• Latest
Pagi yang Cerah di Desa Harmonis

Pagi yang Cerah di Desa Harmonis

Januari 11, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pagi yang Cerah di Desa Harmonis

Redaksiby Redaksi
Januari 12, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRETLiterasi
Pagi yang Cerah di Desa Harmonis
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Almira Bellviana Putri
(Pelajar SMPN 3 Cepu Kabupaten Blora, Jawa Tengah

Di kaki bukit yang hijau, berdirilah sebuah desa kecil bernama Desa Harmonis. Desa ini terkenal dengan kerukunan warganya yang hidup berdampingan meski memiliki latar belakang yang berbeda. Di sana, setiap pagi selalu terasa istimewa, terutama bagi Anakmami’s -anak seperti Rani, Dika, dan Komang.

Pagi itu, sinar matahari menyapu lembut pepohonan, dan burung-burung berkicau ceria di dahan. Rani, seorang anak perempuan yang ceria, melangkah keluar dari rumahnya sambil membawa keranjang kecil berisi kue putu buatan ibunya. Ia berencana membaginya kepada teman-temannya.

“Dika! Komang! Aku membawa kue putu! Kita sarapan bersama di bawah pohon beringin!” seru Rani sambil melambaikan tangan.

Tak lama, Dika, yang tinggal di seberang rumah Rani, keluar sambil membawa beberapa lemper. “Aku juga punya makanan, Rani! Ayo kita makan bersama!” katanya dengan penuh semangat.

Komang, yang tinggal di ujung jalan, muncul dengan senyum lebar. Ia membawa buah pisang dari kebunnya. “Aku punya pisang segar! Ini dari kebun Ayah!” ujarnya sambil berlari kecil menghampiri teman-temannya.

Ketiga anak itu bertemu di bawah pohon beringin yang besar, tempat favorit mereka bermain. Mereka menggelar tikar kecil dan mulai berbagi makanan.

“Aku suka lemper buatan ibumu, Dika! Rasanya enak sekali,” kata Komang sambil menggigit lemper.

“Ibuku bilang, makanan itu lebih nikmat kalau dimakan bersama teman,” jawab Dika sambil tersenyum.

Baca Juga

Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026

Aku Merindu

Maret 17, 2026

Saat mereka menikmati makanan, suara Pak Hadi, kepala desa, terdengar dari pengeras suara di balai desa. “Perhatian warga Desa Harmonis, hari ini kita akan mengadakan kegiatan gotong royong di lapangan. Mari kita berkumpul setelah sarapan!”

“Wah, kita ikut, ya!” kata Rani.

Ketiganya segera membereskan tikar dan berlari ke lapangan. Di sana, sudah banyak warga yang berkumpul. Ada Pak Hasan, Pak I Made, Bu Clara, dan banyak lagi. Meski berbeda agama, suku, dan budaya, semua warga terlihat kompak.

“Anak-anak, kalian membantu menanam bunga di sekitar lapangan, ya,” kata Pak Hadi.

“Siap, Pak Hadi!” jawab mereka serempak.

Rani, Dika, dan Komang mulai menggali lubang kecil untuk menanam bibit bunga. Mereka bekerja sambil bercanda dan saling membantu. Ketika Dika kesulitan menggali tanah yang keras, Komang langsung membantunya.

“Terima kasih, Komang! Kalau kita saling bantu, pekerjaan jadi lebih mudah,” kata Dika.

“Betul! Seperti kata Ayahku, kerja sama itu kunci keharmonisan,” balas Komang sambil tersenyum.

Setelah beberapa jam, bunga-bunga mulai tertanam rapi di tepi lapangan. Warga lain pun menyelesaikan tugas mereka, seperti membersihkan parit dan memperbaiki pagar. Lapangan desa kini terlihat lebih indah dan rapi.

Ketika pekerjaan selesai, Pak Hadi berdiri di tengah lapangan dan berkata, “Warga Desa Harmonis, terima kasih atas kerja sama kalian. Hari ini kita telah membuktikan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk hidup rukun. Desa kita menjadi contoh bahwa dengan toleransi, kita bisa mencapai banyak hal.”

Semua warga bertepuk tangan dengan riang. Anak-anak pun bersorak gembira.

Saat matahari mulai condong ke barat, Rani, Dika, dan Komang duduk di bawah pohon beringin, menikmati pemandangan lapangan yang kini penuh warna.

“Menurut kalian, apa yang membuat desa kita begitu damai?” tanya Rani sambil memandang teman-temannya.

“Karena kita saling menghormati,” jawab Dika sambil tersenyum.

“Dan karena kita selalu bekerja sama,” tambah Komang.

Rani mengangguk setuju. “Aku senang tinggal di Desa Harmonis. Di sini, semua orang seperti keluarga.”

ADVERTISEMENT

Hari itu berakhir dengan kebahagiaan dan rasa syukur di hati setiap warga Desa Harmonis. Pagi yang cerah telah membawa semangat baru untuk terus menjaga kerukunan dan kebersamaan. Bagi Rani, Dika, dan Komang, pagi itu adalah bukti indahnya hidup berdampingan dalam harmoni.

TAMAT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Memotret ‘Majalah POTRET

Memotret 'Majalah POTRET

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com