Artikel · Potret Online

“Kedaulatan Dalam  Kemerdekaan Bangsa Koe”

Penulis Din saja
Agustus 6, 2026
6 menit baca 6
IMG_1333
Foto / Ilustrasi“Kedaulatan Dalam  Kemerdekaan Bangsa Koe”

Oleh Din Saja

Suasana gelap 

Di pentas terdapat 3 tempat duduk 

Terdengar suara seseorang  (Aulia) membacakan : 

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa 

dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, 

karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Sejenak hening.

Tidak lama terdengar cuplikan lagu instrument fluetIndonesia Pusaka.

Ubit  :

Pada masa kerajaan, hanya raja pemilik kekayaan, 

menguasai seluruh kekayaan bumi, 

dapat mewarisi tahta kekuasaan.

Pada masa demokrasi, sama saja , 

perebutan kekuasaan antar kelompok

menguras kekayaan bumi dengan regulasi.

Karena itu harus dicermati bukan pada sistem berbangsa, 

tapi lebih pada moral dan perilaku,

sehingga amanah hidup dapat dijalankan sebagaimana perintah.

Rakyat itu matahari 

Kekuasaan itu bulan 

Aulia :

Selama ini, apapun yang disampaikan pemerintah 

maupun anggota dewan, 

terutama tentang pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, 

sudah tidak lagi dipercaya kebenarannya.

Apapun yang disampaikan para ilmuan 

tentang kebenaran dan kebaikan, 

hanya dianggap sebuah teori yang tidak berguna.

Begitu halnya ketika ulama serta pemuka agama, 

berceramah tentang bagaimana buruknya perilaku jahat, 

hanya bergema di udara tanpa membekas di jiwa-jiwa pendengarnya.

Seperti halnya dengan seniman, 

dipandang badut-badut yang berceloteh dan menggelikan.

Ketika pilar-pilar sudah digerogoti krisis amanah, 

keserakahan yang disengaja, 

sifat-sifat menindas yang masif, 

bukankah kehidupan sebuah kesia-siaan, 

ruang hampa menunggu waktu untuk meledak.

Din Saja :

Tuhan sedang sakit, kataku 

Apakah benar Tuhan sakit, katamu sedikit melotot 

Aku ajak saudaraku itu ke istana kenegaraan, lalu aku katakan, 

berapa banyak penipuan, penculasan, persekongkolan, terjadi di tempat ini?

Saudaraku itu hanya diam dan terpana.

Aku ajak lagi ke gedung parlemen, lalu aku katakan, 

berapa banyak produk hukum dihasilkan yang menjerat leher rakyatnya,

yang menguntungkan segelintir orang 

untuk menguasai hampir seluruh harta kekayaan negara.

Saudaraku itu terdiam, wajahnya sedikit muram.

Aku ajak lagi ke rumah-rumah sakit, 

sambil melihat-lihat pasien dengan beragam penyakit, 

cacat setelah operasi, batuk yang akhirnya tbc, 

asam lambung, asma, pilek, yang tidak sembuh-sembuh.

Saudaraku itu memoles ujung matanya dengan ujung lengan bajunya.

Aku ajak juga ke tempat para gembel, pemabuk, pencopet, 

pelacur, anak-anak yang kehilangan cermin, 

janda-janda yang kehilangan dermaga.

Di tempat itu, saudaraku menangis tersedu-sedu, 

sambil berujar “benar Tuhan sedang sakit”

Malam semakin panjang 

Kabut tebal melebar 

Hujan deras dalam dada 

Kami pun tidak bisa tertidur

Aulia :

Bangsa ini sedang tidak sehat

Kekuasaan dan uang telah menjelma setan

Merusak nilai-nilai , prinsip ilmu pengetahuan dan moral

Gelombangnya bisa mematikan

Duhai kesadaran, di mana kah engkau berada

Datanglah dengan senyuman ke dalam jiwa

Suasana sepi sejenak.

Ubit :

Orang miskin dilarang bersikap, 

kalau tidak ingin dikucilkan, 

meskipun sudah terkucilkan.

Orang sakit dilarang mengeluh, 

kalau masih ingin diobati, 

meskipun tidak akan pernah sembuh.

Jangan tanyakan apa yang sudah negara dan kekuasaan berikan padamu, 

tapi renungkan apa yang sudah kamu sumbangkan, 

wahai sampah kehidupan, orang-orang tak berdaya, 

untuk kepentingan kekuasaan.

Jangan hanya suka menuntut 

keadilan dan kesejahteraan dari kekayaan yang dikuasai negara,

tapi lakukan saja kewajibanmu untuk mencoblos saat pemilu, 

karena hanya hak itu yang ada pada dirimu, 

selebihnya urus sendiri kepentingan hidupmu.

Aulia :

Kemerdekaan ialah ketika kita mampu membangun pyramida kekuasaan, 

dipuncaknya kita berdiri dengan gagah perkasa, 

sambil memandang jauh ke depan sana, 

impian yang selalu dicita-igaukan.

Kata oligarki “kemerdekaan adalah 

ketika penguasa dan aparatur menjadi kaya raya, 

serta rakyat semakin fakir dan miskin”

Kata kapitalis “kemerdekaan adalah 

ketika negara menjadi etalase mal seluruh produk dan industri, 

sedangkan rakyat terpaksa membeli dengan air mata”

Setiap saat nyanyian kemerdekaan memiliki dua nada yang berbeda

Ubit :

Kita sudah merdeka,

Teriak Prabowo berapi-api didepan para wakil rakyat 

Anak-anak terlihat sibuk dengan makan gratis, 

sambil mendendangkan lagu tentang kemiskinan 

Kita belum merdeka,

Gumam Mualem dihadapan pelaku perdamaian 

Intelijen mengadakan rapat tertutup, 

sambil menghitung-hitung berapa lagi korban akan berjatuhan 

Ah, mereka terlalu sibuk mengurusi kemerdekaan, 

gosip para pemulung sambil menghitung jualan rongsokan sepekan

AULIA :

Tahukah Tuan,

Bahwa rakyat biasa,

Miskin tak berkuasa,

Telah ditabalkan sebagai peminta-minta, 

sebagai yang harus dikasihani, 

sebagai yang harus diberi sedekah, 

sebagai fakir yang ketika lahir tidak membawa apa-apa, 

tidak boleh memiliki apa-apa, 

sebagai orang yang harus bertarung dengan penguasa, 

dengan orang-orang kaya, 

entah darimana dia dapatkan kekuasaan dan kekayaannya,

dengan sesukanya mempertahankan sampai anak dan cucunya, 

dengan mutlak menguasai seluruh isi bumi, 

seluruh isi lautan, 

seluruh isi langit, 

sesama mereka bertarung, 

berkhianat, 

menelingkung, 

saling memenjarakan, 

pada akhirnya membunuh,

Tahukah Tuan

Ubit :

apa yang tersisa bagi kita

ketika konstitusi dan undang-undang

telah habis menjarahnya

bahkan sumsum tulang kita

habis dihisap bersama anak cucunya

Aulia :

inilah negeri para drakula

eksekutif drakula

legislatif drakula

birokrat drakula

hukum drakula

pendidikan drakula

ekonomi drakula

kebudayaan drakula

kesenian drakula

wisata drakula

Ubit :

di jaga oleh

tentara srigala

polisi srigala

satpol-pp srigala

weha srigala

satpam srigala

Aulia :

apa yang tersisa bagi kita

ketika konstitusi dan undang-undang

telah habis menjarahnya

bahkan sumsum tulang kita

habis dihisap bersama anak cucunya

Suasna kembali sepi.

Tidak lama kemudian muncul Rafly Kande

Mengiringi pembacaan puisi MAKAN SATE

Bersama din saja

DIN SAJA :

Aku lagi makan sate 

pada sebuah restoran angkara murka.

Dagingnya dari tubuh manusia yang hidup di desa-desa, 

di pinggiran hutan. 

Tusuk satenya dari batang-batang kayu, 

yang tumbuh di rimba-rimba belantara. 

Minumannya juice darah dan air mata anak-anak desa,

yang kurus kering dan tidak sekolah. 

Aku lagi makan sate bersama para penguasa dan cukong-cukong manca negara. 

Kegemaranku makan sate dari tubuh orang-orang desa. 

Mari makan sate bersamaku,

sambil mendengarkan irama rimba yang sunyi sendiri.

Pertunjukan selesai

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Din saja
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...