Selasa, April 21, 2026

Fatamorgana Kursi

September 2025
Oleh: Redaksi

Fatamorgana Kursi

Oleh Nyakman Lamjame

Kursi hanyalah bayang di padang tandus,
seperti fatamorgana yang dijadikan oase.
Mereka berlari ke arahnya dengan nafas terengah,
mengira di sana ada air penawar dahaga,
padahal yang tersisa hanyalah pasir
dan pantulan wajah mereka sendiri.

Keserakahan, sesungguhnya bukan emas,
melainkan debu yang berkilau dalam cahaya senja.
Tangan yang meraihnya akan kembali kosong,
seperti menggenggam asap,
seperti menadah angin.

Rakyat pun menjadi semacam nama sakral
yang dipanggil di mimbar-mimbar megah,
namun tidak pernah ditemui
di lorong-lorong sempit tempat lapar berdiam.

O, negeri,
sejarah tidak pernah tidur:
ia mencatat bisik-bisik dalam rapat
sebagaimana ia mencatat jerit di jalan.
Dan waktu, dengan pena yang abadi,
menulis di lembar takdir:
bahwa kursi yang dipuja hari ini
akan reput besok,
meninggalkan hanya debu,
dan debu itu akan kembali ke debu.

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist