Artikel · Potret Online

Meneladani Prof. Dr.Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie

Penulis  Ir Azhar
Juni 7, 2026
6 menit baca 31
722917e2-5c91-4b1f-bf8f-ad430c677fac
Foto / IlustrasiMeneladani Prof. Dr.Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie
Disunting Oleh

Oleh Ir. Azhar, M.T.

Dosen Pada Fakultas Teknik Universitas Lampung

Di mesin pencari Google, entry “Habibie” merupakan yang paling banyak muncul dengan sekitar 4.550.000 hasil, disusul “B.J. Habibie” (1.910.000), “Presiden Habibie” (1.420.000), “Presiden B.J. Habibie” (868.000), dan “Prof. Dr. B.J. Habibie”(329.000) sebagai yang paling sedikit.

Data tersebut menunjukkan bahwa nama Habibie atau B.J. Habibie sangat membekas dalam ingatan publik. Data itu juga mengindikasikan bahwa identitasnya sebagai presiden (yang menjabat hanya selama 17 bulan) jauh lebih dikenal dibandingkan identitasnya sebagai akademisi. 

Padahal, sebelum memasuki dunia politik, Habibie telah terlebih dahulu menorehkan reputasi internasional sebagai ilmuwan dan insinyur. Di sinilah muncul sebuah pertanyaan menarik: mengapa Habibie lebih populer dalam ingatan publik sebagai presiden daripada sebagai akademisi?

Menariknya, pertanyaan ini sebenarnya dapat dijawab dari perspektif sosiologis: jabatan presiden berada di ruang publik yang sangat terlihat (high visibility), sedangkan prestasi akademik umumnya berada di ruang yang lebih terbatas dan spesialis. 

Masyarakat luas lebih mudah mengingat seseorang yang pernah memimpin negara daripada seseorang yang menghasilkan teori, penelitian, atau inovasi teknologi, betapapun besar kontribusinya. Karena itu, popularitas Habibie sebagai presiden tidak serta-merta berarti prestasi akademiknya lebih kecil; melainkan karena jabatan presiden memiliki daya jangkau simbolik yang jauh lebih luas dalam ingatan publik.

Justru di situlah letak keunikan Habibie: ia adalah sedikit tokoh Indonesia yang berhasil menyeberangi dua dunia sekaligus—dunia akademik-teknologis dan dunia politik kenegaraan—meskipun dalam memori kolektif bangsa, identitas yang kedua tampaknya lebih dominan daripada yang pertama.

Sebagai pembanding, berdasarkan total hasil pencarian Google untuk berbagai variasi penyebutan nama, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menempati posisi teratas dengan sekitar 15,24 juta hasil pencarian. Ia disusul oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan 7,28 juta hasil, kemudian Presiden Soeharto/Suharto dengan 4,12 juta hasil, dan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan 2,65 juta hasil. 

Dengan demikian, dalam ruang digital, penyebutan Presiden Jokowi tampak paling dominan dibandingkan ketiga presiden tersebut.

Jika dilihat dari rasio jumlah kemunculan terhadap lama masa jabatan, didapati bahwa Presiden Jokowi berada di posisi teratas dengan sekitar 1,52 juta kemunculan per tahun masa jabatan, disusul sangat dekat oleh Presiden Gus Dur dengan 1,51 juta kemunculan per tahun, kemudian Presiden SBY dengan 728 ribu kemunculan per tahun, dan Presiden Soeharto dengan sekitar 137 ribu kemunculan per tahun masa jabatan. 

Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat kemunculan dalam ruang digital tidak selalu sejalan dengan lamanya seseorang memegang kekuasaan.

Adapun untuk Presiden Habibie, rasio tersebut adalah 1.613.000 entry per tahun masa jabatan. Artinya, popularitasnya di jagat digital tidak dibangun oleh lamanya berkuasa, melainkan oleh kuatnya kesan yang ditinggalkan dalam ingatan publik. 

Habibie menunjukkan bahwa daya hidup seorang tokoh dalam memori kolektif bangsa tidak selalu ditentukan oleh panjangnya masa jabatan, tetapi oleh makna yang dilekatkan masyarakat pada dirinya.

Lantas, apa yang membuat Habibie tetap hidup dalam ingatan publik, bahkan melampaui batas-batas masa jabatannya yang relatif singkat? Salah satu jawabannya adalah karena Habibie tidak hanya hadir sebagai seorang presiden. 

Dalam ingatan masyarakat, ia adalah perpaduan yang langka antara ilmuwan, teknokrat, negarawan, dan sosok manusia yang kisah hidupnya menyentuh emosi publik. Banyak presiden dikenang karena kekuasaan yang mereka pegang, tetapi Habibie juga dikenang karena gagasan yang ia bawa, teknologi yang ia kembangkan, serta keteladanan pribadi yang ia tampilkan. Kombinasi inilah yang membuat namanya terus bergema jauh setelah ia tidak lagi berada di panggung kekuasaan.

Jawaban lainnya adalah terletak pada peran historis yang dimainkan Habibie pada masa transisi Reformasi. Ia memang hanya memimpin Indonesia selama sekitar 17 bulan, tetapi 17 bulan itu berlangsung pada salah satu periode paling krusial dalam sejarah republik. 

Ketika Habibie dilantik sebagai presiden pada 21 Mei 1998, Indonesia sedang berada dalam situasi yang tidak menentu. Krisis ekonomi melumpuhkan kehidupan masyarakat, kepercayaan terhadap negara merosot, dan tuntutan perubahan politik bergema di berbagai daerah. 

Dalam kondisi demikian, Habibie tidak sekadar melanjutkan pemerintahan yang ada, melainkan mengelola proses transisi dari rezim Orde Baru menuju era Reformasi.

Dalam masa pemerintahannya, sejumlah perubahan mendasar terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Pembatasan terhadap kebebasan pers mulai dilonggarkan, pembentukan partai politik baru dibuka, pemilihan umum yang lebih demokratis diselenggarakan, dan berbagai perangkat hukum yang menopang sistem politik sebelumnya mulai direvisi. 

Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai kebijakan-kebijakannya, banyak perubahan yang kemudian menjadi fondasi kehidupan demokrasi Indonesia modern berakar pada periode transisi tersebut.

Faktor lain yang membuat nama Habibie menonjol dalam sejarah Indonesia adalah kemampuannya mengelola krisis ekonomi yang diwarisinya. Ketika dilantik sebagai presiden pada 21 Mei 1998, nilai tukar rupiah berada pada titik terlemah dalam sejarah Indonesia modern, berada di kisaran Rp16.000–Rp17.000 per dolar AS. 

Namun dalam masa pemerintahannya yang hanya berlangsung sekitar 17 bulan, rupiah berhasil menguat hingga berada di kisaran Rp6.500 per dolar AS.

Penguatan rupiah tersebut bukanlah hasil dari satu kebijakan tunggal. Pemerintahan Habibie melakukan serangkaian langkah untuk memulihkan kepercayaan pasar, antara lain restrukturisasi sektor perbankan, penanganan utang, pelaksanaan reformasi ekonomi yang telah disepakati dengan IMF, pembukaan ruang politik yang lebih demokratis, serta penguatan independensi Bank Indonesia. 

Langkah-langkah tersebut perlahan mengurangi ketidakpastian yang selama krisis menjadi salah satu penyebab utama tekanan terhadap rupiah.

Yang menarik, keberhasilan tersebut dicapai bukan pada saat ekonomi sedang normal, melainkan ketika Indonesia baru saja keluar dari kerusuhan sosial, krisis perbankan, dan krisis kepercayaan terhadap negara. Karena itu, ketika masyarakat mengingat Habibie, banyak yang tidak hanya mengingatnya sebagai presiden, melainkan sebagai pemimpin yang berhasil membawa rupiah keluar dari kisaran Rp17.000 per dolar AS menuju sekitar Rp6.500 per dolar AS dalam waktu yang relatif singkat.

Apakah semua itu menunjukkan bahwa Habibie adalah orang pintar? 

Jawabannya: iya. Namun, kepintaran saja tidak cukup. Banyak ilmuwan yang cerdas, banyak akademisi yang memiliki gelar tinggi, dan banyak profesional yang menguasai bidangnya masing-masing. Akan tetapi, tidak semua memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab pada saat bangsa menghadapi krisis. 

Tidak semua pula memiliki keberpihakan yang kuat kepada kepentingan negara ketika harus memilih di antara berbagai kepentingan yang saling bertabrakan.

Keberhasilan Habibie adalah perpaduan antara kecerdasan, keberanian, dan keberpihakan kepada negara. Kecerdasan membuatnya mampu memahami persoalan. 

Keberanian membuatnya berani mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Sementara keberpihakan kepada negara memastikan bahwa seluruh kemampuan yang dimilikinya diabdikan untuk kepentingan bangsa. Inilah yang membedakan seorang ilmuwan yang hebat dari seorang negarawan yang besar.

Dalam konteks Indonesia hari ini, mungkin tidak semua orang dapat menjadi ilmuwan sekelas Habibie. Tidak semua orang pula memiliki kesempatan memimpin negara. Namun setiap orang dapat meneladani tiga hal yang menjadi inti kekuatannya: terus belajar untuk meningkatkan kapasitas diri, berani mengambil tanggung jawab ketika keadaan menuntut, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Itulah warisan yang paling relevan dari Habibie bagi generasi masa kini. 

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Tempat jatuh lagi dikenang, inikan pula tempat bermain.

—-*

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...