Minggu, April 19, 2026

‎Kulihat Indonesia di Balik Jendela Sekolah

September 2025

 Puisi Esai Anies Septivirawan 

‎Angin dingin pagi kala itu: 

‎Tiga puluh tahun lalu 

‎Sudah menjadi lagu 

‎Setiap selepas subuh 

‎Aku mandi, memakai baju

‎Memasang  sepatu 

‎Menuntut ilmu di sekolah 

‎Bersama mereka 

‎Teman dan handai taulan 

‎Meraba – raba masa depan 

‎Merangkai harapan 

‎Aku dan mereka sebaya 

‎Menatap tumpukan lembar pustaka 

‎Di balik jendela sekolah 

‎Kita membaca tentangmu 

‎Indonesia… Indonesia… Indonesia 

‎Di rak – rak buku sejarah 

‎Yang memeluk sunyi  

‎Aku dan mereka sebaya 

‎Kulihat Indonesia di lembar 

‎Buku – buku sejarah 

‎Aku dan mereka sebaya 

‎Menatap selembar usang peta 

‎Setiap datang dan pulang sekolah 

‎Tentang Indonesia 

‎Selembar  peta  usang 

‎Menempel di tembok rapuh 

‎Namun penuh wibawa 

‎Aku dan mereka sebaya 

‎Penuh kagum mengangguk 

‎Ketika sang guru bercerita 

‎Tentangmu, wahai negeriku 

‎Yang aku dengar dari 

‎Guru sejarah: “Indonesia, adalah 

‎Negeri subur nan makmur,” begitu kata guru kita dengan nada bangga. 

‎”Indonesia… penduduknya ramah kepada siapa saja, Indonesia punya nenek moyang handal menaklukkan badai di tengah laut samudera raya”  ujar guru sekolah di  kota tempat tumpah darah 

‎Tapi itu hanya lisan sejarah 

‎Sejarah yang tidak pernah 

‎Kami jalani, tidak pernah kami alami 

‎Di sekolah 

‎Kami adalah para siswa 

‎Yang memburu angka

‎Angka tertinggi di selembar ijazah 

‎Agar kelak diterima bekerja 

‎Di kantor – kantor pemerintah 

‎Seperti kakek-nenek dan orang tua kita 

‎Pada jaman setelah penjajahan Belanda 

‎Di sekolah 

‎Setiap upacara hari Senin 

‎Kita harus menyanyikan 

‎Lagu Indonesia Raya 

‎Dengan telapak tangan kanan 

‎Di dahi menghormat kepada 

‎Sang bendera pusaka 

‎”Indonesia Raya… merdeka… merdeka…

‎Tanahku… negeriku… yang kucinta….

‎Tetapi, lidahku seperti tersandung 

‎Bongkahan batu kata – kata 

‎Ketika harus melantunkan 

‎Syair yang berbunyi 

‎”Bangunlah jiwanya… bangunlah badannya… untuk Indonesia Raya…

‎Aku tertegun… lalu melumat dan 

‎Menelan syair di dalam kalimat nan angkuh itu 

‎Yah… syair itu angkuh

‎Karena jiwaku cengeng… jiwaku rapuh…

‎Jiwaku terlena oleh 

‎Kekayaan sumber daya alam 

‎Jiwaku pemalas karena 

‎Tidak bisa merawat 

‎Kekayaan khasanah budaya nusantara 

‎Jiwaku telah terpesona dan jatuh cinta 

‎Kepada budaya barat, jatuh cinta pada gaya hidup si mata biru. Dan ternyata para teman sebaya juga seperti aku. 

‎Hatiku tidak terasa telah terjajah, dan mereka, teman sebaya 

‎Telah terjajah hatinya 

‎Sehingga datanglah… terbingkailah 

‎Indonesia masa kini 

‎Indonesia yang selalu kucemaskan 

‎Indonesia yang mereka harapkan 

‎Seperti selalu dikisah-kisahkan oleh guru sejarah kami tidaklah sama seperti Indonesia pada saat ini:  Indonesia pada puluhan tahun lalu, ada korupsi bersembunyi di balik taplak meja, dan hari ini,  ada korupsi di alam terbuka 

‎Bahkan ada kompetisi korupsi 

‎Derajat hidup melambung 

‎Harus berlimpah uang 

‎Dan segunung materi 

‎Hal itu semuanya disebabkan 

‎Karena aku dan para teman sebaya 

‎Selalu membangun dan membentuk badan dengan pilar-pilar hewani  

‎Aku dan para teman sebaya 

‎Lupa membangun jiwa 

‎Untuk Indonesia Raya 

‎Tumpah darah yang kan jadi sejarah 

‎Atau kenangan 

‎Hari ini, suara lagu Indonesia Raya 

‎Perlahan menjauh dipeluk dan 

‎Diseret angin senja 

‎Ia hanya menggema di setiap hati 

‎Tidak terucap, karena telah dijemput angin 

‎Aku, dan para teman sebaya 

‎Hanya bisa melihat Indonesia 

‎Dari balik jendela sekolah 

‎Berupa selembar peta 

‎Yang bersandar di sebuah tembok kusam 

‎Mari membangun jiwa 

‎Mari merawat badan kita 

‎Ayo mengguncang dunia 

‎Dengan ujung pena 

‎Agar tercipta merdeka 

‎Dari sebuah kota 

‎Untuk Indonesia Raya 

‎Yang sebenarnya…..

‎Situbondo, medio September 2025

Tentang Penulis
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist