Oleh : Istiqomah,S.Si
(Fisikawan Demokrasi/Alumni Fisika Universitas Airlangga Surabaya)
Di papan tulis republik ini
kita pernah menulis rumus f = m.a
Gaya sama dengan massa dikali percepatan.
Tapi hari ini aku melihatnya berbeda.
Massa rakyat dipaksa diam.
Percepatan kebijakan melaju tanpa kontrol.
Dan gaya… gaya digadai
Digadai Ke meja para pemilik modal.
Lihatlah
tanah kita jadi vektor.
Punya arah, punya besar,
tapi arahnya bukan ke perut yang lapar.
Besarnya bukan untuk sekolah yang penyok.
Vektor itu ditarik ke luar.
Resultannya: kita yang terdorong mundur.
Negriku bukan dijual.
Lebih sopan dari itu.
Negriku digadai.
Ada kwitansi. Ada bunga. Ada tempo.
Ada pasal yang berbunyi “demi pertumbuhan”.
Tapi yang tumbuh hanya angka di grafik,
bukan anak di pelosok yang berhenti sekolah.
Aku bukan penyair.
Aku hanya perempuan yang rindu fisika.
Dan fisika mengajariku:
tidak ada energi yang hilang,energi hanya berpindah.
Energi kedaulatan kita…
Yang hanya menghidupi ruang yang dingin
Maka izinkan aku mengukur lagi.
Bukan dengan kalkulator.
Tapi dengan denyut nadi pedagang pasar.
Dengan napas buruh yang lembur.
Dengan tatap guru honorer di ujung desa.
Karena demokrasi,
bukanlah hukum Newton yang kaku.
Demokrasi adalah hukum nurani bangsa.
Kalau massanya rakyat,
maka gayanya harus untuk rakyat.
Kalau percepatannya pembangunan,
maka arahnya harus keadilan.
Jangan gadai lagi negeriku.
Tebuslah!!!
Dengan keberanian.
Dengan kejujuran.
Dengan rumus yang paling tua di dunia yakni
satu manusia, satu suara, satu harga diri.
7 Juli 2026
Diskusi