“Kedaulatan Dalam Kemerdekaan Bangsa Koe”

Oleh Din Saja
Suasana gelap
Di pentas terdapat 3 tempat duduk
Terdengar suara seseorang (Aulia) membacakan :
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa
dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan,
karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Sejenak hening.
Tidak lama terdengar cuplikan lagu instrument fluetIndonesia Pusaka.
Ubit :
Pada masa kerajaan, hanya raja pemilik kekayaan,
menguasai seluruh kekayaan bumi,
dapat mewarisi tahta kekuasaan.
Pada masa demokrasi, sama saja ,
perebutan kekuasaan antar kelompok
menguras kekayaan bumi dengan regulasi.
Karena itu harus dicermati bukan pada sistem berbangsa,
tapi lebih pada moral dan perilaku,
sehingga amanah hidup dapat dijalankan sebagaimana perintah.
Rakyat itu matahari
Kekuasaan itu bulan
Aulia :
Selama ini, apapun yang disampaikan pemerintah
maupun anggota dewan,
terutama tentang pembangunan dan kesejahteraan masyarakat,
sudah tidak lagi dipercaya kebenarannya.
Apapun yang disampaikan para ilmuan
tentang kebenaran dan kebaikan,
hanya dianggap sebuah teori yang tidak berguna.
Begitu halnya ketika ulama serta pemuka agama,
berceramah tentang bagaimana buruknya perilaku jahat,
hanya bergema di udara tanpa membekas di jiwa-jiwa pendengarnya.
Seperti halnya dengan seniman,
dipandang badut-badut yang berceloteh dan menggelikan.
Ketika pilar-pilar sudah digerogoti krisis amanah,
keserakahan yang disengaja,
sifat-sifat menindas yang masif,
bukankah kehidupan sebuah kesia-siaan,
ruang hampa menunggu waktu untuk meledak.
Din Saja :
Tuhan sedang sakit, kataku
Apakah benar Tuhan sakit, katamu sedikit melotot
Aku ajak saudaraku itu ke istana kenegaraan, lalu aku katakan,
berapa banyak penipuan, penculasan, persekongkolan, terjadi di tempat ini?
Saudaraku itu hanya diam dan terpana.
Aku ajak lagi ke gedung parlemen, lalu aku katakan,
berapa banyak produk hukum dihasilkan yang menjerat leher rakyatnya,
yang menguntungkan segelintir orang
untuk menguasai hampir seluruh harta kekayaan negara.
Saudaraku itu terdiam, wajahnya sedikit muram.
Aku ajak lagi ke rumah-rumah sakit,
sambil melihat-lihat pasien dengan beragam penyakit,
cacat setelah operasi, batuk yang akhirnya tbc,
asam lambung, asma, pilek, yang tidak sembuh-sembuh.
Saudaraku itu memoles ujung matanya dengan ujung lengan bajunya.
Aku ajak juga ke tempat para gembel, pemabuk, pencopet,
pelacur, anak-anak yang kehilangan cermin,
janda-janda yang kehilangan dermaga.
Di tempat itu, saudaraku menangis tersedu-sedu,
sambil berujar “benar Tuhan sedang sakit”
Malam semakin panjang
Kabut tebal melebar
Hujan deras dalam dada
Kami pun tidak bisa tertidur
Aulia :
Bangsa ini sedang tidak sehat
Kekuasaan dan uang telah menjelma setan
Merusak nilai-nilai , prinsip ilmu pengetahuan dan moral
Gelombangnya bisa mematikan
Duhai kesadaran, di mana kah engkau berada
Datanglah dengan senyuman ke dalam jiwa
Suasana sepi sejenak.
Ubit :
Orang miskin dilarang bersikap,
kalau tidak ingin dikucilkan,
meskipun sudah terkucilkan.
Orang sakit dilarang mengeluh,
kalau masih ingin diobati,
meskipun tidak akan pernah sembuh.
Jangan tanyakan apa yang sudah negara dan kekuasaan berikan padamu,
tapi renungkan apa yang sudah kamu sumbangkan,
wahai sampah kehidupan, orang-orang tak berdaya,
untuk kepentingan kekuasaan.
Jangan hanya suka menuntut
keadilan dan kesejahteraan dari kekayaan yang dikuasai negara,
tapi lakukan saja kewajibanmu untuk mencoblos saat pemilu,
karena hanya hak itu yang ada pada dirimu,
selebihnya urus sendiri kepentingan hidupmu.
Aulia :
Kemerdekaan ialah ketika kita mampu membangun pyramida kekuasaan,
dipuncaknya kita berdiri dengan gagah perkasa,
sambil memandang jauh ke depan sana,
impian yang selalu dicita-igaukan.
Kata oligarki “kemerdekaan adalah
ketika penguasa dan aparatur menjadi kaya raya,
serta rakyat semakin fakir dan miskin”
Kata kapitalis “kemerdekaan adalah
ketika negara menjadi etalase mal seluruh produk dan industri,
sedangkan rakyat terpaksa membeli dengan air mata”
Setiap saat nyanyian kemerdekaan memiliki dua nada yang berbeda
Ubit :
Kita sudah merdeka,
Teriak Prabowo berapi-api didepan para wakil rakyat
Anak-anak terlihat sibuk dengan makan gratis,
sambil mendendangkan lagu tentang kemiskinan
Kita belum merdeka,
Gumam Mualem dihadapan pelaku perdamaian
Intelijen mengadakan rapat tertutup,
sambil menghitung-hitung berapa lagi korban akan berjatuhan
Ah, mereka terlalu sibuk mengurusi kemerdekaan,
gosip para pemulung sambil menghitung jualan rongsokan sepekan
AULIA :
Tahukah Tuan,
Bahwa rakyat biasa,
Miskin tak berkuasa,
Telah ditabalkan sebagai peminta-minta,
sebagai yang harus dikasihani,
sebagai yang harus diberi sedekah,
sebagai fakir yang ketika lahir tidak membawa apa-apa,
tidak boleh memiliki apa-apa,
sebagai orang yang harus bertarung dengan penguasa,
dengan orang-orang kaya,
entah darimana dia dapatkan kekuasaan dan kekayaannya,
dengan sesukanya mempertahankan sampai anak dan cucunya,
dengan mutlak menguasai seluruh isi bumi,
seluruh isi lautan,
seluruh isi langit,
sesama mereka bertarung,
berkhianat,
menelingkung,
saling memenjarakan,
pada akhirnya membunuh,
Tahukah Tuan
Ubit :
apa yang tersisa bagi kita
ketika konstitusi dan undang-undang
telah habis menjarahnya
bahkan sumsum tulang kita
habis dihisap bersama anak cucunya
Aulia :
inilah negeri para drakula
eksekutif drakula
legislatif drakula
birokrat drakula
hukum drakula
pendidikan drakula
ekonomi drakula
kebudayaan drakula
kesenian drakula
wisata drakula
Ubit :
di jaga oleh
tentara srigala
polisi srigala
satpol-pp srigala
weha srigala
satpam srigala
Aulia :
apa yang tersisa bagi kita
ketika konstitusi dan undang-undang
telah habis menjarahnya
bahkan sumsum tulang kita
habis dihisap bersama anak cucunya
Suasna kembali sepi.
Tidak lama kemudian muncul Rafly Kande
Mengiringi pembacaan puisi MAKAN SATE
Bersama din saja
DIN SAJA :
Aku lagi makan sate
pada sebuah restoran angkara murka.
Dagingnya dari tubuh manusia yang hidup di desa-desa,
di pinggiran hutan.
Tusuk satenya dari batang-batang kayu,
yang tumbuh di rimba-rimba belantara.
Minumannya juice darah dan air mata anak-anak desa,
yang kurus kering dan tidak sekolah.
Aku lagi makan sate bersama para penguasa dan cukong-cukong manca negara.
Kegemaranku makan sate dari tubuh orang-orang desa.
Mari makan sate bersamaku,
sambil mendengarkan irama rimba yang sunyi sendiri.












