Oleh : Istiqomah,S.Si
(Fisikawan Demokrasi/Alumni Fisika Universitas Airlangga Surabaya)
Demokrasi punya setengah waktu paruh.
Ia meluruh pelan saat dibiarkan tanpa koreksi.
Yang kulihat hari ini bukan peluruhan,
melainkan pemotongan paksa oleh tangan yang tidak bijaksana.
Demokrasi telah bergeser menjadi oligarki
Energi tak lagi untuk negeri tapi untuk perut sendiri
Hukum kekekalan tidak berlaku di ruang publik.
Energi warga dibelokkan, dibenturkan begitu saja
Rakyat melawan rakyat
Agar pejabat tetap terhormat
Itu namanya adu domba
Sebuah gaya yang diciptakan agar massa saling tolak menolak
bukan saling tarik menarik ke arah akuntabilitas.
Ketika kami sibuk bertikai, kuasa bergerak tanpa gesekan.
Demokrasi tidak runtuh seketika.
Ia terdegradasi seperti entropi yang dipercepat.
Lembaga masih berdiri, papan namanya masih utuh.
Tapi fungsi kontrolnya sudah dihapus baris demi baris.
Pelumpuhan negeri dipertontonkan, dan kita tak mampu meratapinya.
Legitimasi turun, polarisasi naik.
Kurva kepercayaan publik membentuk lereng negatif.
Dan itu bukan kebetulan, itu didesain.
Kini yang hilang bukan hanya hak bersuara.
Tapi ruang hening untuk berpikir berbeda.
Tempat di mana salah bisa diuji,
tanpa dicap sebagai pengkhianat sistem negeri
Jika ini dibiarkan, maka sistem akan mencapai titik beku.
Tidak mati, tapi tidak hidup.
Sebuah demokrasi inersia,berbentuk tapi tidak bergerak
Maka kembalikan pada Reformasi
Demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.
Bukan retorika. Bukan spanduk.
Tapi kedaulatan yang bisa diukur, disentuh,dirasakan dan dipertanggungjawabkan
Maka pemimpin harus tahan uji kritik, seperti material tahan uji gaya.
Pemimpin harus berani reformasi, seperti sistem yang berani berubah fase.
Agar demokrasi tak sekarat kembali pada hidup yang bermartabat
Diskusi