang menghijautak selalu menghadirkanberas yang ramah di kantong rakyat? Mengapa semenlahir dari tanah sendiri,tetapi rumah sederhanamasih menjadi mimpikarena harganya terus meninggi? Dan mengapa…...

Puisi

Negeri yang Kehilangan Cermin

Oleh Juni Ahyar Katamu,kami hidup di negeri yang kaya,tanahnya subur,lautnya luas,gunungnya menyimpan emas,perut bumi mengalirkan minyak,dan langitnya menjatuhkan hujan keberkahan. Namun mengapaperut rakyatmasih akrab dengan bunyi lapar? Katamu,negeri ini swasembada pangan.Tetapiberas semakin menjulang,seolah kemewahanyang hanya boleh dipandangdari balik etalase. Katamu,tanah ini melahirkan semen.Namun rumah-rumah sederhanamasih tertahan menjadi mimpi,karena hargatak lagi berpihakkepada tangan-tangan pekerja. Katamu,negeri ini menghasilkan pupuk.Tetapi petanilebih sering memupuk kesabarandaripada sawahnya sendiri.Mereka mengantrebukan untuk panen,melainkanuntuk secuil harapanyang entah datang kapan. Katamu,kita negeri penghasil minyak.Lalu mengapamatahari terbitmenyaksikan ribuan kendaraanmengular di SPBU,seolah waktu rakyattak lagi bernilaidi hadapan jeriken dan tangki kosong? Katamu,gemah ripah loh jinawi,bumi yang makmur,air yang melimpah,hasil alam yang tak pernah habis. Tetapi mengapaibu-ibu menggenggam tabung gaslebih eratdaripada menggenggam masa depan,berbaris panjangdemi apiyang sekadar inginmenghidupkan dapur? Kami tak sedangmengutuk negeri ini. Kami hanya bertanya,mengapa kekayaanlebih sering tinggaldi dalam pidatodaripada di meja makan rakyat?...

Puisi

Liturgi Hutan Terkepung Api 

Oleh Fileski Walidha Tanjung  Barangkali akar telah mempelajari alfabet luka lebih tekun daripada perpustakaan hujan yang kehilangan kelopak....