Artikel · Potret Online

Trust Lebih Penting daripada Angka: Dengarkan Juga Nasihat SBY

Penulis Didik J. Rachbini
Juni 7, 2026
4 menit baca 8
1001591586_11zon
Foto / IlustrasiTrust Lebih Penting daripada Angka: Dengarkan Juga Nasihat SBY
Penulis: Didik J. Rachbini
Ekonom Senior INDEF | Rektor Universitas Paramadina

Pasar modal Indonesia sedang mengalami tekanan yang sangat serius. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pernah berada di kisaran 9.200 poin merosot tajam hingga mendekati level 5.900 poin. Penurunan yang berlangsung selama berbulan-bulan ini tampaknya masih dianggap biasa oleh sebagian kalangan, seolah belum ada sense of crisis terhadap situasi yang berkembang.

Yang lebih mengkhawatirkan, saham-saham perbankan besar juga mengalami penurunan signifikan. Investor asing terus mengurangi eksposur mereka di pasar keuangan Indonesia. Fenomena ini menunjukkan adanya persoalan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar pergerakan angka-angka ekonomi.

Masalah utamanya adalah kepercayaan atau trust.

Di balik jatuhnya indeks saham dan melemahnya nilai tukar rupiah, terdapat sinyal kuat bahwa kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan tata kelola kebijakan sedang mengalami penurunan. Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, termasuk mengintervensi pasar dan menggunakan cadangan devisa untuk menjaga nilai tukar. Namun, respons pasar tetap negatif.

Kondisi ini mengajarkan satu hal penting: dalam ekonomi modern, kepercayaan sering kali lebih menentukan daripada angka-angka statistik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya tidak terlalu buruk. Berbagai indikator makroekonomi juga masih relatif terjaga. Namun ketika kepercayaan menurun, investor tetap memilih pergi. Sebaliknya, banyak negara memiliki tingkat utang dan defisit anggaran yang tinggi, tetapi mata uang mereka tetap kuat karena investor percaya pada kredibilitas pemerintah dan institusi yang ada.

Karena itu, upaya membangun kembali kepercayaan harus menjadi prioritas utama.

Pasar saat ini menunggu jawaban atas sejumlah pertanyaan mendasar. Apakah kebijakan ekonomi pemerintah akan dijalankan secara konsisten? Apakah arah kebijakan tidak mudah berubah akibat tekanan kelompok-kelompok kepentingan politik? Apakah pengelolaan fiskal dilakukan secara hati-hati dan disiplin?

Pasar juga memperhatikan apakah prinsip getting institutions right benar-benar dijalankan. Mereka ingin melihat lembaga-lembaga negara yang independen bekerja secara profesional dan kredibel. Kepastian hukum menjadi faktor yang tidak kalah penting. Investor ingin memastikan bahwa investasi dan hak-hak privat mendapatkan perlindungan yang memadai.

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan baik, maka kepercayaan akan kembali hadir. Pasar akan pulih, investor akan kembali masuk, dan stabilitas ekonomi dapat diperkuat.

Pengalaman masa lalu memberikan pelajaran berharga. Ketika saya menjadi anggota Tim Nasional Reformasi Presiden Habibie di bidang ekonomi berdasarkan Surat Keputusan Presiden, berbagai langkah reformasi dilakukan secara serius. Demokrasi mulai dibangun, tahanan politik dibebaskan, bank sentral yang independen dibentuk, dan undang-undang antimonopoli diterbitkan untuk melawan praktik monopoli serta oligarki.

Hasilnya sangat nyata. Nilai tukar rupiah yang sempat berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS menguat hingga sekitar Rp6.500 per dolar AS. Pemulihan tersebut terjadi karena kepercayaan berhasil dibangun kembali.

Dalam konteks itulah nasihat Presiden SBY patut didengarkan. Selama bertahun-tahun, SBY memilih tidak mengomentari kebijakan pemerintah sebagai bentuk etika seorang mantan presiden. Beliau berpendapat bahwa pemerintah yang sedang berkuasa harus diberi ruang untuk menyelesaikan persoalannya sendiri.

Namun kali ini, SBY merasa perlu menyampaikan pandangan demi kepentingan bangsa. Pesan yang disampaikannya sederhana tetapi sangat penting: pulihkan kepercayaan pasar.

SBY berulang kali menegaskan bahwa ekonomi bukan hanya soal kebijakan fiskal dan moneter. Yang lebih penting adalah kepercayaan. Jika pasar melihat adanya kepastian hukum, konsistensi kebijakan, tata kelola pemerintahan yang baik, serta komunikasi publik yang kredibel, maka kepercayaan akan kembali tumbuh.

Sebaliknya, jika keraguan terus meningkat, maka modal akan keluar dari pasar keuangan domestik. Permintaan terhadap valuta asing meningkat dan tekanan terhadap rupiah menjadi semakin besar. Gejala inilah yang saat ini terlihat melalui pelemahan nilai tukar dan penurunan indeks saham.

Pasar juga mencermati secara detail bagaimana pemerintah mengelola APBN. Sesungguhnya APBN bukan sekadar dokumen anggaran, melainkan dokumen kepercayaan. Cara pemerintah mengelolanya akan membentuk persepsi investor terhadap masa depan ekonomi Indonesia.

Jika belanja negara meningkat tanpa kendali, berbagai program baru diluncurkan tanpa evaluasi yang memadai, sementara proses pengawasan politik berjalan lemah, maka pasar akan merespons secara negatif. Sebaliknya, pasar akan memberikan kepercayaan apabila APBN dikelola secara terukur, defisit dijaga dalam batas aman, penerimaan negara kredibel, dan seluruh prosesnya dijalankan secara transparan serta akuntabel.

Pada akhirnya, akar persoalan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini adalah masalah kepercayaan. Memang terdapat faktor eksternal berupa tekanan ekonomi global. Namun respons investor menunjukkan bahwa faktor domestik memiliki peran yang sangat besar.

Ketika kepercayaan menurun, investor asing memilih mengurangi eksposur mereka terhadap Indonesia. Mereka yang telah memperoleh keuntungan selama ini lebih memilih keluar daripada menanggung risiko yang dianggap meningkat. Akibatnya, pasar saham tertekan, permintaan dolar meningkat, dan rupiah melemah.

Karena itu, jalan keluarnya tidak hanya terletak pada instrumen fiskal dan moneter. Yang lebih mendasar adalah membangun kembali kepercayaan melalui tata kelola yang baik, institusi yang kredibel, kepastian hukum, dan kebijakan yang konsisten.

Sebab pada akhirnya, trust lebih penting daripada angka.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Didik J. Rachbini
Ekonom Senior INDEF, Rektor Universitas Paramadina
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...